Wisata Bahari Berburu Paus Digarap Serius

0
512
Wisata berburu paus di Desa lamater NTT (Foto: .triptrus.com)

KUPANG, Bisniswisata.co.id: The Nature Conservancy (TNC) atau Taman Nasional Perairan (TNP) merangkul Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengembangkan wisata paus di Laut Sawu. Pasalnya, minat wisatawan mancanegara untuk melihat dari dekat mamalia terbesar di laut, sangat tinggi sehingga perlu digarap serius.

“Selama ini Laut Sawu menjadi tempat atraksi wisata paus yang menjanjikan di masa depan, sayangnya wisata paus belum banyak dikembangkan di perairan Indonesia,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu di Kupang, seperti dilansir laman Antaranews, Senin, (8/5/2017).

Menurut dia, pengembangan wisata paus dilakukan di Laut Sawu dengan fokus ke tiga kawasan yaitu Solor-Lewotobi di Kabupaten Florest Timur, Ile Ape-Lamalera di Kabupaten Lembata dan Paket Alor-Pantar di Kabupaten Alor.

Selain menawarkan pengamatan paus secara langsung, wisata itu juga rencananya akan dikombinasikan dengan budaya, aspek kelautan, reliji dan wisata alam. “Pemerintah provinsi NTT menyambut baik inisiatif pengembangan wisata ini karena diharapkan mampu mendongkrak pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah,” katanya.

Laut Sawu merupakan koridor migrasi bagi paus dan lumba-lumba. Berdasarkan hasil survei REA (Rapid Ecological Assessment) dilakukan TNC beberapa tahun terakhir mengidentifikasi sedikitnya 10 mamalia laut termasuk 14 spesies paus, tujuh spesies lumba-lumba dan satu spesies duyung.

Wisata paus dan lumba-lumba merupakan industri wisata maritim yang sedang berkembang pesat dan telah dikembangkan di 90 negara. Secara global, wisata itu berhasil menangguk keuntungan hingga Rp1,4 triliun.

Di Indonesia, aktivitas itu relatif baru meskipun sebenarnya bisa dikembangkan di wilayah-wilayah seperti Sunda Kecil, Laut Banda dan Raja Ampat. “Di Laut Sawu, paus berkembang biak sehingga cocok dikembangkan jadi wisata menonton paus,” katanya.

Karena itu, Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur juga disebut sebagai “kafe” bagi Paus biru (Balaenoptera musculus) sehingga perairan ini cocok dikembangkan menjadi wisata menonton Cetasea.

Tim Ekpedisi “The Underwater360 Group” bersama jajaran Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang berada di Bolok untuk meneliti pergerakan cetasea di dua taman nasional perairan di Indonesia timur tersebut dan mengembangkan potensi perairan setempat sebagai tempat pengembangan wisata berkelanjutan berbasis konservasi.

Tim ini beranggota 11 orang berasal dari sejumlah negara antara lain Australia, Singapura, Spanyol dan Tiongkok. Mereka terdiri dari penyelam bebas (freediver) Dada Li asal China dan Pepe Arcos asal Spanyol, penyelam (diver), peneliti cetasea dan peneliti wisata bahari dipimpin Ahli Cetasea yang juga Direktur APEX Environmental Benjamin Kahn. (*/ano)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.