Tenun Tanimbar Pikat Pemerhati Busana Jepang

0
446
pemotretan tenun Tanimbar di Ginza Tokyo

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Kearifan lokal kain tradisional nusantara kian melalang buana. Kini, tenun Tanimbar asal Maluku Tenggara Barat (MTB) diperkenalkan di negara matahari terbit. Hasilnya kerajinan tangan itu, sangat menggembirakan bahkan memukau para pemerhati busana di Jepang.

Keberhasilan ini tak luput peran para pengrajin tenun, Pemda MTB, perusahaan minyak dan gas bumi INPEX, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dan desainer Wignyo Rahardi. Acara promosi tenun Tanimbar di Jepang digelar Kamis (6/4), di KBRI Tokyo. Untuk menunjukan kualitas tenun Tanimbar tidak kalah bahkan mampu bersaing diantara merek terkenal di Tokyo, dilakukanlah fashion show dan pemotretan di Ginza.

“Kita sengaja mengambil pemotretan di Ginza, salah satu tempat perbelanjaan berkelas dan tersibuk di Jepang. Kenapa? Karena semua barang-barang branded di seluruh dunia ada di sana. Dengan pemilihan tempat tersebut, diharapkan juga tentun Tanimbar bisa sejajar dengan merek-merek di sepanjang Ginza street.” jelas Wignyo Rahardi dalam keterangan tertulis yang diterima Bisniswisata.co.id, Sabtu (13/05/2017).

Motif dan warna tenun Tanimbar sendiri pun cukup beragam. Mayoritas berciri garis yang diselingi dengan corak yang umumnya diadaptasi dari alam dan aktivitas sekitarnya. Mulai dari kebiasaan memancing dan berburu, sampai keindahan alam, semuanya tergambar dalam corak-corak di kain tenun.

Tak lupa sarat akan filosofi dan adat istiadat penduduk setempat harus dituangkan dalam kain tersebut. Salah satu motif yang menjadi primadona adalah motif tulang ikan. Lalu ada motif tunis yang berbentuk anak panah tunggal sebagai simbol kewaspadaan masyarakat Tanimbar terhadap ancaman.

“Untuk koleksi di Jepang, saya terinspirasi dari pakaian tradisi Jepang, saya mengadaptasi model kimono, hakama dan obi dengan tema “Metamorphoseast”. Saya mengangkat motif ulerati atau ular kecil yang melambangkan kecintaan masyarakat lokal pada lingkungan hidup serta bentuk apresiasi mereka terhadap metamorfosa ulat sebagai proses alami kehidupan.” ungkap desainer ulung itu.

Promosi tenun Tanimbar di Jepang itu pun menuai tanggapan positif, mulai dari pemerhati busana di Jepang sampai istri Menteri Perdagangan Enggartiarso Lukita, Peggy Lukita. Secara umum mereka terkesan dan tertarik dengan motif Tanimbar yang terlihat elegan dan bisa dikombinasikan dengan bentuk busana luar negeri, seperti Jepang.

“Tenyata banyak pecinta fesyen dari Jepang, India dan beberapa negara lain terpukau dengan motif dan desain busana tenun Tanimbar. Tetap sayangnya untuk saat ini, kami memang belum menjual produksi busana untuk pasaran luas,” tutur desainer yang aktif sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Selain itu, perwakilan dari INPEX, Donny juga mengatakan bahwa tantangan produksi tentun Tanimbar itu sendiri berasal dari sumber daya manusianya.

“Tentu tantangan untuk memproduksi dan menjual tentun Tanimbar sampai go international itu berada di kesiapan sumber daya manusianya itu sendiri. Untuk itu, INPEX akan berperan aktif untuk mempersiapkan penenun-penenun andal di lokal agar siap menerima dan membuat pesanan untuk busana yang lebih berkelas,” sambungnya. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.