Turis Australia diharapkan terus mengalir ke Indonesia meski dihujani travel warning

0
786
Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema (kanan berbatik cokelat) menyapa pengunjung Paviliun Indonesia dalam Festival Multikultural di Canberra, 14 Februari 2015. Foto: KBRI Canberra

BOGOR, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata, Arief Yahya, menyatakan Indonesia tidak perlu khawatir dengan peringatan Pemerintah Australia yang akan memboikot wisata Indonesia bila tetap melakukan eksekusi terhadap dua terpidana mati warga Australia.

“Sebaiknya tidak bilang khawatir karena mereka nanti akan (cenderung) membuktikannya. Ibaratnya kalau kedua pemerintah itu sebagai orangtua maka ketika antara para orangtua ngambek pada  praktiknya anak-anak akan bermain dengan gembira. Hal itu bisa dilihat dari angka kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia yang tetap mengalir,” kata Arief Yahya setelah menghadiri Rapat Terbatas bidang Pariwisata di Istana Bogor, Senin (16/2/2015).

Menurut dia, pariwisata itu basisnya people to people bukan government to termasuk hubungan sosial budaya antara rakyat Indonesia dengan rakyat Australia tetap terjalin baik. Saya tidak mau komentar karena khawatir memperkeruh keadaan.Tapi yang jelas turis Australia diharapkan terus mengalir ke Indonesia meski dihujani travel warning dari pemerintahnya.

Hubungan Indonesia dengan Australia hampir selalu dalam keadaan “pasang dan surut” dilatari berbagai isu dan kepentingan nasional ataupun regional. Kehadiran turis Australia, terutama di Bali, sangat signifikan. Dari keseluruhan 9,4 juta turis mancanegara ke Indonesia, Australia menyumbang 1,2 juta jiwa. Secara statistik meskipun ada travel warning dari suatu negara tidak terpengaruh secara statistik kedatangan wisman.

“Tahun ini kita sepakat naikkan target 12 juta tapi karena Desember sudah tercapai 900 ribu sebulan maka kita naikkan target jadi 12 juta orang dan penyumbang kunjungan wisman dari pasar-pasar utama adalah Singapura, Malaysia, Tiongkok, Australia, Jepang,” tegas Arief Yahya.

Pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan kunjungan wisawatan asal Australia ke Indonesia hingga 2 juta turis pada 2015. Australia merupakan penyumbang devisa terbesar keempat industri pariwisata nasional, setelah Singapura, Malaysia dan Tiongkok.

Minat warga Australia untuk berkunjung ke Indonesia sejauh ini tetap besar, mereka antusias mengunjungi Paviliun Indonesia di National Multicultural Festival 2015 (NMF) yang digelar  13 -15 Februari 2015 di Canberra, Australia seperti di kutip Tempo.co.

Festival budaya tahunan favorit dan terbesar yang diselenggarakan pemerintah Ibukota Canberra untuk merayakan keberagaman budaya yang ada di kotanya dimana Indonesia selalu ambil bagian di dalam perayaan yang telah berlangsung ke-19 kalinya tersebut. Pada 2015, tema besar yang diusung Indonesia adalah “The Journey to Wonderful Indonesia: Urban and Traditional Indonesia.”

“Tema urban ini dihadirkan untuk menyampaikan kepada masyarakat Australia bahwa perkembangan kota-kota di Indonesia berlangsung sangat pesat dan Indonesia saat ini adalah Indonesia yang modern namun tetap menjaga dan memelihara tradisi dan budaya dengan baik,” kata Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema

Pendirian Paviliun Indonesia seluas 3 meter x 24 meter tersebut didukung oleh Garuda Indonesia, PT Pelindo II, Diaspora Indonesia dan sahabat-sahabat (friends of Indonesia), mahasiswa serta segenap masyarakat Indonesia di Canberra.

Nick Manikis, Direktur dan Ketua Penyelenggara NMF dari 400 stan yang meramaikan ajang itu, Paviliun Indonesia adalah yang terbesar. “Indonesia adalah salah satu yang terbaik, sangat berwarna dan beragam, tidak saja dari kostum, fashion, tapi juga makanan dan aktivitasnya. Semua pengunjung menikmatinya,” puji Nick yang telah menyelenggarakan Festival ini sejak tahun 1997.

Berbagai kegiatan kreatif yang disuguhkan di Paviliun Indonesia sejak pukul 8 pagi hingga 21, antara lain workshop batik, gamelan dan angklung, penampilan musik Sasando dan tari tradisional Ja’i dari Nusa Tenggara Timur dan tari poco-poco.  Tidak hanya itu, dua buah becak, moda transportasi tradisional Indonesia, turut diperagakan di Paviliun Indonesia. Kedua becak disulap menjadi area photo booth yang sangat digemari para pengunjung.

Di saat pengunjung haus dan lapar, Kafé Jakarta di Paviliun Indonesia menyediakan beragam minuman dan makanan khas Indonesia seperti teh kotak, minuman kunyit asam, pop mie, dan banyak hidangan lainnya. Para pengunjung menikmatinya sambil membaca berbagai brosur pariwisata dan bahan promosi lain tentang Indonesia. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.