Tenun Ikat Pikat Masyarakat Prancis

0
563
Tenun Ikat NTT (Foto: tempo.co)

MARSEILLE PRANCIS, test.test.bisniswisata.co.id: Termaginalkan di negeri sendiri, namun berkibar di negara lain. Itulah kondisi tenun Ikat “Lawo Gamba” produksi Rumah Tenun Lepo Lorun dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berhasil memikat masyarakat Prancis. Pengunjung banyak tertarik tenun ikat, saat pameran seni Consul Art ke-4 2016, yang digelar selama 1,5 bulan di Maison de lArtisanat et des Mtiers dArt (MAMA) Kota Marseille, Prancis.

Selain pameran kain tenun ikat, juga digelar demonstrasi pembuatan sarung tenun ikat oleh Alfonsa Horeng pendiri Lepo Lorun, papar Konsul Muda Pensosbud KJRI di Marseille, Prancis, Indri Ardini Kesuma seperti dilansir laman Antara London, Kamis (20/6).

Dikatakan pameran diadakan KJRI Marseille bekerja sama Pemerintah Kota Marseille dan Muse des Arts Asiatiques kota Nice dalam rangka promosi tenun Ikat Flores sebagai salah satu traditional knowledge dan chef doevreIndonesia. Tenun Ikat Flores yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya/heritage Indonesia dan bukan kategori kerajinan tangan, melainkan traditional knowledge (HKI) dengan karya seni bernilai tinggi chef duvre.

Hal ini karena motif dan teknik menenun/weaving yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi, rumit dan berkelas, serta perlunya pengetahuan tentang bahan-bahan ramah lingkungan serta presisi yang pas dalam proses pewarnaan benang, membutuhkan kesabaran serta waktu berbulan-bulan dari mulai pemintalan benang sampai menjadi kain.

Pada saat demonstrasi, dipamerkan sejumlah kain tenun ikat Flores koleksi rumah tenun Lepo Lorun. Sekitar 260 penduduk setempat mendapatkan pemahaman yang lebih baik terkait teknik tenun ikat Flores, berharap presentasi budaya Indonesia diadakan secara reguler.

Museum Seni Asia-Nice dan MAMA menyatakan harapannya bekerja sama dengan KJRI Marseille serta berbagai institusi terkait di Indonesia. Tidak hanya dalam penyelenggaraan kegiatan secara reguler, tapi juga kerja sama lainnya yang melibatkan sharing of best practices guna meningkatkan wawasan SDM bidang Museum/Galeri Seni. Selain itu, Muse des Arts Asiatiques menawarkan untuk menjual produk seni Indonesia di butik souvenir mereka.

Rangkaian presentasi serta demonstrasi tenun ikat Flores di Marseille dan Nice tidak hanya memberikan peserta pengetahuan mengenai kekayaan intelektual Indonesia serta meningkatkan minat masyarakat Prancis bagian Selatan untuk berkunjung ke negeri ini, khususnya ke Flores, namun membuka peluang kerja sama antarseniman serta museum/galeri seni di Prancis bagian Selatan. (*/ANO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.