Wisata Dunia Lain, Menyeramkan Tapi bikin Penasaran

0
1363

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sebagian besar masyarakat Indonesia, memang doyan dengan sesuatu yang berbau misterius, menyeramkan, maupun hal yang tidak biasa. Mulai tradisi, cerita rakyat, adat pemakaman, hingga mitos urban masa kini terkait tempat-tempat angker.

Bagi orang tertentu, wisata dunia lain dianggap sebagai tantangan hidup, juga ada yang menafsirkan wisata dunia lain justru akan dapat mendatangkan keuntungan. Sebaliknya bagi yang takut, jangankan berwisata, mendengar saja kadang-kadang berdiri bulu romanya.

Dunia tak nyata adalah segmen kehidupan lain. Jika tengah malam ada suara aneh memanggil namanya, mengetuk pintu, menelepon panjang, dan kejadian aneh lainnya – sering membuat bulu kuduk merinding. Itu baru sesuatu yang melalui suara tidak wajar, akan lebih seru lagi kalau sesuatu itu menampakkan diri dalam bentuk aneh, kita bisa ketakutan dan ingin lari terbirit-birit.

Manusia memang memandang sesuatu itu sebagai dunia lain. Yakni, dunia supranatural yang misterius. Keganjilan makhluk dunia lian ini disebabkan dia bisa melihat manusia, dan manusia tidak bisa melihat hantu secara langsung. Hanya orang-orang tertentu yang diberi kelebihan dalam hal-hal gaib, yang mampu melihat makhluk halus.

Wisata dunia lain, ternyata kini banyak diminati wisatawan lokal, nasional maupun internasional. Terlebih lagi, kalau dunia lain itu berada pada kawasan wisata, jelas akan menjadi sebuah daya pikat wisatawan.

Tidak sedikit wisatawan yang hadir ke belahan bumi ini karena terdorong rasa ingin tahu dunia lain tersebut. Tidak ketinggalan pula ketika di Alun-Alun Utara Yogyakarta dan Alun-alun Dwi Windu Bantul, pernah ada pameran dunia hantu amat diminati banyak orang.

Padahai, event semacam ini sebenarnya telah dipoles ke arah rekayasa misteri, tetapi mampu menyedot pengunjung maupun wisatawam. Apalagi kalau dunia gaib dan mahluk halus itu berada pada alam natural, berupa tradisi mistik kejawen, tentu jauh lebih menarik wisatawan.

Sedikitnya ada lima destinasi wisata dunia lain, yang sering disebut paling angker di tanah air.

Mumi Berjalan, Tana Toraja

Ma’nene merupakan ritual adat tahunan suku Toraja untuk mengganti baju dan menuntun mumi berjalan. Ritual ini biasanya diadakan setiap bulan Agustus di Rindingallo atau Baruppu, Toraja Utara, untuk merayakan masa panen.

Menurut legenda, berabad-abad silam, ketika sedang berburu di hutan gunung Balla, Pong Rumasek menemukan jenazah manusia yang tinggal tulang belulang. Untuk menghormati jenazah itu, Pong Rumasek memakaikan baju padanya dan menyemayamkannya di gua yang layak. Sebagai balasan, arwah para leluhur melawat Pong Rumasek setiap kali dirinya pergi berburu dan melancarkan perburuannya.

Dahulu kala, orang Toraja mengarungi pegunungan asalnya dengan berjalan kaki, tanpa mengenal kendaraan.Terkadang, salah satu anggota rombongan meninggal di tengah perjalanan. Orang-orang yang masih hidup dengan hormat menuntun jenazahnya berjalan kaki pulang supaya bisa disemayamkan di gua pemakaman yang mengeluarkan zat-zat pengawet.

Kini, Ma’nene seolah meneruskan fenomena ini untuk menghormati leluhur dan saudara yang sudah tiada. Walaupun identik dengan budaya ritual kematian, Tana Toraja di pandang kebanyakan pengunjung sebagai destinasi indah yang layak dikunjungi.

Kampung Beting, Pontianak

Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri, yang namanya kini disandang oleh Masjid Jami di Kampung Beting, adalah pendiri Kesultanan Pontianak dari abad ke-18. Ketika mendakwahkan Islam di wilayah kekuasaan barunya pada tahun 1771, Sultan dan para pengikutnya mengarungi Sungai Kapuas ke tempat angker bernama Pulau Batu Layang.

Menurut legenda, Sultan diganggu oleh setan puan mati beranak ketika akan melaksanakan sholat subuh. Maka Sultan dan pengikut-pengikutnya menyerang pulau itu dengan meriam untuk menjauhkan roh-roh jahat.

Sultan kemudian turun ke muara pertemuan Sungai Kapuas dengan Sungai Landak, dan membangun masjid serta keraton di atas deltanya. Perkampungan di sekitarnya menjadi rakyat kesultanan yang baru, yang dinamainya Pontianak.

Kawasan itu kini dikenal sebagai Kampung Beting, perkampungan tropis di atas air di mana hal-hal yang sakral dan yang profan eksis secara berdampingan.

Lawang Sewu, Semarang

Lawang Sewu dibuka pada 1907 sebagai kantor dari Maskapai Kereta Api Belanda. Pada zaman perjuangan 1945, tempat ini pernah menjadi lokasi pembantaian tentara Jepang, dan sejak itu dikenal sebagai tempat yang angker.

Gedung bergaya art deco berbentuk huruf L ini, dulu didirikan oleh arsitek Belanda JF Klinkhamer dan BJ Ouendag, dan baru di renovasi tahun 2009-2011, setelah dibiarkan tak terawat selama bertahun-tahun.

Sekarang, Lawang Sewu dianggap sebagai ikon arsitektur di jantung kota Semarang, berdiri gagah di Komplek Tugu Muda yang berlokasi di tengah-tengah kota.

Waruga Sawangan, Minahasa

Waruga yang dapat ditemui di Sawangan, Airmadidi (sekitar 20 kilometer ke tenggara Manado) merupakan makam adat suku Minahasa. Monumen batu yang beratap seperti rumah ini, bisa menampung hingga lima jenazah dalam posisi meringkuk, dan biasanya dihias dengan lambang nama keluarga dan ukiran yang menggambarkan profesi almarhum.

Hebatnya, beberapa waruga sudah ada sejak tahun 1600. Namun, prakteknya mulai dilarang oleh pemerintah Belanda sekitar tahun 1860 akibat wabah tifus dan kolera.

Karena kekurangan dana dari pemerintah, pemeliharaan monumen dan taman yang sebenarnya indah ini jadi terbengkalai, sehingga tercipta kesan sebagai tempat yang angker. Dalam kompleks taman waruga juga ada museum kecil yang memamerkan benda-benda yang pernah dikubur dalam waruga.


Mumi Aikima, Lembah Baliem

Wilayah Jayawijaya merupakan tempat asal mumi suku Dani, tepatnya di desa Aikima yang berada sekitar 5 kilometer di barat laut Wamena. Wilayah Lembah Baliem ini, dikelilingi oleh pegunungan megah yang dipercaya merupakan tempat bersemayamnya arwah para leluhur.

Bentangan alam indah yang dilabel sebagai ‘tempat angker’ oleh kepercayaan setempat, sejatinya bertujuan agar tidak dirusak tangan jahil manusia.

Menurut tradisi suku Dani, hanya orang tertentu yang dianggap pahlawan oleh masyarakat setempat yang boleh dimumikan. Jenazah orang-orang lain pada umumnya dikremasi dalam upacara khusus berdurasi 40 hari, kemudian abunya ditampung dalam labu kecil panjang sebagai jimat untuk menarik roh penunggu rumah.

Ada tujuh mumi yang diketahui terdapat dikawasan Wamena, dimana kebanyakan ternuka untuk dikunjungi oleh wisatawan. Namun, ada satu mumi yang sangat yang dijaga sebagai pusaka keramat oleh keturunannya, sehingga tidak boleh dilihat orang luar. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.