Toilet di Tempat Wisata masih Menyedihkan

0
1483
Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia (dua dari kiri), pada acara "Gerakan Toilet Higienis Domestos 2014"

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Toilet di tempat-tempat wisata di penjuru nusantara, masih menyedihkan. Kondisinya sangat jorok, kotor, berbau, menjijikan dan tak memenuhi syarat standar kesehatan. Sayangnya, pemerintah pusat apalagi pemerintah daerah kurang memperhatikan masalah ini, juga tak punya kepedulian terhadap kebersihan toilet.

“Bagaimana wisatawan mancanegara mau datang ke Indonesia, kalau melihat kondisi toiletnya kayak begitu. Kotor, jorok, berbau, menjijikkan. Karena itu, jumlah kunjungan turis asing ke Indonesia nggak pernah naik drastis,” papar Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia, kepada test.test.bisniswisata.co.id pada acara “Gerakan Toilet Higienis Domestos 2014” di Plaza Indonesia, Jakarta, Selasa, 18 November 2014.

Saat ini, lanjut Naning, wisatawan asing semakin cerdas sebelum datang berwisata di destinasi wisata. Mereka membuka
google dengan mencari informasi tentang kondisi daerah wisata, makanannya hingga kondisi kebersihan toilet. “Apalagi pariwisata Bali pernah kena isu kasus penyakit kolera yang menyerang wisatawan asal Jepang. Masalah inikan seharusnya menjadi pelajaran berharga,” lontarnya.

Naning juga merasa heran dengan kondisi toilet di tempat pariwisata di Indonesia. Ia membandingkan, Kota Durban di Afrika Selatan yang sudah memiliki toilet bersih. “Afrika Selatan itu merdeka pada 1992, sementara kita pada 1945,” katanya membandingkan.

Apalagi dibaningkan dengan destinasi wisata di Malaysia, Singapura bahkan Vietnam, ternyata Indonesia jauh tertinggal. Penyebanya, kesadaran dan kepedulian menciptakan toilet bersih sangat kurang bahkan jauh dari harapan. Melihat kenyataan banyaknya toilet yang kurang higienis, maka perlu dilakukan edukasi untuk mengubah perilaku, karena toilet yang tidak bersih dapat menyebabkan berbagai penyakit, tambahnya.

Data dari Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebutkan, sebanyak 40,2 persen penduduk di Indonesia, belum mendapat akses sanitasi dan air minum yang layak. Dari Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang dijalankan sampai tahun 2013, persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak, sebesar 59,71 persen seperti yang disurvei oleh Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas).

Menurut Naning, pada 2014, angka tersebut ditargetkan mencapai 60,36 persen. “Pada tahun 2020 kita harus jadi bangsa yang sehat, karena pada tahun 2020 banyak terjadi urbanisasi,” katanya.

Bukan hanya di tempat wisata, lanjut dia, di sekolahan kondisi toilet malah tambah parah. Dari 100 sekolah di Jakarta lebih dari 90 persen punya toilet tidak layak. “Kita harus ubah mind set. Tidak lagi membiarkan alam yang akan membereskan semua kotoran yang ada,” katanya.

Pada 2005, PBB lewat WHO menyebut hak anak untuk mendapatkan toilet bersih dan juga tersedia tempat cuci tangan.
Beberapa kondisi memprihatinkan yang sering ditemui pada toilet sekolah, katanya, antara lain jumlah toilet tidak mencukupi sesuai jumlah murid sekolah, tidak tersedianya air bersih dalam jumlah yang cukup di dalam bak air, kloset yang tidak bersih, bau, serta tidak adanya tempat cuci tangan yang memadai.

Domestos lewat PT Unilever Indonesia Tbk menggelar program Gerakan Toilet Higienis yang telah menjangkau lebih dari 1.900 sekolah sejak dicanangkan pada 2011. Kali ini melibatkan peran aktif para ibu untuk menyuarakan kepedulian mereka tentang pentingnya toilet di sekolah yang higienis melalui saluran digital. Para ibu ini berlokasi di Pulau Jawa. Pada 30 Oktober 2014, terpilih 25 sekolah yang akan diperbaiki higienitasnya.

Untuk mewujudkan toilet yang bersih dan sehat, Domestos, merek pembersih toilet dan porselen terus mengembangkan Gerakan Toilet Higienis, sebuah gerakan yang dimulai sejak 2011. Domestos terus memperluas gerakan Toilet Higienis dengan menambah jumlah sekolah yang akan dikunjungi dan melibatkan para ibu, agar semakin banyak anak-anak dan keluarga Indonesia peduli dengan kebersihan toilet.

Imee Putri, Brand Building Domestos, mengatakan pihaknya secara konsisten mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pentingnya menjaga kebersihan toilet melalui berbagai cara, salah satunya melalui program Gerakan Toilet Higienis.

“Melalui program ini kami membersihkan toilet sekolah sambil terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama anak-anak untuk memiliki kesadaran menjaga higienistas toilet sebagai salah satu bentuk perilaku hidup bersih dan sehat,” kata Imee sambil menambahkan alasannya memilih anak-anak dan toilet sekolah, karena anak-anak merupakan generasi penerus dan berpengaruh pula untuk kebiasaan bersih di rumah.

Dokter spesialis anak Rouli Nababan mengatakan toilet yang tidak higienis merupakan tempat bersarangnya berbagai jenis kuman untuk berkembang biak menjadi sangat banyak dalam waktu singkat, sehingga berpotensi menjadi sumber penyakit membahayakan yang pada akhirnya menggangu kesehatan murid untuk belajar.

Rouli mengaku sering menemui orangtua yang mengeluhkan penyakit pada anaknya yang diakibatkan toilet sekolah yang tidak higienis seperti diare, infeksi saluran pernapasan, tifus, disentri, bahkan infeksi saluran kencing.

“Dengan adanya berbagai risiko penyakit yang mengintai, sangat penting bagi orangtua untuk menanamkan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak-anak. Hal ini dimulai dengan melakukan kebiasaan kecil seperti selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah buang air, menyiram urin atau tinja hingga bersih, dan lainnya,” kata Rouli yang juga praktik di RS Omni Pulomas itu. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.