Turis Swiss masih Misterius, Wisata Pendakian Semeru Dibuka

0
2917
Wisatawan Pendaki mulai serbu Gunung Semeru (Foto:http://dbagus.com)

LUMAJANG, test.test.bisniswisata.co.id: Lionel Du Creaux (26), wisatawan pendaki asal Swiss yang hilang misterius di Gunung Semeru sejak Senin 6 Juni 2016 hingga kini belum ditemukan keberadaanya. Meski Tim SAR sudah dikerahkan melakukan pencarian dari berbagai lokasi, namun hasilnya tetap nihil. Bahkan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sempat menutup wisata jalur pendakian Gunung Semeru untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Lantaran tak ada titik terang, akhirnya Selasa (21/06/2016) TNBTS membuka kembali wisata jalur pendakian Gunung Semeru. Meski tim SAR masih melakukan pencarian terhadap pendaki yang hilang di gunung tersebut.

“Berdasarkan hasil rapat evaluasi pembukaan jalur pendakian Gunung Semeru dan berakhirnya kegiatan SAR, maka pendakian Semeru kembali dibuka mulai hari Selasa,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Budi Mulyanto saat dihubungi di Lumajang, Jawa Timur, Rabu (22/06/2016).

Menurut dia, pembukaan jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, dengan ketentuan batas pendakian hanya sampai Kalimati dan pendaki dilarang keras naik melalui jalur selain Ranu Pani. “Ketentuan dan syarat pendakian Gunung Semeru selengkapnya dapat dilihat di www.bromotenggersemeru.org, sehingga pendaki yang akan naik ke Semeru harus mengikuti syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan,” kata Budi.

Pencarian pendaki yang hilang di Gunung Semeru, Lionel Du Creaux (26) diperpanjang hingga tujuh hari lagi sesuai dengan permintaan keluarga dan Konsulat Kehormatan Swiss di Surabaya. Dan, lanjut dia, pembukaan jalur pendakian Gunung Semeru tersebut tidak akan mengganggu kegiatan SAR tambahan yang saat ini masih berlangsung untuk mencari pendaki asal Swiss yang belum ditemukan.

“Tim sudah memetakan pergerakan pendaki yang hilang (survivor) sesuai dengan kondisi awal dan pencarian dilakukan di luar jalur pendakian, sehingga kegiatan pencarian survivor tidak akan terganggu dengan kunjungan wisatawan yang mendaki Semeru,” kata Budi seperti dikutip laman Antara.

Untuk mengantisipasi kejadian yang serupa, petugas TNBTS sudah memperbaiki dan memasang sejumlah rambu-rambu pendakian yang mudah dikenali pendaki dengan memberikan warna rambu yang mencolok.

“Sebagian rambu-rambu pendakian hilang karena bencana alam, sehingga pendaki terkadang tersesat saat turun dari gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl itu. Namun, rambu-rambu yang menuju ke puncak Semeru hanya diperuntukkan petugas TNBTS yang melakukan patroli, bukan untuk pendaki,” katanya.

Budi menjelaskan pengawasan oleh petugas akan lebih ditingkatkan saat memberikan pengarahan singkat kepada para pendaki di Pos Ranu Pani, sebelum mereka melakukan pendakian ke Gunung Semeru.

“Kami juga akan memberikan papan pengumuman tentang bahayanya naik ke puncak Semeru (Mahameru) seiring dengan aktivitas gunung yang masih berstatus waspada atau level II, sehingga pendaki akan berpikir ulang untuk menerobos ke Mahameru karena membahayakan keselamatan mereka,” sambungnya.

Hilang

Seperti diberitakan sebelumnya, Lionel putus kontak terhitung sejak Jumat, 3 Juni 2016. Sedangkan operasi SAR dilakukan sejak Kamis, 9 Juni 2016. Untuk kemudahan kegiatan pencarian, kegiatan pendakian Semeru ditutup.

Lionel Du Creaux dan Alice Guignard berangkat dari Malang dan masuk ke Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pada pukul 07.00 WIB, dan langsung menuju lokasi pendakian tanpa ada pemberitahuan atau melapor ke pos dan tanpa register/tiket.

Dua pendaki itu, pada pukul 10.22 WIB, sampai di Ranu Kumbolo dan melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Tiba di Kalimati sekitar pukul 11.55 WIB, selanjutnya mereka mendaki ke puncak dan sampai di daerah Watu Gede pada pukul 14.01 WIB.

Pada pukul 17.47 WIB, Alice tidak melanjutkan perjalanan ke puncak karena tidak kuat. Namun Leonil tetap melanjutkannya ke puncak. Lantaran tidak kuat ke puncak, Alice memutuskan kembali ke Kalimati.

Karena tidak tahu jalan, Alice tersesat tidak melalui jalur sebelumnya. Dia malah menuju punggung bukit arah ke kiri arah Arcopodo. Di lokasi, Alice bertahan dan menunggu selama dua hari malam. Pada Senin, 6 Juni 2016, Alice ditemukan Heri Sumantri, dari Tim Haspala Malang, yang sedang memandu tamu. Alice ditemukan sekitar pukul 22.00 WIB setelah teriakannya meminta tolong dan kebetulan didengar Heri.

Selanjutnya, Alice dibawa turun dan pada Selasa sore, 7 Juni 2016, Alice melaporkan secara resmi kronologi hilangnya Lionel Du Creaux kepada petugas di Resort Ranu Pani.

Tak bisa dipungkiri, selama ini kerja Tim SAR mencari wisatawan yang hilang, dilakukan secara tradisional dengan jalan kaki menelusuri jalan yang dilewati para pendaki. Tim SAR dibagi beberapa kelompok juga melibatkan warga sekitar untuk melakukan pencarian. Sehingga cara kerja itu dianggap terlalu konvesnional dan butuh waktu lama. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.