Turis Asing Usir Turis Lokal yang Berwisata di Pulau Cubadak

0
2014
Pulau Cubadak Sumatera Barat

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Di saat Indonesia melancarkan promosi pariwisata, muncul Video menghebohkan yang diunggah di dunia maya. Dalam video itu, tampak beberapa wisatawan mancanegara yang tengah diberwisata di Pulau Cubadak kabupetan Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dengan seenaknya mengusir wisatawan lokal yang juga hendak mendatangi pulau Cubadak.

Video berdurasi 21 menit 37 detik itu dimuat di YouTube oleh akun Watchdoc Documentary Maker. Di dalam video berjudul ‘Ondeh Mandeh’, terlihat turis asing bersama pengelola kawasan Pulau Cubadak mengusir seorang fotografer dan videografer yang ingin mengabadikan keindahan pulau yang dinilai sebagai “Raja Ampat”-nya wilayah Barat.

Aksi pengusiran yang tak jelas penyebabnya, juga kerap melanda wisatawan lokal yang akan berwisata di Pulau yang asri, sejak, nyaman dan aman. Darpius, warga juga tokoh masyarakat adat Mandeh, menceritakan pengalamannya selama membawa wisatawan Indonesia maupun masyarakat lokal yang ingin mengunjungi Pulau Cubadak.

Ketika kapal pembawa rombongan merapat ke Pulau Cubadak, tampak Darpius berusaha meminta izin kepada seorang bule yang sedang bermain bersama anaknya di dermaga. “Kita orang lokal, paham di sini seperti apa. Biasanya diberi izin sebentar, paling lama setengah jam,” kata Darpius yang kerap menjadi tour guide bagi wisatawan yang ingin berwisata di Pulau Cubadak.

Video tersebut memperlihatkan juga beberapa wisatawan asing sedang berjemur di pantai mengenakan bikini. Ada juga yang sedang duduk-duduk hanya mengenakan pakaian seadanya. Aktivitas di pulau itu cenderung sepi.

Penolakan sempat terjadi ketika seorang videografer sedang mengambil gambar. Ada juga seorang bule lelaki yang tiba-tiba teriak dari kejauhan dan melarang aktivitas tersebut. “Jangan buat foto begitu, minta izin dulu,” kata seorang bule di kapal tersebut.

Kejadian pengusiran dialami seorang fotografer ketika sedang mendokumentasikan keindahan pulau itu. Ia dihampiri oleh seorang perempuan bule yang diduga membawa gelas berisi bir, yang kemudian disebut sebagai pengelola pulau. Ia mengaku diusir karena tidak memiliki izin.

“Tadi saya ambil gambar, tapi dilarang. Padahal, saya ambil pondok aja, bukan orang, tapi dilarang,” kata juru kamera tersebut.

Darpius kemudian menanggapi hal itu. Ia tak melarang jika ada yang kurang puas terhadap pengelola. Ia pun mengakui pengelola saat ini kurang ramah. “Silakan diekspos saja, yang sekarang memang kurang ramah, (padahal) yang pemilik lama ramah,” kata Darpius.

Tak lama kemudian, pengelola tersebut kemudian tampak menghampiri Darpius. Ia kemudian mengingatkan tidak boleh ada dokumentasi di pulau tersebut tanpa izin dari dia. “Kalau yang saya tidak setuju jangan, pergi sekarang!” hardik pengelola tersebut sembari pergi membelakangi Darpius.

Darpius kemudian mengutarakan kekecewaannya. Ia menilai pengelola saat ini sudah merasa pulau itu miliknya, bukan disewakan. “Kalau dengan Mister Nani (pengelola sebelumnya) tidak, tapi pengelola sekarang merasa ini milik dia. Pemerintah harus bersikap,” sarannya.

Darpius menilai, ulah bule pengelola itu yang berani mengusir masyarakat dan wisatawan lokal ialah karena ia punya beking. Ia pun bercerita sebelumnya ada juga pejabat tinggi yang diusir oleh pengelola. “Dia lakukan ini juga pernah ke Wakapolda, pernah diusir. Petinggi di sini juga pernah diusir,” kata Darpius.

Meski kesal dengan pengelola, Darpius sadar kesalahan bukan hanya ada di pihak pengelola semata. Ia menilai ada pembiaran dari masyarakat yang membuat pengelola menjadi arogan.

“Dia juga tidak bisa kita salahkan. Masyarakat bisa juga disalahkan karena melakukan pembiaran. Dia harusnya tahu ini milik negara, bukan pribadi. Jangan biarkan tamu-tamu lain komplain lalu image di sini jadi tidak baik,” papar Darpius seperti diunduh laman Kompas.com, Selasa (21/10/2014).

Masyarakat setempat mengingatkan, status pulau tersebut adalah hak ulayat masyarakat adat, tidak bisa diperjualbelikan. Tanah dan pulau tersebut hanya diperbolehkan disewa untuk dipergunakan. Itu pun ada beberapa persyaratannya selama tidak melanggar adat setempat.

Meski begitu, ada alasan mengapa bule di kawasan Pulau Cubadak mengusir warga. Pengakuan seorang penjaga pulau mengutarakan alasannya.

“Istilahnya orang awam yang datang melihat orang bule berjemur itu kaget, matanya sampai melotot, kan orang sini tidak biasa melihatnya. Gara-gara itu tidak bisa masuk lagi,” kata seorang penjaga pulau.

Sejak diunggah ke Youtube pada 16 Oktober 2014, Selasa (21/10), video berdurasi 21 menit 37 detik tersebut telah ditonton lebih dari 22 ribu kali. Beragam komentar pun mengalir terhadap aksi arogan bule-bule tersebut. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.