Tenun Lurik Tetap Dilirik

0
762
Pengrajin Tenun Lurik Yogya (Foto:VIVA.co.id)

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Salah satu warisan budaya dari Yogyakarta adalah kain lurik. Dulu, lurik digunakan sebagai pakaian adat atau sorjan di kalangan keraton. Motifnya yang khas dengan garis-garis vertikal melambangkan kekhasan dan ksederhanaan bagi para pemakainya.

Hingga kini, eksistensi kain lurik tetap dipertahankan. Salah satunya home industry di daerah Krapyak Wetan RT 11/56 228 Krapyak, Sewon, Bantul, yang terkenal dengan nama Tenun Lurik Kurnia. Pendirinya adalah Dibyo Sumarto.

Ia dengan teguh memperjuangkan tenun lurik. Awalnya, Dibyo menjadi pengrajin di usaha tenun milik orang lain. Dari mengikuti usaha orang, pada 1962 ia lantas memutuskan untuk membuka rumah produksi pribadi di daerah Krapyak Wetan.

Hingga kini, Tenun Lurik Kurnia – home industry tenun lurik masih tetap bertahan di Yogyakarta. Pada 2008, Dibyo Sumarto berpulang dan meninggalkan hasil perjuangannya melestarikan tenun lurik. Tenun Lurik Kurnia berpindah tangan ke Jussy Rizal, salah satu cucu Dibyo Sumarto.

Jussy Rizal mengaku tidak pernah berpikir akan meneruskan usaha milik kakeknya, setelah dirinya lulus dari bangku perkuliahan. Jussy Rizal pun belajar menenun bersama kakeknya dan dipercaya untuk meneruskan Tenun Lurik Kurnia.

Ia berjanji akan terus meneruskan pesan dari kakeknya. Meski, usaha ini bukan tanpa kendala. “Seiring waktu, motif lurik semakin hilang di masyarakat, terkadang hanya kusir andong yang memakainya” ujar Jussy seperti dilansir laman Republika.co.id, Sabtu (07/01/2017).

Proses pembuatan lurik dengan cara modern sudah banyak dilakukan sejumlah pengrajin. Berdasarkan prinsip untuk mempertahankan tradisi budaya, lurik dengan alat dan cara tenun yang masih tradisional tetap dipertahankan oleh Tenun Lurik Kurnia.

Tenun berarti menghasilkan motif sekaligus kain. Berbeda dengan cara modern yang hanya membuat motif dari kain yang sudah ada. Proses ini harus melalui lima tahap untuk menghasilkan tenun lurik yang berkualitas.

Pertama, pewarnaan dengan cara memberikan warna pada benang-benang yang telah dikumpulkan menjadi satu. Kedua, dibuat sesuai motif yang diinginkan. Ketiga pemintalan yaitu merapikan benang di bambu-bambu kecil untuk nantinya di susun menjadi motif.

Keempat, penghanian atau tahapan pembuatan motif yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, dengan cara menyusun berbagai macam warna benang yang sudah siap ditenun untuk menghasilkan motif yang menarik. Kelima, proses tenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Tenun lurik mempunyai beragam motif, di antaranya motif telupat yang sangat sederhana dengan garis-garis vertikal berjumlah tujuh garis dalam setiap kelompoknya. Kemudian motif udan liris, melambangkan kesuburan yang lebih sering digunakan oleh para pemimpin atau penguasa pada zaman dahulu. Terakhir, motif sapit urang, bercerita tentang siasat dalam berperang.

Jussy menjelaskan, selama ini ia memperoleh bahan untuk membuat tenun lurik dari pabrik di daerah Klaten yang sudah menjadi langganan. Benang katun dan pewarna didatangkan langsung dari pabrik-pabrik yang sudah dipercaya sejak Dibyo Sumarto masih ada.

Benang atau lawe juga memiliki keunggulan masing-masing. Adapun harga tenun lurik yang dijual disesuaikan dari kualitas benang bukan dari motif yang dihasilkan, tetapi rata-rata Tenun Lurik Kurnia menjual hasil produksinya kepada konsumen langsung maupun penjual lurik di pasaran dengan harga Rp 30 ribu – Rp 50.500 per meter persegi.

Ada sekitar 50 pengrajin di dalam rumah produksi yang menjadi satu dengan outlet resmi Tenun Lurik Kurnia. Setiap pengrajin diminta untuk menghasilkan 5-7 meter tenun lurik per harinya, dimulai sejak pukul 08.00 WIB sesuai waktu jam kerja. Sistem yang dipakai untuk memberi honor bagi setiap pengrajin adalah dengan menghitung berapa meter banyaknya hasil tenun yang telah dibuat.

Pengrajin yang sebagian besar sudah lanjut usia itu tetap setia dengan tugasnya masing-masing, mereka bekerja sudah sejak usia muda hingga sekarang. Mengapa memilih untuk tetap tinggal menjadi seorang perajin disana, setiap orang memiliki alasannya masing-masing.

“Sudah 30 tahun bekerja di sini, mba. Awalnya waktu masih muda mungkin umur 15 tahun. Bingung mau kerja apa jadi disini sampai sekarang,” jelas Ibu Kusnah, salah satu pengrajin di bagian pemintalan-menyatukan benang-benang mengggunakan kayu-kayu kecil dengan dililitkan untuk nantinya di tenun-.

Home industry ini hanya membuka satu outlet bersamaan dengan tempat produksi di daerah Krapyak dan didistribusikan ke Pasar Beringharjo, di kios milik Tenun Lurik Kurnia sendiri. Produksi tenun lurik ini juga sudah diekspor ke daerah Asia Tenggara.

Tak hanya itu, Tenun Lurik Kurnia pernah berkesempatan bekerja sama dengan salah satu perusahaan di Selandia Baru. Seiring perkembangan, inovasi pun terus dilakukan oleh pemiliki usaha tenun lurik ini. Berbagai produk sudah banyak dihasilkan yaitu tas wanita, asesoris, tas belanja, dompet, sepatu, kaos, dan sprei

Produk-produk itu dihasilkan dengan memanfaatkan limbah dari sisa benang atau tenun lurik. Tenun Lurik Kurnia kini sudah diakui oleh Disperindagkop (Dinas Perindustrian, perdagangan, koperasi dan UKM Jogja) sebagai pelaku UMKM. Tetapi, kata Jussy, usaha Tenun Lurik Kurnia sejak awal sudah memutuskan untuk menjadikan sebagai usaha mandiri.

Sejumlah fasilitas dan bantuan dari dinas terkait seperti mengikuti berbagai pameran tetap diterima oleh Tenun Lurik Kurnia. Keunggulan dari produk tenun lurik ini yaitu produsen tetap mempertahankan tradisi yang ada. Tenun lurik buatan tangan langsung (handmade) ini tidak membuat minat masyarakat berkurang, justru keaslian kain ini membuatnya banyak dilirik, terutama para wisatawan mancanegara yang tertarik dengan tenun lurik.

Mereka mempunyai alasan bahwa kualitas tenun dari ATBM menghasilkan kerapatan kain yang unik. Dikatakan, kestabilan kerapatan kain bukanlah yang mereka cari. Proses yang sangat tradisional tetapi menghasilkan identitas budaya menjadi alasan tenun lurik layak untuk dipertahankan.

Sebuah warisan seni dari nenek moyang yang patut dilestarikan, ujarnya, lurik pun tidak hanya digunakan oleh para petinggi-petinggi kerajaan. Tetapi sekarang masyarakat umum juga dapat menikmati warisan yang satu ini dengan berbagai motif yang ditawarkan.

Upaya mempertahankan tenun lurik menjadi pesan sang pendiri Tenun Lurik Kurnia, seperti terpampang dalam sebuah kutipan kalimat yang tertera di dinding home industry itu :

“Saya mungkin tidak ‘menangi’ (melihat) masanya generasi muda ini memiliki kebanggaan kepada tenun, tetapi saat ini saya telah mencoba melakukan sesuatu. Pertahankan lurik ini dan jadikan kebanggaan dengan memakai atau membuatnya. (*/REP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here