INTERNATIONAL

Turis Australia dari Bali Diperiksa Ketat Akibat Wabah Flu Babi

SYDNEY, bisniswisata.co.id: Turis Australia yang pulang dari berwisata di Bali lantas kembali ke negaranya bakal diperiksa secara ketat. Pemeriksaan di negara Kangguru itu terkait dengan wabah flu babi Afrika. Dan tak ingin warga Australia terjangkit dengan wabah yang memilukan itu.

Warga Ausie yang kembali ke Australia akan diperiksa oleh anjing, petugas bio keamanan, dan mesin x-ray. Biaya keamanan ini mencapai 66 juta dolar Australia atau setara dengan Rp 638 miliar.

Dilansir dari The Sydney Morning Herald, Selasa (24/12/2019) langkah itu diambil Pemerintah Australia menyusul flu babi Afrika yang mulai mewabah di Indonesia. Pemeriksaan dilakukan demi melindungi industri daging babi Australia yang nilainya mencapai 5 miliar dolar Australia. Bali menjadi destinasi favorit turis Australia. Bali juga kebetulan salah satu daerah dengan banyak peternakan babi.

Kepala Keamanan Departemen Pertanian Australia Lyn O’Connell mengimbau agar warganya yang pulang dari luar negeri mendeklarasi barang bawaan dan aktivitas mereka. “Kalau Anda ke luar negeri, pikir baik-baik apa yang Anda bawa pulang. Dan kalau Anda mengunjungi peternakan atau pergi ke pedesaan, deklarasikan ketika pulang,” kata O’Conell,

Ia meminta agar warga Australia tidak membawa produk berisiko tinggi. Warga bahkan diminta untuk membersihkan alas kaki dan peralatannya dari tanah. Mereka yang berbohong tentang barang bawaan dan aktivitasnya terancam denda 420 dolar Australia.

November lalu, seorang warga Vietnam bahkan sampai dideportasi dan dicegah masuk ke Australia selama tiga tahun karena tak mendeklarasikan bawaannya berupa empat kilogram daging babi. Sejauh ini, ada 11 negara di Asia yang dinyatakan terkena wabah flu babi Afrika. Kesebelas negara itu yakni Kamboja, China, Mongolia, Vietnam, Korea Selatan, Laos, Myanmar, Filipina, Timor-Leste, dan Indonesia.

Malaysia

Sementara pemerintah Malaysia melalui Deputi Kementerian Agrikultur dan Industri Agro Sim Tze Tzin menyatakan turis juga dilarang membawa masuk produk berbahan babi ke Malaysia. Petugas keamanan bandara di Malaysia akan memeriksa bawaan penumpang dengan ketat. Apalagi ini puncak musim liburan dan banyak turis masuk.

Dilansir dari The Phnom Penh Post, Pemerintah Malaysia melarang peredaran babi dan produk turunannya sejak 13 Desember 2019. Larangan ini menyusul flu babi Afrika yang tengah mewabah. “Industri babi lokal nilainya 5 miliar ringgit Malaysia (Rp 16,8 miliar) dan 93 persen memenuhi kebutuhan. Pelarangan ini tidak akan memengaruhi penjualan babi di Malaysia,” kata Sim.

Menurut Sim, hanya tujuh persen babi yang diimpor. Masyarakat tak perlu khawatir harga babi akan naik karena larangan ini. Sejak November tahun lalu, Malaysia sebenarnya sudah menghentikan impor produk berbahan babi, termasuk daging babi yang dibekukan.

Produk yang dilarang berasal dari 10 negara yang terkena wabah flu babi Afrika. Kesepuluh negara itu yakni Kamboja, China, Mongolia, Vietnam, Korea Selatan, Laos, Myanmar, Filipina, dan Timor-Leste. Indonesia menjadi negara ke-11 yang terkena wabah ini. Kini, produk dari Indonesia juga dilarang masuk. “Kementrian Kesehatan akan merazia pusat perbelanjaan, restoran, dan toko makanan untuk memeriksa produk berbahan daging babi,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo membenarkan flu babi Afrika sudah mewabah di Indonesia. Hingga 11 Desember, jumlah babi mati di Sumatera Utara (Sumut) akibat virus hog cholera atau kolera babi sudah mencapai 27.070 ekor di 16 kabupaten.

Matinya puluhan ribu babi itu terjadi sangat cepat. Dalam satu hari, angka kematian yang terlapor rata-rata 1.000 – 2.000 ekor per hari. Balai Veteriner Medan sudah menyatakan babi yang mati selain terjangkit hog cholera, juga terindikasi virus demam babi afrika atau African Swine Fever (ASF). (*)

Endy Poerwanto