Wisata Bahari, Besar Potensi Kecil Konstrubusi

0
1416
Wisata bahari di Sumba Lombok yang masih alami

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Tak ada negara kepulauan di dunia ini, seperti Indonesia. Luas wilayah lautnya 3,1 juta kilometer persegi, dihiasi 17.504 pulau tersebar dari barat (Sabang) sampai Timur (Marauke), garis pantainya sepanjang 95.181 kilometer. Ditambah kekayaan biota di bawah laut luar biasa indahnya.

Nama-nama beken dan keren, bagi wisatawan pecinta wisata bahari sudah begitu terpatri di hati. Sebut saja Pulau Weh di Aceh, Mandeh di Sumbar, Bintan dan Anambas di Kepri, Tanjung Kelayang di Belitung, Tanjung Lesung di Banten, Karimunjawa di Jateng, Kepulauan Seribu di Jakarta dan lainnya.

Bahkan, Pantai Pulau Merah Banyuwangi, Gili-gili di Lombok, Komodo Labuan Bajo, Wakatobi Sultra, Derawan Kaltim, Selat Lembeh dan Bunaken Manado, Raja Ampat Papua Barat, Morotai, Pulau Mentawai Sumbar, Ujung Kulon dan Anak krakatau Banten. Pulau Karimunjawa di Jateng dan masih ratusan daftar wisata bahari lainnya yang menakjubkan.

“Nama-nama wisata bahari itu, kelas dunia semua!. Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang sesuai tujuannya. Ada yang diving, snorkling, surving, fishing, sailing, cruising, swimming, dan lainnya,” papar Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka pameran Deep and Extreme Indonesia 2016 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, akhir Maret 2016.

Belum lagi wisatawan nusantara (wisnus), juga melakukan aktivitas yang sama. Umumnya wisatawan kita suka berkumpul di pinggir pantai sambil menikmati suasana baru, cerita baru, keasyikan baru, keseimbangan baru di pantai dan ujungnya happy!

Memang ada perbedaan yang mencolok antara wisman dan wisnus jika ke pantai. Wisnus selalu bawa tikar, rantang isi makanan, lantas dimakan bersama-sama keluarga sambil menikmati gelombang laut, hamparan laut yang tanpa batas, panorama laut dengan bukit hijau, juga udara laut yang menyehatkan dan bermain di pasir dengan sesuka hati.

Tak bisa dipungkiri. Besarnya potensi kelautan Indonesia, jadi andalan utama untuk mengembangkan wisata bahari demi mencapai target 20 juta kunjungan wisman dan pergerakan wisnus sebanyak 275 juta pada tahun 2019. Sehingga harus bisa memberi kontribusi Produk Domestik Bruto Nasional 8%, devisa Rp 240 triliun, lapangan kerja 13 juta orang, indeks daya saing pariwisata Indonesia di ranking 30 dunia, harapnya.

Secara global, tren pariwisata bahari terus meningkat, termasuk kunjungan ke destinasi wisata bahari di Asia. Data kunjungan di destinasi pariwisata bahari unggulan di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam 3 tahun belakangan ini.

Taman Nasional Komodo jumlah kunjungan wisman naik 9,42% tahun 2013 capai 45.776 orang dibanding 2011 cuma 41.833 orang. Kepulauan Raja Ampat Papua Barat meningkat 56,48% dari 3.858 orang tahun 2010 menjadi 6.037 orang tahun 2012. Wakatobi naik 45,77% dari 2.274 orang tahun 2011 menjadi 3.315 orang tahun 2013. Sabang di Sumatera Utara meningkat 17,5% dari 3.932 wisman tahun 2010 menjadi 4.622 wisman tahun 2013.

Sayangnya peningkatan jumlah kunjungan wisata bahari jauh tertinggal dari Malaysia. Meski memiliki ribuan pulau dengan sumber daya alam bahari yang indah, tak bisa dijadikan jaminan bagi sebuah negara untuk mendapat keuntungan banyak dari bisnis pariwisata. “Keuntungannya belum maksimal. Imbasnya, hanya sedikit keuntungan yang bisa didulang masyarakat Indonesia dari potensi wisata bahari yang demikian besar,” ungkap Menpar.

Dilanjutkan, wisata bahari hanya menyumbang devisa negara sebesar 10 persen dari total devisa sektor pariwisata atau setara US$1 miliar. “Jumlah ini kalah jauh dibanding Malaysia yang menyumbangkan 40 persen devisa dengan nilai US$8 miliar,”.

Juga jumlah turir asing yang datang ke Indonesia, hanya menyumbang 10 persen atau setara 1 juta dari total kunjungan wisman selama 2014. Dari jumlah itu, 60 persen wisman lakukan wisata pantai, 25 persen wisata bentang laut atau berwisata bahari dengan cruise, kapal motor atau yacht, 15 persen wisata bawah laut seperti snorkeling dan diving.

Padahal kekayaan alam bawah laut Indonesia belum bisa mengalahkan Malaysia, Thailand atau Singapura. Indonesia punya 33 destinasi utama penyelaman dengan lebih dari 400 operator, sementara Malaysia hanya punya 11 destinasi dan sekitar 130 operator. “Tapi kenapa sumbangan devisanya lebih besar mereka?” tanya Menteri Arief.

Di Malaysia, destinasi wisata bahari paling populer adalah Pantai Cherating, Port Dickson, Pantai Desaru, Tanjung Aru, Pulau Perhentian, hingga Rantau Abang. Thailand, umumnya para penyelam menuju ke Pulau Similan, Pulau Surin, Koh Lanta, Koh Phi Phi, serta Koh Tao. “Kita nggak kalah sama Malaysia, Thailand apalagi Singapura,” tuturnya.

Menurutnya, kelemahan Indonesia adalah keterlambatan, baik soal kemudahan akses menuju destinasi wisata bahari serta kelengkapan akomodasi di destinasi wisata bahari. “Kelemahan bangsa ini adalah lelet, kita harus akselerasi dengan cepat jika mau mendapatkan keuntungan lebih dari US$1 miliar,” ucap menteri memberi semangat.

Karenanya Menteri Pariwisata memberikan target kepada stakeholder pariwisata Indonesia dengan menetapkan target keuntungan yang ingin dicapai yakni sebesar US$4 miliar pada 2019. Kendati target itu, masih terpaut jauh dari keuntungan yang dimiliki oleh Malaysia.

“Saya ingin Indonesia jadi sebuah contoh di ranah bisnis wisata bahari dengan pertumbuhan tercepat. Saya ingin wisata bahari jadi terdepan karena kita negara kepulauan yang indah. Saya ingin kunjungan wisman grafiknya terus meningkat,” tegasnya.

Punci-pundi Rupiah

Rahmad S.Ik, Peneliti di Rokhmin Dahuri Institute mengakui potensi wisata bahari Indonesia luar biasa untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah, namun banyak tantangan dan permasalahan yang harus diatasi oleh stakeholders pariwisata bahari.

Tantangan itu, lanjut Rahmad, aksesbilitas ke lokasi wisata bahari baik pulau kecil, pesisir dan laut masih rendah dan sulit dijangkau. Juga, infrastruktur maupun sarana pembangunan di lokasi wisata bahari sangat buruk. Bahkan promosi dan pemasaran wisata bahari kurang memadai.

“Apalagi dukungan dan sinergi dari instansi pemerintahan terkait masih sangat kurang. Ditambah kualitas SDM pemerintah, operator dan masyarakat perlu ditingkatkan. Serta kurangnya koordinasi dan kerjasama lintas sektor untuk pengembangan pariwisata bahari,” ungkap S1 Ilmu dan Teknologi Kelautan, IPB.

Menurutnya, tidak adanya data statistik yang jelas dari pemerintah, terutama wisatawan asing yang datang ke Indonesia untuk berwisata bahari, sehingga sering terjadi adanya orang asing melakukan kegiatan usaha dengan visa wisata atau sebaliknya mereka melakukan bisnis dan wisata sekaligus. “Jelas ini sangat merugikan Indonesia, konstribusi yang seharusnya masuk ke negara, hilang begitu saja,” katanya.

Blogger pemerhati wisata bahari, Elissa Dayu Noviri mengaku bangga wisata bahari di era Presiden Joko Widodo mendapat perhatian serius, ketimbang ketimbang pemerintahan sebelumnya. Langkah maju ini harus didukung stakeholder wisata bahari. Tanpa dukungan wisata bahari tetap jalan ditempat.

Selain itu, lanjut dia, berbagai permasalahan di wisata bahari harus mendapat perhatian serius. Mengingat, wisata bahari berhadapan dengan batu sandungan alam yang tak bisa diremehkan begitu saja. Gelombang tinggi, badai, ombak yang tak bersahabat, ikan yang buas ganas, juga sampah kiriman dari laut.

Selain tantangan dari alam, juga akses menuju obyek wisata bahari yang masih banyak belum ada perbaikan. Juga masalah transportasi yang sangat sulit. “Saya pernah ke Pulau Moyo di Lombok. Akses menuju ke sana sangat payah, naik motor warga yang jalannya tanah, berbatu sehingga membahayakan keselamatan. Apalagi jika motor mogok atau bas kempes, ya tau sendiri resikonya karena itu di tengah hutan,” ucap Dayu.

Diungkapkan, saat pergi ke Kepulauan Anambas dekat Batam. Tiket pesawat dari Riau sudah dikantongi. Ternyata dicancel hampir 4 jam karena pesawat belum datang. Pesawat yang menjadi satu-satunya transportasi untuk mencapai tempat menyelam di Anambas hanya terbang satu kali sehari.

“Bukan hanya saya yang kecewa, ada beberapa turis dari Belgia, Itali dan Canada mengeluh. Seharusnya pemerintah peduli dengan pulau kecil di Indonesia dengan memperbaiki masalah transportasinya. Padahal, potensi pariwisatanya luar biasa. Selain transportasi juga promosinya. Karena saat saya tanya ke bule itu, mereka tau diving di Pulau Anambas dari internet asing, yang pernah kesitu,” sebut Dayu.

Dayu mengaku kerap mendengar kabar dari orang-orang di Kepulauan Maratua, Kalimantan Timur, bahwa yang peduli dengan potensi wisata bahari selam di Indonesia adalah orang asing, bukan pemerintah setempat.

“Bahkan ada orang Belanda ke Maratua melakukan riset tentang pengelolaan sampah. Mereka ngomong masih banyak warga buang sampah, seenaknya. Kalau sudah begini pasti tak ada lagi orang asing yang mau ke Maratua. Memang sadar wisata penduduk setempat masih kurang, saya nggak tau tugas siapa ini,” tanyanya.

Masalah lain yang juga belum diantisipasi yakni, masih banyak obyek wisata bahari belum memiliki tim penyelamat pantai atau penjaga pantai. “Ini harus segera dibentuk bagi setiap daerah yang memiliki wisata bahari, karena setiap ada wisatawan tenggelam di laut. Tak ada yang memberi pertolongan secara cepat. Setelah kejadian baru di Tim SAR datang,” ucapnya prihatin. (endy poerwanto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.