TOT Dai Majelis Ulama Indonesia penuhi kebutuhan komunitas internasional

0
631

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kebutuhan akan Dai Indonesia di  luar negri sudah mendesak terutama di Amerika Serikat, Eropa dan Australia apalagi menjelang bulan Ramadhan. Hal ini di dorong tingginya jumlah diaspora Indonesia di mancanegara dan kehausan spiritual yang tinggi, kata Din Syamsuddin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), hari ini (26/5)

Berbicara usai pembukaan training for trainer para Dai dari seluruh Indonesia di Menara 165, Din mengatakan untuk Amerika Serikat memang sudah beberapa kali meminta Dai Indonesia yang bisa menetap karena jumlah Dai lokal terbatas. Sementara mencari Dai yang multi bahasa juga tidak mudah karena bukan untuk kebutuhan diaspora Indonesia di sana saja tetapi juga untuk komunitas internasional.

“Itulah sebabnya melalui pelatihan training for the trainer untuk Dai dari seluruh Indonesia  yang berlangsung 25-29 Mei 2015, MUI berharap para Dai terus meningkatkan kompetensinya untuk berdakwah termasuk dalam hal bahasa asing. Perilaku, sikap dan budaya yang ditampilkan Dai adalah bagian dari sebuah syiar jadi Dai internasional bisa ikut mewakili citra bangsa,” tambah Din Syamsuddin.

Pihaknya belum meneliti apakah perilaku, sikap dan budaya dari seorang Dai Indonesia nantinya akan membuat masyarakat internasional datang berbondong-bondong ke Indonesia untuk menjadi wisatawan atau belajar ilmu agama, tapi yang jelas akan membawa harum agama dan nama Indonesia , tambahnya.

“Sejak tahun 2000 saya sudah terlibat dalam Peta Dai nasional namun pemetaan masih terbatas jumlah mesjid, jumlah Dai, jumlah Majelis Taklim di seluruh Indonesia. Peta dakwah yang dibutuhkan adalah mereka yang benar-benar memiliki ilmu agama yang mumpuni sesuai ajaran Al-qur’an dan hadist serta punya tingkatan pula apakah sebatas pendakwah komunitas lokal, nasional maupun sudah internasional,” kata Din Syamsuddin didampingi para tokoh MUI lainnya.

Hadir Kyai H. Ma’ruf Amin, Tuty Alawiyah, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan,   Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI yang juga sekaligus Dewan Pembimbing Syariah ESQ. Sementara diantara undangan hadir Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ LC dan Ustad Yusuf Mansyur yang sekaligus juga memberikan kuliah umum bagi mahasiswa ESQ Bussiness School di gedung yang sama.

Din Syamsudsin mengatakan saat ini yang dibutuhkan adalah Dai yang mampu berfungsi sebagai Dai pengembang masyarakat ( community development) bukan kehadiran Dai semusim seperti halnya yang hinggap dari satu mimbar TV ke mimbar TV lainnya terutama di bulan Ramadhan, namun ada diantaranya yang  tidak memiliki ilmu agama mumpuni atau sekedar dikenal sebagai Dai Seleb.

Saat ini di Indonesia telah terjadi buta aksara moral, robohnya akhlak hingga dosen atau pendidik jadi pemadat, professor, pejabat pemerintah, pengusaha di panggil KPK karena korupsi dan bertumpuk fenomena krisis robohnya jati diri bangsa yang justru melanda orang-orang berpendidikan tinggi.

“Para Dai harus memahami krisis nasional ini dan pandai menyesuaikan isi dakwah dengan  situasi yang terjadi dan kehidupan masyarakat kita yang tiba-tiba tak mampu mengambil manfaat baik dari kecanggihan tekhnologi IT. Ada dampak negatif sistemik yang luar biasa di berbagai bidang dan jika akhlak runtuh maka runtuhlah kita sebagai bangsa,” tegas Din Syamsuddin.

Pelatihan TOT Dai selama lima hari adalah upaya untuk menyelamatkan akhlak bangsa sehingga para Dai dapat memberikan bimbingan yang tepat sasaran dan bukan hanya menyampaikan tafsir Al-Qur’an tetapi harus mampu membuat seseorang mau berhijrah untuk memperbaiki akhlak bangsa karena itu tema TOT yang dipilih adalah Supremasi Akhlak Karimah Untuk Jatidiri Bangsa Indonesia yang Bermartabat.

Para Dai selain harus menyelenggarakan training Dai pula di daerahnya masing-masing, juga harus memahami bahwa di Indonesia ini jumlah penduduk muslim mencapai 207 juta orang atau 87,84% dari total penduduk Indonesia. Tahun depan, RI mencapai puncak “bonus demografi” sampai 2019 dimana proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 %.

“Bonus demografi menjadi sebuah keuntungan, jika penduduk usia produktif berkualitas. Tetapi, menjadi bencana ketika penduduk usia produktif dalam kondisi pendidikan rendah, keahlian rendah, serta kondisi kesehatan buruk, yang membuat tidak dapat berproduksi secara optimum dan akhlaknya roboh,” kata Din Syamsuddin.

Di samping itu adanya Pasar Bebas  Asean (MEA) awal 2017 akan membuat arus barang, jasa dan sumber daya manusia sudah tidak ada batasan lagi. Hal-hal inilah yang akan menjadi tantangan bagi para Dai sehingga bisa mendorong  umat muslim sedekat mungkin dengan sang penciptanya yaitu Allah Swt. “Para Dai harus mampu membimbing umat untuk berhijrah lalu berjihad untuk membangun peradaban yang melahirkan umat yang baik dan membuahkan akhlak karimah bagi bangsa ini,” tegasnya.

Sayangnya untuk memetakan para Dai dan meningkatkan kemampuan ilmu agamanya,  bahkan pemerintah atau Kementrian Agama belum dapat menyalurkan dana-dananya untuk membiayai pelatihan. Sebagai negara muslim terbesar, Majelis Ulama Indonesia berharap dapat melatih 50.000 Dai di seluruh Indonesia kemudian target itu dinaikkan menjadi 150.000 orang seiring robohnya akhlak masyarakat. Namun kondisi ini belum di dukung dengan pembiayaan TOT yang memadai sehingga kebutuhan dana yang mendesak untuk memperbaiki akhlak bangsa itu belum ada realisasinya sehingga harus dilakukan swadana oleh ormas Islam ( hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.