Uni Eropa Kekurangan Pekerja Restoran dari Inggris

0
337
Ubud Food Festival

LONDON, Bisniswisata.co.id: Seiring banyaknya warga negara Uni Eropa (UE) meninggalkan Inggris, akibat keputusan negeri itu keluar dari zona Uni Eropa (Brexit), banyak restoran melaporkan kekurangan pekerja. Hal ini akan menjadi masalah bagi sektor yang bergantung pada buruh imigran itu.

Menurut data terakhir setelah referendum Brexit 2016, jumlah warga negara UE yang keluar dari Inggris kebanyakan dari Eropa Tengah, meningkat 33 ribu menjadi 122 ribu orang selama 12 bulan sampai Maret 2017.

Fulham Shore, perusahaan induk dari restoran piza Franco Manca, mengatakan, prospek kontrol baru terhadap imigrasi ketika Inggris meninggalkan blok tersebut sudah memengaruhi ketersediaan staf terampil di restoran Eropa.

Perusahaan yang stafnya hanya 20% orang Inggris itu mengatakan bahwa pihaknya menerapkan ‘sejumlah skema insentif’ untuk meyakinkan orang-orang Eropa untuk tinggal.

Pemilik restoran khawatir pekerja Inggris tidak dapat atau tidak mau mengisi celah yang ditinggalkan orang-orang Eropa yang kembali ke negeri mereka.

Kondisi serupa juga dialami industri perhotelan yang saat ini memiliki proporsi pekerjaan terisi tertinggi. Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS), sekarang situasinya memburuk, dengan 4,3% pekerjaan perhotelan kosong pada Juni sampai Agustus 2017, jika dibandingkan dengan 3,5% tahun sebelumnya.

Alex Wrethman, kepala kelompok bistro di Charlotte, London Barat, bahwa dia berjuang keras untuk menemukan orang Inggris yang berkomitmen terhadap pekerjaan tersebut sebagaimana rekan mereka dari Eropa.

“Sulit menemukan orang Inggris yang bangun dari tempat tidur untuk mencuci piring,” kata Wrethman, yang mulai bekerja di restoran yang kini sudah dimilikinya saat remaja seperti dilansir AFP, Senin (25/09/2017).

Wrethman ialah pengecualian. Sulit menemukan pria di ‘Negeri Elizabeth’ itu seperti dirinya yang bersedia berkutat di dapur dan bekerja dengan jam kerja panjang.

Industri restoran dan perhotelan di Inggris memang sangat bergantung pada orang Eropa Timur, dan hanya terdapat sedikit koki Inggris. Jika berlangsung seperti ini terus, industri ini dipercaya dalam 2 atau 3 tahun lagi akan ada di ambang kejatuhan.

“Laporan bisnis perhotelan yang berjuang untuk merekrut staf baru menjadi semakin umum. Penurunan nilai pound ialah faktor, tapi begitu juga prospek rezim imigrasi yang lebih ketat,” kata Kepala Asosiasi Perhotelan Inggris (BHA) Ufi Ibrahim.

Survei KPMG yang dipimpin BHA memperingatkan bahwa jika imigrasi UE dihentikan setelah keluarnya Inggris dari UE pada Maret 2019, sektor ini akan menghadapi ‘krisis perekrutan’ dan kekurangan tahunan 60 ribu pekerja. (AFP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here