Wage, Perjalanan Panjang Penggubah Indonesia Raya

0
351
Film Wage


JAKARTA, Bisniswisata.co.id:
Meski film Wage telah diputar di 120 layar bioskop se Indonesia, bertepatan dengan Hari Pahlawan namun tetap menarik menjadi bahan pembicaraan di kalangan sineas. Menariknya, film kisah nyata, sejarah bangsa dan perjalanan panjang lahirnya lagu kebangsaan, juga sebuah biopik Wage Rudolf (WR) Supratman yang mengisahkan perjalanan hidup WR Supratman sejak usia 10 tahun hingga akhir hayatnya.

Tak banyak referensi tentang WR Supratman, meskipun buku-buku sejarah menyebutkan bahwa nama itulah pencipta lagu “Indonesia Raya”. Itu sebabnya guru-guru sejarah yang menonton saat peluncuran film tersebut mengatakan bersyukur karena film tersebut sangat membantu dalam menjelaskan tentang tokoh W.R.Supratman kepada para siswa.

Wage, yang lahir tahun 1903 pada 9 Maret – tanggal itu kemudian jadi Hari Musik Nasional – adalah anak seorang tentara KNIL Belanda bernama Joemeno Kartodikromo. Karena itu, sejak kecil Wage tak dekat dengan ayahnya. Di dalam adegan awal film Wage digambarkan saat ayahnya ikut upacara KNIL menyanyikan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus van Nassouwe”, Wage kecil menyanyikan tembang Jawa “Lir Ilir” sambil menikmati es lilin di atas pohon. Begitu selesai upacara, sang ayah menghajar anaknya.

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara itu, lebih dekat dengan ibunya. Sayang ketika Wage berusia 10 tahun, ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu ia ikut kakaknya, Roekijem, seorang pemusik jazz yang menikah dengan Willem van Eldik, seorang pemusik Belanda. Wage juga ikut ketika Mbak Roe sekeluarga pindah ke Makassar. Pada masa itulah kedekatan Wage dengan musik khususnya biola dimulai.

Wage yang belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool sampai selesai, sempat menjadi pemain band kakaknya menghibur orang-orang Belanda. Ia mendapat uang banyak, bahkan bermabuk-mabukan seperti orang Belanda. Namun, ia tidak merasa bahagia. Setelah sempat menjadi guru di Sekolah.

Angka 2 dan setelah mendapat ijazah Klein Ambtenaar lalu bekerja di sebuah perusahaan dagang, ia memutuskan untuk bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita di Bandung.

Dalam pekerjaan barunya, ia mulai tertarik pada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda semakin tumbuh. Itulah yang ia tuangkan dalam novel Perawan Desa – yang kemudian disita oleh pemerintah Belanda dan dilarang beredar karena dianggap hasutan. Ia terus menjadi incaran Belanda, meskipun demikian ia tak berhenti mencipta lagu yang mengobarkan semangat, antara lain “Ibu Kita Kartini” yang sampai sekarang juga masih populer.

Puncaknya adalah saat datang tawaran dari Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 untuk menciptakan lagu kebangsaan. Tentu saja Wage tertantang. Namun, ternyata, situasinya sebagai buronan membuat ia yang ketika itu berusia 21 tahun tertekan dan kesulitan dalam menciptakan lagu kebangsaan.

Sampai suatu saat, ia melihat para pandai besi bekerja. Genta lempeng yang dipukul ditingkah percikan bara api, memberinya inspirasi hingga muncullah entakan semangat yang menjadi roh “Indonesia Raya”. Adegan ini sekaligus menjawab tuduhan bahwa irama “Indonesia Raya” adalah jiplakan dari lagu asing.

Tiga Stanza

Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” memang terdiri atas tiga stanza. Produser film ini, Andy Shafik, mengatakan bahwa salah satu inti penting film Wage adalah mengingatkan bahwa lagu asli ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan dalam tiga stanza. “Bukan berhenti hanya pada stanza pertama. Dua stanza berikutnya sangat penting karena justru berisi doa dan harapan bagi tanah air kita,” ujar Andy Shafik.

Tidak heran bila pada Hari Sumpah Pemuda 2017 Mendikbud Muhadjir Effendy menganjurkan agar masyarakat Indonesia menyanyikan lagu “Indonesia Raya” tiga stanza sebagai bagian dari pendidikan karakter. Kepada para siswa, Mendikbud mengatakan bahwa dengan menghayati seluruh syair, termasuk pada stanza kedua dan ketiga, diharapkan para siswa menjadi pribadi yang nasionalis dan cinta Indonesia.

“Ini adalah salah satu rangkaian dalam pendidikan karakter, karakter nasionalisme, karakter cinta Tanah Air, terpanggil untuk bela negara menjadi anak Indonesia yang punya tanggung jawab untuk Indonesia masa depan,” ujar Mendikbud.

Anjuran Mendibud tersebut selayaknya dilengkapi dengan anjuran agar para siswa menonton film Wage ini. Dalam film ini digambarkan, ternyata saat akan membawakan di tengah Kongres Pemuda pun mendapat halangan. Tentara Belanda melarang Wage membawakan lagu kebangsaan karena Belanda menengarai lagu tersebut bakal memanaskan suasana pemberontakan.

Salah seorang peserta Kongres Pemuda, Sugondo Djojopuspito, dengan tegas mengatakan kepada para tentara Belanda bahwa tidak ada undang-undang yang melarang memperdengarkan musik maka akhirnya pihak Belanda setuju lagu itu dibawakan tanpa syair.

Hasilnya mengejutkan para tentara Belanda. Meskipun tanpa memperdengarkan syairnya, irama “Indonesia Raya” yang hanya dibawakan dengan biola, berhasil memukau dan menyemangati seluruh peserta kongres. Lagu itu pun dengan cepat terkenal di kalangan pergerakan nasional. Akibatnya, semakin gencarlah para tentara Belanda memburu Wage, sampai akhirnya Wage sakit paru-paru di Surabaya.

Tidak Hanya Musisi

Saat peluncuran film ini, pengamat film dan politik, Salim Said, mengatakan terkejut ketika mengetahui bahwa ternyata WR Supratman bukan hanya pemusik, melainkan juga seorang wartawan, penulis, dan pejuang yang dalam perjuangannya sampai menjadi buronan Belanda.

Bahkan di akhir hayatnya, dalam kondisi sakit, pada Agustus 1938 Wage masih sempat menciptakan lagu “Di Timur Matahari”. Ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di Surabaya. Akibatnya Wage ditahan di Penjara Kalisosok, Surabaya kemudian meninggal pada 17 Agustus 1938 dalam usia 35 tahun.

Usia masih sangat muda. Ia bahkan belum menikah. Dalam film ini digambarkan ia sempat mempunyai kekasih, tetapi karena kondisinya yang harus berjuang bahkan kemudian menjadi buronan, mereka berpisah dengan baik-baik. Hanya saputangan merah jambu sang kekasih yang menemani Wage dalam perjuangannya.

Wage dimakamkan di tanah kelahirannya, Simongari, Purworejo, Jawa Tengah. Hal itu juga membantah dugaan selama ini bahwa WR Supratman adalah kelahiran Jatinegara, Jakarta. Menurut sejarawan Dr.Asvi Warman Adam, dugaan bahwa Wage lahir di Jatinegara lantaran ayahnya pernah bertugas sebagai KNIL di Jatinegara. Keluarga Wage yang meluruskan dan menegaskan bahwa Wage lahir di Simongari, Purworejo, Jawa Tengah – yang diperkuat dengan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007.

Semua Umur

Film Wage lulus sensor pada 31 Oktober 2017 dengan klasifikasi untuk semua umur. Film ini memang tepat ditonton untuk semua umur. Mengandung pendidikan dan pengenalan seorang tokoh nasional yang dikukuhkan sebagai pahlawan Indonesia pada 1971.

Film ini digarap dengan apik oleh John de Rantau. Tak percuma ia menghilang selama lima tahun, setelah memproduksi “Semesta Mendukung” (2011). John yang sebelumnya sukses dengan filmnya “Denias, Senandung Di Atas Awan” (2006), mengaku gelisah dengan tema film Indonesia belakangan. Maka ia melakukan riset untuk memperdalam tentang sosok WR Supratman.

Hasilnya tidak mengecewakan. Memang dalam alurnya, pada awalnya terkesan lamban, terutama ketika masih bercerita seputar Wage kecil. Namun, ketika cerita sudah masuk pada usia dewasa, alurnya lebih nikmat. Para siswa yang menonton saat peluncuran mengaku bisa menikmati dari satu adegan ke adegan yang lain. Kelemahannya adalah pada skenario yang memberikan porsi seimbang antara tokoh Wage dan tokoh Fritz – “Belanda hitam” yang terus mengejar keberadaan Wage. Akibatnya, keinginan untuk memperkenalkan Wage lebih dekat kepada penonton jadi sering terasa bias dengan keberadaan Fritz.

Beruntung Rendra Bagus Pamungkas, yang memerankan Wage, mempunyai kekuatan akting yang dapat menutup kekuatan Teuku Rifnu Wikana (pemeran Fritz) yang biasanya dominan. Rendra memang sangat kuat. Ia tak hanya mirip dengan sosok WR Supratman yang selama ini kita kenal hanya melalui foto kecil di internet atau di perangko. Ia juga dapat membawa roh WR Supratman ke depan penonton.

Rendra sebetulnya pendatang baru di dunia film. Kelahiran Kandangan, Kediri, Jawa Timur pada 21 Maret 1984 itu, lebih dikenal sebagai aktor teater. Sempat mengenyam pendidikan teater di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, kemudian melanjutkan ke pendidikan Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Bekal itu rupanya yang menjadi kekuatan Rendra.

Film ini tak hanya berhasil memperkenalkan WR Supratman lebih jauh melalui Rendra, tetapi juga memperkenalkan Rendra melalui sosok WR Supratman. Jadi, bila Anda ingin berwisata ke bioskop bersama keluarga, menonton Wage adalah pilihan tepat. (Rita Sri Hastuti)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.