Wisata Belaja di Mal Kian Sepi akibat Strategi Zadul

0
347
wisata belanja

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Pembangunan pusat perbelanjaan pernah mengalami lonjakan luar biasa. Berdasarkan data tahun 2010, di Jakarta terdapat lebih dari 170 mal atau setara lahan seluas 4 juta m2. Wisata belanja pun marak, malah berbagai event Great Sale untuk menyemarakan masyarakat berbelanja dengan diskon luar biasa.

Alih-alih menekan pertumbuhan mal dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2011, pengembang justru kian gencar melakukan pembangunan. Pada 2013, mal di Jakarta terus bertambah mencapai 564 unit.

Lonjakan itu disebabkan kecenderungan masyarakat yang kerap menjadikan mal bukan jadi wisata belanja namun justru sebagai obat depresi dan stres, mengilangkan kepenatan berbagai persoalan yag dihadapinya. Rata-rata orang Jakarta, mayoritas perempuan, menghabiskan sekitar tiga jam setiap kali mengunjungi mal.

“Sayangnya, pengembang mengabaikan tren pada masyarakat yang tinggal di megapolitan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat,” papar Marketing Director Green Pramuka City Jeffry Yamin Jeffry dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Selasa (26/09/2017).

Pengembang juga abai terhadap era digitalisasi yang semakin menguat. Ironisnya, para pengembang malah menuding belanja daring (online) sebagai kambing hitam. “Mereka tidak menyadari hal itu terjadi karena jumlah mal yang terlalu banyak dan perubahan gaya hidup masyarakat kota besar,” tukas Jeffrey.

Sama seperti di Jakarta, lanjutnya, sejumlah mal mengalami penurunan pengunjung bukan karena daya beli masyarakat turun. Akibat utamanya, strategi pengembang properti dinilai ketinggalan zaman alias zadul karena menutup mata dari perubahan.

Penduduk kota besar saat ini cenderung ingin praktis dan lebih gemar menyisihkan uang untuk kesehatan atau menghibur diri dengan olahraga dan piknik. Itu sebabnya diperlukan strategi khusus agar tetap memenangkan pasar. “Karena itu, sejak awal pembangunan Green Pramuka langsung menerapkan konsep one stop living,” cetus Jeffrey.

Konsep tersebut sebetulnya sudah terjadi di Jakarta sejak era 1990-an. Dengan integrasi antara apartemen dan mal membuat para penghuni tidak banyak menghabiskan waktu di jalan.

Green Pramuka pun mendukung shelter transportasi massal bagi penghuni. “Contohnya, bus Damri menuju Bandara Soekarno-Hatta hingga shelter layanan kendaraan online. Hasilnya, kemacetan berkurang dan masyarakat lebih produktif,” pungkasnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here