Turman Panggabean: Pemerintah agar bantu pemandu wisata memiliki standar kompetensi

0
826

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kementerian Pariwisata agar memperhatikan nasib para pemandu pariwisata Indonesia untuk meningkatkan standar kompetensi dan memiliki sertifikasi menghadapi persaingan bebas di  era Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA), kata Turman Panggabean, Advocate dan Legal Consultant.

Turman yang mendirikan  Absolut Patent & Trademark sering kali memakai jasa biro perjalanan wisata ( BPW) setiap kali berlibur bersama keluarga. Hampir semua jasa 10 besar biro perjalanan  wisata di Jakarta sudah pernah diikuti paket-paket tournya  termasuk jasa biro perjalanan kecil lainnya baik untuk wisata di dalam maupun luar negri.

“Pengalaman mengikuti paket-paket tour bersama biro perjalanan wisata ( BPW) di dalam dan luar negri itulah saya sampai pada kesimpulan bahwa para pemandu wisata benar-benar garda terdepan untuk menjaring wisatawan mancanegara datang ke Indonesia,” ungkapnya.

Sayangnya, nasib dan kesejahteraan pemandu wisata di Indonesia masih belum merata. Standar fee yang harus mereka peroleh juga nampaknya belum diatur sehingga sepenuhnya tergantung pada kebijakan BPW yang memperkerjakannya.

“Mustinya kalau sudah ada organisasinya seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia ( HPI) sudah ada standar fee yang harus ditaati oleh para BPW sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya,” kata Turman.

Oleh karena itu di era Masyarakat Ekonomi Asean, dimana arus bebas  barang dan orang yang telah disepakai negara-negara di kawasan ini, maka pemerintah dalam hal ini Kementrian Pariwisata hendaknya dapat memfasilitasi para pemandu untuk memiliki sertifikasi sehingga garda terdepan pariwisata Indonesia memiliki standar kompetensi yang merata.

“Sebagai outsider dan sebagai traveler, saya lihat pemandu wisata ada yang makmur seperti pemandu wisata di luar negri tetapi masih banyak yang belum sejahtera malah boleh dibilang hidupnya membutuhkan BLT ( Bantuan Langsung Tunai)  karena tidak mendapat bayaran yang layak,” tambahnya.

Padahal pemandu wisata atau disebut pramuwisata (tour guide) adalah garda terdepan dalam melayani wisatawan untuk berkunjung ke destinasi atau daya tarik wisata. Sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah kegiatan perjalanan, pramuwisata memiliki peran yang strategis untuk memperkuat citra destinasi melalui profesionalisme yang dibawanya.

“Setelah keliling dunia dan berwisata ke berbagai daerah di dalam negri, saya sangat menyadari kalau Kementrian Pariwisata terus ditingkatkan dana promosinya. Jangan hanya terpaku pada promosi. Benahi dulu kemampuan SDM terutama para pemandu wisatanya bekerjasama dengan Lembaga Serifikasi Profesi (LSP) di bidang itu untuk mendapatkan pelatihan dan uji kompetensi secara gratis,” kata Turman.

Pemandu wisata yang profesional adalah yang kompeten dan memahami serta mengerti seluk beluk kepemanduan. Profesi ini sedikitnya harus memiliki pengetahuan dasar dan etika, mampu memberikan pelayanan pada penjemputan (Transfer-in) dan pengantaran wisatawan (Transfer-out). Dia juga harus menyiapkan dan menyajikan Informasi wisata serta selalu mengembangkan dan memelihara pengetahuan umum yang diibutuhkan di bidang kerjanya.

“Bayangkan di Indonesia ini di setiap kota ada obyek wisata yang menarik baik obyek wisata alam, obyek wisata buatan maupun festival-festival yang kalau dibuatkan daftarnya setiap hari ada event nasional. Untuk memahami semua destinasi atau festival yang ada peranan pemandu wisata atau tour guide ini sangat dibutuhkan,”

Pernahkan pemerintah pusat (Kementrian Pariwisata) maupun 34 pemerintah provinsi di Indonesia termasuk di dalamnya pemerintah daerah (Pemda) tingkat satu dan dua mau memperhatikan dan berupaya meningkatkan standar kompetensi pemandu wisata, orang-orang yang paling berjasa dalam mengembangkan pariwisata di daerahnya ?

“Kalau dari hasil saya ngobrol-ngobrol dengan para pemandu wisata sih belum  menjadikan mereka sebagai mitra strategis.Kebanyakan BPW yang memakai jasa mereka  juga di bawah standar,” kata Turman

Tidak heran BPW meramu paket wisata yang mementingkan  acara belanja agar pemandu mendapat fee dari toko-toko atau pusat belanja yang dikunjungi. BPW di Korea, China juga melakukan hal yang sama mendorong sebanyak mungkin wisatawan belanja agar mendapatkan tambahan penghasilan.

“Kalau dibiarkan kan jadi tidak sehat, kita banyak memiliki destinasi yang unik. Di Sulawesi Selatan kita  memiliki banyak obyek wisata budaya, seperti di Toraja dan Danau Toba yang berbau mistis di Sumatra Utara. Ada wisata alam, dengan satwa komodo dan badak jawa yang unik. Ada wisata bernilai sejarah, Candi Borobudur, Candi Prambanan. Dan wisata seni yang khas seperti wayang kulit, keris, angklung dan batik. Jadi bukan semata-mata hanya mengarahkan wisatawan untuk belanja,” tegasnya.

Tingginya pengeluaran wisatawan memang sangat diharapkan karena multiplier effect dari kegiatan wisatawan selama berada di Indonesia menjadi motor penggerak roda perekonomian di tengah krisis global yang mulai menghantui.

“Semua yang kita miliki adalah wisata berkarakter dan unik yang tak dimiliki negara lain jadi pengalaman mereka di suatu destinasi sangat bergantung pada kemampuan para tour guide mengolah informasi yang dimiliki dari suatu destinasi. Tapi anehnya para wisman hanya kenal Bali saja,”

Dalam hal ini Turman menilai belum banyaknya wisman menyebar ke berbagai daerah di tanah air karena pemahaman pemandu wisata juga hanya terpaku dengan daerah kerjanya saja. “Kalau saya berwisata ke luar negri, maka pemandu wisatanya bisa menceritakan tempat-tempat wisata di daerah lain yang membuat kita penasaran. Ujung-ujungnya dia akan bilang silahkan kembali lagi, nanti saya antarkan ke tempat yang dia sebutkan tadi dan membuat penasaran meskipun jaraknya mungkin 1500 km dari tempat yang sedang dikunjungi,”

Jadi ujarnya, pemandu wisata yang profesional tidak memikirkan isi kantong makin tebal dari tips yang diharapkan dari tamu yang dilayaninya maupun dari hasil belanja wisman, tapi bagaimana caranya tamu akan kembali datang ke negaranya dan berwisata lagi sehingga menggerakkan perekonomian negara.

“Banyak negara yang sudah sadar sepenuhnya bisa hidup dari pariwisata bahkan tidak usah jauh-jauh karena jumlah penduduk Singapura tahun 2014 baru 5,6 juta sedangkan wisatawan mancanegara yang datang sudah lebih dari tiga kali lipat  jumlah penduduknya, mencapai 17 juta orang wisman. Sementara Indonesia dengan 250 juta penduduk tahun 2015 targetnya baru 12 juta wisman,”  tanya Turman.

Dia menyayangkan kalau Kementrian Pariwisata hanya fokus pada strategi promosi dan target yang ingin dicapai, sementara SDM internasl termasuk pemandu wisata belum mendapatkan penguatan baik dari segi kompetensi maupun dari sisi penghasilannya padahal pemandu wisata merupakan profesi yang menarik untuk terus belajar dan berinterkasi langsung dengan turis asing, mempelajari banyak karakter dan budaya.

Turman melihat para pemandu wisata di negara-negara Eropa sangat sistematis dan profesional. Mereka memiliki keterampilan dalam menyampaikan informasi kepada para tamu wisata yang dipandunya. Sehingga para tamu wisata itu mendapatkan ilmu pengetahuan dari negara yang menjadi destinasi wisatanya.

“Ketika saya tanya bagaimana untuk menjadi pemandu wisata, mereka bilang ada pendidikan khusus dan memiliki standar kompetensi kerja khusus kepariwisataan,” tutur Turman.

Profesi pemadu wisata di Indonesia, kata dia, nantinya  akan memiliki kompetensi kerja kepariwisataan yang setara dengan negara-negara lain. Mereka yang ingin menempuh pendidikan khusus pemandu wisata, pemerintah bisa membantu biayanya. Tahun depan dengan kesepakatan MEA dan pariwisata termasuk yang bisa dimasuki SDM asing maka persaingan bebas akan makin kuat.

“Masih banyak pemandu wisata di Indonesia yang kerjanya belum  profesional. Ini bisa dilihat dari para wisman yang merasa tidak puas dan melakukan komplain terhadap pelayanan para pemandu wisata,” kata Turman Penggabean.

Munculnya komplain itu, lanjut dia, menunjukkan mereka bekerja tidak sesuai dengan standar bidang kepariwisataan. Sehingga para wisman yang ingin menikmati perjalanan wisata terganggu oleh sikap pemandu wisata yang tak profesional tersebut. Kurangnya kepedulian dan wawasan dari para pemandu wisata merupakan benang merah yang harus segera diatasi, tandasnya. (Arief Rahman Media)

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.