Ussy Pieters, Sukses Dunia Musik Berkat Nonton Konser Bersama Sang Ayah

0
865
DR Ussy Pieters, cinta harpa karena nonton konser bersama sang ayah. (Foto: dok Ussy)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sudah hampir sebulan terakhir ini nama Ussy Pieters banyak menghiasi kolom media cetak maupun online usai menggelar konser 3 Dekade Cinta Chrisye di Taman Ismail Marzuki ( TIM) bulan lalu.

Sebanyak 17 Lagu karya Chrisye yang  diaransemen ulang oleh Ussy Pieters pada 28 Agustus 2016 lalu dibawakan dalam format paduan suara khas Ussy Pieters Choir yang terdiri dari 48 vokalis wanita berusia 30 sampai 70 tahun dengan suara para vokalis yang terbagi dalam  Sopran, Mezzo Sopran, dan Alto.

Meski konser telah usai, rona kebahagian Ussy atas suksesnya konser yang diliput lebih dari seratusan wartawan itu tampaknya tidak pernah surut di wajahnya. Di Komunitas WISE (Witty-Independent-Smart-Elegant) Woman yang didirikan oleh pengusaha wanita Santi Mia Sipan dan Uti Rahardjo, setiap pagi Ussy selalu paling awal menyapa WA Group lewat kalimat dan gambar bertabur bunga. Jika lewat jam 7 pagi dia belum menyapa grup maka ramailah teman-teman menelpon atau mengirimkan pesan menanyakan kabarnya.

Di WhatsApp Group, kehadiran Ussy yang identik dengan gambar hati dan mawar merah memang selalu membuat grup menjadi lebih hidup. Hal ini bukanlah reaksi yang berlebihan karena sikapnya yang selalu care dan penuh cinta pada teman-temannya membuat kedekatannya dengan anggota komunitas begitu kuat.

“Hidup itu buat saya sekarang yang penting kita bahagia menjalaninya. Bersyukur dapat berkah tuhan di usia senior karir saya terus bercahaya dan masih bisa banyak beraktivitas karena diberikan kesehatan dan kebahagian tadi oleh Tuhan,” katanya membuka percakapan suatu sore di Plaza Senayan.

Bahagia itu pilihan, tambahnya, karena itu dia selalu menjaga suasana hatinya agar tidak berpikiran negatif. Cara hidup seperti itu mudah karena dia tidak mau mengurus kekurangan, apalagi keburukan orang lain. Ussy pilih fokus untuk berfikir positif saja atas apapun yang harus dihadapinya.

“Urus diri sendiri dulu karena setiap perbuatan kita yang baik dan buruk harus dipertanggungjawabkan pada Tuhan Allah. Saya sangat menjiwai salah satu lagu Chrisye yang saya nyanyikan sendiri ketika konser yaitu Ketika tangan dan kaki berbicara:

Akan datang hari, Mulut dikunci, Kata tak ada lagi
Akan tiba masa Tak ada suara, Dari mulut kita
Berkata tangan kita, Tentang apa yang dilakukannya, Berkata kaki kita, Kemana saja dia melangkahnya. Tidak tahu kita, Bila harinyaTanggung jawab tiba…
Rabbana tangan kami, Kaki kami mulut kami, Mata hati kami luruskanlah, Kukuhkanlah Di jalan cahaya Sempurna. Mohon karunia Kepada kami HambaMu Yang Hina.

 Menurut Ussy, agama mengajarkan kebaikan dan semua perbuatan menjadi tanggungjawab kita sendiri tidak bisa dilimpahkan ke orang lain. Hal yang menjadikan suatu tujuan menjadi buruk karena ulah manusianya. “Hanya Tuhan yang bisa menilai kita,  jadi mengapa manusia suka menghakimi orang lain ? dan tidak melihat di dalam dirinya sendiri ?,” ujarnya santai.

Ussy menilai jika seseorang mampu selalu berfikir positif dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan maka dia yakin setiap niat baik muncul seperti penyelenggaraan Konser 3 Dekade Cinta Chrisye  dapat terlaksana dengan sukses.

Berkolaborasi dengan para penyanyi yang juga berasal dari tiga generasi yaitu Harvey Malaiholo, Vina Panduwinata, Marcel Siahaan, Raisa, hingga Mikha Tambayong diiringi dengan back sound paduan suara Ussy Pieters Choir dan iringan musik dari Light Orchestra,  konser itu terbukti masih menjadi buah bibir..

“Saya tidak membebani pikiran dengan berandai-andai yang negative misalnya apakah sponsor bisa tercapai, apa bisa terlaksana ?. Yakin saja Tuhan pasti kasih jalan semua niat baik dan yang penting para pendukung acara, siapapun mereka harus disiplin dan profesional dalam berlatih,” tegasnya.

Konser tribute to Chrisye pertama yang dibawakan dengan konsep orchestra,  paduan suara diiringi harpa untuk mengenang 30 tahun Chrisye berkarya itu yang jelas sangat membahagiakan Yanti atau Damayanti Noor, istri Chrisye. Dia  bilang merasa sangat  surprised  karena sebelumnya tidak pernah ada konser Chrisye dengan paduan suara, tambahnya.

Ussy ( kiri) bersama Yanti Noor, istri alm. Chrisye ( Foto: Ussy)
Ussy ( kiri) bersama Yanti Noor, istri alm. Chrisye ( Foto: Ussy)

Setelah perkawinan yang gagal dan tidak dikarunia anak, Ussy menjalani hidupnya dengan berbagi untuk pelayanan umat di gereja, aktif di kegiatan sosial dan mengajar setiap hari dari Senin hingga Minggu dengan passion yang tinggi. Pemilik Sekolah Musik Ussy Pieters di kawasan Kemang Pratama ini juga menularkan semangat berbagi, disiplin dan sikap profesional bagi para muridnya.

“Sikap profesional dengan kedisiplinan tinggi itulah yang akan mewujudkan  suatu upaya akan berhasil. Bagaimana mau maju dan menang kalau kita tidak disiplin saat berlatih,” kata wanita kelahiran Jakarta, 10 November 1954 ini.

Ussy merasa beruntung sikap disiplin tinggi dan profesional itu sudah ditanamkan sejak kecil. Maklum ayahnya seorang perwira tinggi militer pada era Orde Lama. Dia adalah Herman Pieters. ”Bapak saya dulu Pangdam XV Pattimura pertama untuk Maluku-Irian Jaya (kini Papua) Beliau juga pernah menjadi ajudan Presiden Soekarno pada 1950-an,” tutur Ussy.

Sikap itu pula yang ditanamkan para dosen-dosennya selama kuliah dan menyabet gelar doctor dibidang musik di Roma, Italia. Tepatnya di Harpa Music at Conservatorio St Cecilia. Tujuh tahun pertama di jalaninya untuk program strata satu dan strata dua lalu ditambah dua tahun lagi untuk meraih gelar doctor.

“Usai tamat sekolah di SMA Tarakanita Jakarta, total saya tinggal 19 tahun di Roma dan yang selalu ditanamkan bukan gelar yang dikejar tapi tepuk tangan dari penonton bahwa kita mampu menjadi yang terbaik,” kata Ussy.

Artinya, sebagai mahasiswa asing, dia tidak boleh  menjalani kuliah seenaknya, tetapi harus fokus dan menjadi seorang yang ahli dalam bidangnya sehingga ketika mengadakan konser maka penonton terhibur dan Ussy mendapatkan tepuk tangan meriah dan pujian.

“Intinya uang bukan yang utama, tapi kerja nyata dan biarkan Tuhan yang menilai berapa nilai rejeki yang pantas kita terima. Setiap hari mengajar musik termasuk meltih berbagai grup-grup paduan suara harus dilakukan dengan hati bukan karena mengejar penghasilan semata,” ungkapnya.

Hasilnya, campur tangan Tuhan terjadi dan membuat Ussy belajar, jika dia menyanyi di rumah yatim piatu sebagai bentuk pelayanan maka di lain kesempatan dia mendapat rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

“Hal seperti ini sudah sering terjadi pada diri saya karena itu saya juga yakin beramal dulu, mendapat rejeki kemudian. Pintu-pintu rejeki banyak terbuka buat kita jika tidak menjadi orang yang ahli mengeluh,”

Dia juga merasa banyak keajaiban-keajaiban yang terjadi sehingga membuat kehidupannya mengalir lancar dikelilingi keluarga dan kerabat yang penuh kasih.sayang. Mereka seolah dapat memahami dua sisi sikap yang diterapkan Ussy semata-mata untuk keberhasilan suatu tujuan.

Ussy menjadi tegas, disiplin dan garang saat memimpin latihan-latihan menghadapi konser, namun di luar latihan, dia menjadi pribadi yang mudah bergaul dan disayang teman karena aura kasih yang dimilikinya. Tiba-tiba dia menjadi tersenyum sendiri saat melatih vokalis dari usia 30-77 tahun peserta konser yang lalu.

“Saya memang keras dalam hal latihan, kalau tiga kali tidak hadir yang dicoret bahkan sudah latihan terus tapi ketika latihan terakhir  atau Gladi Resik tidak muncul terpaksa out deh,” sambil menerangkan sejumlah larangan seperti main handphone agar anggota paduan suara bisa berfokus dan menjaga kualitas suara.

Dia juga selalu membawa tim inti ke TC (training center) di luar kota selama tiga hari. Selama itu, Ussy menerapkan latihan yang cukup berat. Latihan dimulai pada pukul 05.00. Yang terlambat mendapat hukuman lari keliling lapangan. Tidak peduli berapa pun usianya, mereka harus menjalani hukuman itu.

Setelah konser 3 Dekade Cinta Chrisye, rencananya paduan suara binaan Ussy itu bertolak ke Barcelona, Spanyol, untuk mengikuti festival paduan suara. Mereka selama ini memang rajin mengikuti berbagai event paduan suara di dalam dan luar negeri. Di antaranya ke Busan, Tiongkok, dan Manila, Filipina dan terakhir ikut festival paduan suara tingkat internasional di Bali.

Kendati secara usia para anggotanya sudah tidak muda lagi, kelompok paduan suara Ussy Pieters Choir cukup berprestasi. Di Manila, misalnya, mereka sukses membawa pulang Silver Award Level 4. Sedangkan di Bali, mereka berhasil memenangi Silver Award Level 8. ”Semua kami raih dengan kerja keras dan disiplin tinggi,” terang Ussy.

Dalam hal karirnya di dunia musik, semua juga berkat peranan besar sang Ayah yang telah mengarahkan jalan hidupnya. Pilihannya belajar harpa juga gara-gara ayahnya mengajaknya menonton konser orchestra di Jepang. Ussy mengaku langsung terkesima melihat seorang harpis memainkan alat musik itu dengan lembut.

Harpa sering kali digambarkan sebagai alat musik yang kerap dimainkan para bidadari di surga karena itu tak heran jika bagi lingkungan terdekatnya baik keluarga maupun kerabat Ussy layaknya seorang “malaikat” yang membuat sebuah pertemuan menjadi meriah, penuh kebahagian saat mendekap harpa dan memetiknya dengan lembut. (Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.