Wasono Rahardjo: Omzet bisnis laundry capai miliaran rupiah per hari, kedua tertinggi setelah China

0
2510
Clean & Laundry Expo 2015 hadirkan alat-alat terkini bisnis laundry. Pertumbuhan kamar hotel signifikan berkontribusi pada bisnis laundry ( foto repro)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Bisnis laundry menjadi bisnis beromzet triliunan per har mencapai sekitar Rp 22 triliun/ hari seiring dengan pertumbuhan budget hotel hingga ke kota kabupaten dan rumah sakid daerah yang membutuhkan jasa pencucian secara prpfesional, kata Wasono Raharjo, Ketua Asosiasi Profesi Laundry Indonesia (APLI),  hari ini

“Perhitungan kami omzet per hari bahkan antara Rp 22-Rp 25 triliun per hari karena dalam dua tahun terakhir pertumbuhan budget hotel tinggi sehingga ada tambahan 30 ribu kamar hotel. Selain itu Rumah Sakit Umum Daerah juga merata di pelosok tanah air,” ungkapnya.

Pertumbuhan kamar hotel, ujarnya, cukup signifikan berkontribusi pada bisnis laundry begitu pula maraknya kehadiran Rumah Sakit Umum Daerah yang dibangun di berbagai pelosok di tanah air terutama kota-kota kabupaten.

“Di Jabodetabek saja ada 486 hotel dengan 72 ribu kamar yang harus dibersihkan setiap hari, begitu juga dengan rumah sakit di Jakarta maupun daerah. Kalau satu rumah sakit di Jakarta mencuci sekitar 2000 kg/ hari dan di daerah pukul rata 1000 kg/ hari dengan harga Rp 9000 /kg saja sudah berapa hitungannya,” kata Wasono.

Menurut dia, harga laundry yang di kenakan kalangan perhotelan pada tamu hotelnya bahkan bisa Rp 87.000 karena investasi yang digunakan untuk memberikan pelayanan dengan cepat dan prima juga bukan hal yang murah. Hotel Shangri-La Jakarta, misalnya membeli mesin laundry seharga Rp 5,7 miliar.

Khusus untuk rumah sakit, sambungnya, bisnis jasa laundry juga sangat berpotensi untuk dikembangkan di seluruh pelosok Tanah Air dengan memanfaatkan RSUD yang ada. Rata-rata per RSUD melaundry 1.000 kilo pakaian per hari dengan harga per kilo yakni Rp8.000-Rp 9000/kg sehingga baru dari hotel dan rumah sakit saja bisnis ini sudah mencapai puluhan triliun.

“Kalau di tingkat dunia, bisnis jasa laundry Indonesia hanya kalah bersaing dengan China karena di sana jumlah penduduk jauh lebih banyak dan pertumbuhan kamar hotel barunya juga tinggi.Pertumbuhan industri jasa laundry di China tahun 2013 capai 28%  seiiring dengan pembukaan 52.000 kamar hotel baru, sedangkan di Indonesia tumbuh 25%,”

Empat bisnis utama dalam jasa laundry saat ini adalah divisi perhotelan, divisi rumah sakit, divisi garment/tekstil dan divisi komersil. Tetapi saat ini divisi laundry kiloan menjadi yang terbesar dan terus tumbuh, tambahnya Wasono.

Selain itu, tantangan yang dihadapi APLI, saat ini adalah dalam hal pendidikan sumber daya manusia karena belum ada standar kompetensi dan sekolah khusus karena di sekolah SMK atau perhotelan hanya bagian mata pelajaran hospitality. Karena itu pihaknya kini melakukan training sendiri dan tengah membuat t standar kompetensi.

“Jadi alat-alat sedemikian mahal namun sekolah formalnya khusus laundry belum ada jadi inilah tantangan ke depan yang kita hadapi. Alhamdulilah kini dalam hal tekhnologi kita bisa mengikutinya apalagi nanti di Clean Expo dan Laundry di Jakarta International Expo, Kemayoran pada 26-28 Maret 2015 , semua brand dunia di bidang laundry ini hadir ikut pameran,” jelas Wasono.

Pemain kelas dunia untuk tekonologi mesin hadir seperti Kannegiesser, Jensen, Milnor, Image, Electrolux, Primus, Unimac, Girbau, dan Sailstar. Pemain dunia untuk layanan, dan bahan kimia seperti Ecolab, Sealed Air Diversey, Seitz, iClean juga hadir lagi.

Menyinggung bisnis laundry kiloan, saat ini banyak lahir pengusaha baru yang  memiliki potensi penghasilan yang lumayan besar. Dengan modal sekitar Rp 15 juta hingga Rp 20 juta, pengusaha laundry bisa mengantongi laba Rp 30 juta tiap bulannya.

“Saat audiensi dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk meminta beliau membuka Expo Clean & LaundryBisnis rumahan cuci kiloan belakangan ini menunjukkan peningkatan. Tidak hanya di daerah urban atau perkotaan, di pedesaan pun bisnis ini semakin banyak diminati oleh para ibu rumah tangga yang ingin mencari penghasilan sampingan di rumah.

“Makin banyaknya para pelaku usaha laundry maka mau tidak mau akan meningkatkan persaingan di antara para pebisnis tersebut,” jelas dia.

Wasono memberi tips bagi anda yang ingin memulai jasa pencucian baju agar terus berkembang sukses antara lain lokasi bisnis yang tepat. Sebaiknya berdiri di daerah strategis. Semisal daerah kampus atau kost-kostan yang ramai anak muda. Mahasiswa dan karyawan muda adalah calon pelangg, beliau menantang APLI untuk membuat model bisnis laundry di pelosok tanah air.

“Pertumbuhan hotel budget di tingkat Kabupaten serta banyaknya tumbuh rumah sakit membutuhkan jasa laundry yang profesional jadi kami siap menerima tantangan itu,” tegasnya. (hildasabri@yahoo.com)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.