Turis Inggris Tewas di Goa Mampu

0
769
Mulut Goa Mampu (Foto: http://wisatasulawesi.com)

BONE, test.test.bisniswisata.co.id: Stephen David Miller, turis asal Inggris ditemukan tewas di dalam goa Mampu, Desa Cabbeng, Kecamatan Duaboccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Diduga, pria tersebut tewas terjatuh dalam gua. Mengingat, bagian belakang kepala, kaki, dan lututnya ditemukan luka memar.

David masuk ke dalam goa Mampu pada pagi hari tanpa ditemani seorang pemandu. Dia menolak tawaran warga sekitar yang ingin memandunya, dan memaksa masuk ke dalam goa seorang diri. Saat warga setempat menawarkan obor, David menolak dengan alasan membawa senter. Menjelang sore dia belum juga keluar, sehingga warga mencarinya. Saat ditemukan, David tewas dengan posisi tertelungkup dan masih memakai ransel.

Diduga, korban tewas saat memanjat dinding goa yang licin, sehingga korban terpeleset karena tidak dapat menahan beban dirinya yang sedang memakai ransel di pundak hingga korban terjatuh dan terbentur pada batu. Akibatnya kecelakaan itu, korban mengalami luka benturan pada bagian belakang kepala, kaki, lutut, dan bagian tubuhnya terdapat memar.

Saat dievakuasi keluar dari dalam goa, polisi dibantu warga sedikit kewalahan lantaran jalan keluar goa sempit dan licin. Bahkan, langit-langit goa rendah, sehingga sulit diangkat karena khawatir kepala dapat terbentur. Setelah melalui proses evakuasi keluar goa yang memakan waktu satu jam, korban langsung dinaikkan ke mobil basarnas yang datang untuk membawa korban ke Rumah Sakit Umum Tenriawaru Bone.

Kasat Reskrim Polres Bone AKP Hardjoko mengatakan, korban masuk ke dalam goa untuk berwisata dan melukis, karena di dalam ransel korban ditemukan alat lukis. Namun nahas, korban terjatuh saat memanjat dinding gua yang licin. “Stephen David Miller, warga negara Inggris yang lahir di Stamford, pada 7 Februari 1961. Kini, korban masih terbaring di RSU Tenriawaru Bone untuk divisum,” jelasnya.

Gua Mampu kerap dikunjungi wisatawan. Dulu gua ini disebut sebagai Goa Terkutuk lantaran di dalamnya banyak batu menyerupai makhluk hidup hingga gubuk dan peralatan tradisional lainnya. Di dalam goa ini pula terdapat batu yang paling sakral dan dijadikan sebagai pertanda alam bagi warga setempat. Bagi penduduk setempat, goa ini diyakini sebagai sebuah permukiman penduduk yang dikutuk menjadi batu oleh seorang raja yang berkuasa saat itu.

Keyakinan penduduk setempat didasarkan oleh cerita turun-temurun serta banyaknya batu menyerupai mahkluk hidup, peralatan tradisional hingga areal persawahan. Goa yang hingga kini belum disentuh pemerintah memiliki sejumlah tingkatan serta sejumlah lorong yang berhubungan satu sama lain.

Saat memasuki goa ini, pengunjung terlebih dahulu harus membungkuk dan menemukan dua buah batu yang tergantung. Batu ini sebagai pintu gerbang. Keunikan dua batu yang tergantung ini adalah memiliki bunyi yang berbeda jika dipukul. Ada yang nyaring seperti besi serta ada yang suaranya biasa sebagaimana layaknya batu biasa yang dipukul.

Juga ada batu menyerupai hamparan persawahan, kapal, sejumlah binatang seperti buaya, kuda, tikus, ular, burung bertengger, serta sebuah gubuk berukuran 3 meter. Goa ini juga dihuni ribuan kelelawar dan burung walet bergelantungan dan bersarang. Di ujung lorong goa ini terdapat dua buah batu yang ujungnya saling berhadapan, yang satunya bergelantungan dari atap goa. Batu ini dikenal dengan batu pedoman.

Warga setempat menjadikan batu ini sebagai pertanda alam. Jika tiap-tiap ujung dari batu saling bersentuhan, diyakini akan terjadi bencana alam yang menimpa perkampungan setempat. “Kalau bersentuhan maka akan terjadi bencana alam dan ini sudah sering terjadi,” kata Andi Adi.

Menurut cerita turun-temurun, goa ini dahulunya adalah sebuah perkampungan yang diperintah oleh salah seorang raja. Saat itu, putri sang raja sedang menenun di atas rumah panggung miliknya. Namun, salah satu alat tenunnya terjatuh. Sang putri pun berkata bahwa siapa pun yang membantunya mengambil alat tenun tersebut maka akan dijadikannya suami.

Naas, anjing sang putri yang disebut Labolong melompat dan turun mengambil alat tenun tersebut dan membawakannya kepada sang putri. Lantaran perkataan sang putri telah telanjur diucapkan dan tak boleh dilanggar, maka sang putri harus menikahi anjingnya hingga membuat raja murka dan mengutuk perkampungan tersebut menjadi batu. Anjing dan peralatan tenun tersebut juga hingga kini masih ada dan menjadi batu. “Dulu di sini memang perkampungan yang dikutuk dan ini cerita yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Yasin, kepala desa (Kades) setempat. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.