Tolak Reklamasi “Berbaju” Revitalisasi Teluk Benoa Barisan 18 Desa Adat Lumpuhkan Tol Bali Mandara

0
1836

MANGUPURA, test.test.bisniswisata.co.id,- BERGERAK dari empat (4) titik kumpul, masyarakat krama 18 desa adat di wilayah pesisir Bali Selatan dan masyarakat peduli Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa, menuju pintu jalan tol Bali Mandara, melumpuhkan arus lalu lintas jalan tol, Minggu 28 Februari siang hingga sore.
Demo akbar yang kesekian kalinya ini, tidak hanya mempersatukan masyarakat Bali juga menarik perhatian warga negara asing di Bali dan wisatawan domestik. Bahkan tidak sedikit dari mereka meluangkan waktu khusus untuk melihat, menyimak dan mengumpulkan informasi hal penolakan tersebut. Pendemo pun berjalan santun dengan yel- yel penolakannya diantra kibaran spanduk- spanduk.

people power
Government should hear people’s voice and talk with people more (seyogyanya pemerintah mempertimbangkan suara rakyatnya),’’ ungkap Hiroi warga Jepang yang menjadikan Bali soko guru pengembangan kepariwisataan di kampungnya di Jepang. Sebagai wisatawan mau pun akademisi, dia juga tidak sepakat dengan reklamasi, mengkhawatirkan perkembanga pariwisata massal di Bali. Penolakan tersebut tidak hanya factor environmental conservation, budaya, adat dan lainnya.
“Ketidak nyamanan, kehilangan inti, identitas Bali. Saya percaya ada banyak wisatawan seperti saya. Ada juga yang tidak peduli, tidak melihat perjuangan masyarakat Bali menolak reklamasi,’’ tuturnya lebih lanjut.
Seorang wisatawan Amerika – seorang dari sekian banyak wisman — yang sejak awal aksi demo akbar masyarakat adat, sibuk bertanya- tanya pada peserta demo, kemudian mengirim gambar dan pesan melalui telepon genggamnya mengakui, jika dia salah seorang dari sekian banyak wisatawan yang peduli perjuangan masyarakat Bali menolak reklamasi. “Bagian dari etika wisatawan, kami pun punya tanggungjawab moral terhadap destinasi wisata yang kami kunjungi,’’ jelasnya menjawab test.test.bisniswisata.co.id.
Jika eksploitasi lingkungan yang berdampak langsung terhadap sosial budaya masyarakat atas nama pariwisata ini berlanjut, Bali tidak hanya kehilangan identitasnya. Juga kehilangan pasar yang berkualitas.

Wisman menonton dan menebar laporan pandangan mata

“Wisatawan ke Bali karena keunikan, keberbedaan budayanya,’’ tegas warga Perancis yang hadir bersama teman- temannya di pintu masuk P Serangan dan dia bersama teman- teman turut serta mengikuti gerakan masyarakat menuju pintu tol Bali Mandara.
“Penolakan ini pun sudah sampai ke dunia internasional ya. Gerakan warga dunia menolah reklamasi Benoa, makin gencar di negara kami,’’ ungkap seorang warga Jerman disela kesibukannya mengambil gambar.
Delapan belas desa adat yang secara tegas menolak apapun bentuk reklamasi dengan segala pembenarannya di kawasan suci Teluk Benoa adalah desa adat Tanjung Benoa, Bualu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, Kuta,Legian, Seminyak, Kerobokan, Canggu, Berawa, Buduk Mengwi. Wilayah Pemkot Denpasar, desa adat Pemogan , Kepaon, Pedungan, Sesetan, Serangan, dan Sanur.

Dipimpin bendesa adat masing- masing masyarakat pekraman melangkah pasti menyuarakan penolakannya.
“Desa adat sudah ‘turun’, sebaiknya pemerintah mendengarkan,’’ imbuh Hiroi, mahasiswa program doktoral yang menjadikan pariwisata kerakyatan berbasis ekologi (ipoleksosbud Hankam) Bali, sebagai kajian disertasinya. (dwi/[email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.