Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, ‘surga’ di tengah hutan beton ibukota negara

0
6080
Menyusuri hutan mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk dengan perahu motor berinteraksi langsung dengan burung, biawak di tengah hutan beton Jakarta

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Shafa memarkirkan mobilnya di depan sebuah kluster perumahan di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK). Gerbang pintu masuk kluster yang bentuknya seperti monumen kemenangan Arc de Triomphe, Paris menarik perhatian untuk foto selfie bersama rekan-rekannya.

Tepat di depan gerbang kluster perumahan itu berdiri bangunan besar sekolah milik Yayasan Tzu Chi berarsitektur Tiongkok yang mengundang Shafa kembali berfoto selfie di depan gedung itu. Dari nuansa Eropa, latar belakang foto langsung seperti tengah berwisata di Beijing, China.

“Kalau nggak salah informasi dekat gedung Tzu Chi ini lokasinya Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, sebuah hutan mangrove di kota Jakarta. Ayo kita jalan lagi ‎cari lokasi TWA Angke Kapuk itu” ajak Syafa memberi komando pada saya, Nenden dan Novi.

Benar saja hanya hanya beberapa ratus meter kurang dari  lima menit menyusuri jalan, mobil tiba di gerbang Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, salah satu tempat tujuan wisata yang bertemakan alam yang berada di daerah Jakarta Utara. Kawasan hutan mangrove untuk konservasi in melindungi kawasan itu dari abrasi laut dan dampak lingkungan lainnya.

 

trip twa - gabung

Definisi hutan bakau  (mangrove) menurut Steenis (1978) adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Sedangkan Nybakken (1988) memberi definisi hutan mangrove sebagai sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Setelah melewati pos penjagaan di kiri jalan ada jembatan kayu memanjang ke arah sebuah mesjid yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan berdiri di atas danau  yaitu Mesjid Al Hikmah. Saya berpisah dengan Syafa dan menyempatkan sholat dzuhur sejenak sementara mobil di haruskan terus jalan ke arah tempat parkir.

Dari Mesjid saya berjalan ke dalam sekitar 200 meter bergabung kembali dengan rombongan Syafa, bertemu di pos pemeriksaan. Selain diminta menunjukkan tiket seharga Rp 25.000/orang, tas bawaan diperiksa, karena ada larangan memotret menggunakan kamera, sedangkan memotret menggunakan ponsel diperbolehkan.

Jika tetap ingin memotret menggunakan kamera, akan dikenakan tarif Rp 1.000.000. Banyak pasangan yang akan menikah memanfaatkan TWA Angke Kapuk ini untuk pemotretan pre-wedding. Mereka boleh memotret sepuasnya seharian untuk berbagai kepentingan.  Di pos ini juga terdapat penitipan barang, karena makanan dari luar juga tidak diperbolehkan.

Taman Wisata Alam Angke Kapuk memiliki luas 99,82 HA. Kawasan ini didominasi lahan basah (danau) dengan vegetasi utama mangrove. Pengelola dulunya harus ‘memerangi’ petambak liar hingga akhirnya bisa direhabilitasi dengan tanaman antara lain bakau besar (Rhizophora mucronata Lam.), bakau merah/slindur (Rhizophora stylosa), tancang (Bruguiera gymnorrhiza), serta api-api/sia-sia (Avicennia alba). Jika dilihat dari spesiesnya, ada lebih dari sepuluh spesies

‎Beristirahat sejenak di restaurant yang menjual minuman dan makanan ringan. Mata saya tertumpu pada seorang wanita baya di depan sebuah villa yang ada. Murni Harahap, namanya, rupanya pengusaha yang mendapatkan hak selama 30 tahun dari pemerintah untuk mengelola kawasan konservasi alam itu. Dia tengah menunggu kunjungan Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama jajaran pejabat eselon satu dan dua.

“Beliau akan menanam pohon bakau dan mengelilingi TWA. Bagi mereka yang ingin menanam pohon kami siapkan dengan harga Rp 150 ribu/orang. Banyak keluarga, organisasi masyarakat, perusahaan dan sekolah -sekolah mengirimkan murid-murid untuk menanam mangrove (bakau),”jelasnya.

Tempat ini , ujarnya, untuk wisata pendidikan, wisata insentif dan menyediakan pula fasilitas penyelenggaraan pesta pernikahan. Jadi tidak perlu ke pulau Dewata untuk event bersifat sakral dan private. Dengan belasan karyawan yang ada dan beban pajak ‎, pihaknya mewajibkan semua pengunjung yang masuk untuk membayar retribusi.

“Bagi mereka yang sadar wisata bahwa kawasan ini untuk pendidikan konservasi dimana beragam burung, kepiting, biawak dapat hidup dengan aman, maka mereka dapat memahami sikap saya dimana untuk kepentingan konservasi alam kota Jakarta ini tidak mendapat dukungan dana dari pemerintah,” kata Murni Harahap.

Mendapat hak pengelolaan sejak 16 tahun lalu, Murni mengatakan kebahagiannya melihat pengunjung datang dari lintas generasi dari kakek,nenek, orangtua hingga anak-anak. Berwisata di TWA Kapuk ujarnya, bisa berkemah, menikmati wisata alam, pemotretan, pendidikan, penelitian,rekreasi keluarga dengan menginap di pondok wisata (villa), wisata air dan menanam mangrove dan memahami pentingnya konservasi.

Bersuamikan Bambang asal Surabaya, Murni Harahap tidak dikarunia anak, namun anak angkatnya dari berbagai instansi pemerintah cukup banyak sehingga di tempat ini Murni yang mendapat panggilan bunda sering dikangeni para cucu-cucu yang memanggilnya oma.

“Kalau anak-anak kecil yang kerap dibawa orangtuanya ke TWA Angke Kapuk memanggil saya oma perahu karena mereka senang berperahu dan melihat langsung biota laut yang hidup di hutan mangrove bersama orangtuanya,” kata Murni.

 

twa vila

Beragam biota hidup di ekosistem mangrove seperti kepiting yang sangat mudah untuk membuat liang pada substrat lunak yang ditemukan di ekosistem mangrove. Kepiting-kepiting dari famili Portunidae juga merupakan biota yang umum dijumpai. Kepiting-kepiting yang dapat dikonsumsi (Scylla serrata) termasuk produk mangrove yang bernilai ekonomis dan yang paling terkenal termasuk udang raksasa air tawar (Macrobrachium rosenbergi). Udang laut (Penaeus indicus , P. Merguiensis, P. Monodon, Metapenaeus  brevicornis) seringkali juga ditemukan di ekosistem mangrove.

Ada juga ikan Gelodok (Periopthalmus sp),Ikan penetap sementara, yaitu ikan yang berasosiasi dengan hutan mangrove selama periode anakan, tetapi pada saat dewasa cenderung menggerombol di sepanjang pantai yang berdekatan dengan hutan mangrove, seperti ikan belanak (Mugilidae), ikan Kuweh (Carangidae), dan ikan Kapasan, Lontong (Gerreidae).

Ikan pengunjung pada periode pasang air laut, yaitu ikan yang berkunjung ke hutan mangrove pada saat air pasang untuk mencari makan, contohnya ikan Kekemek, Gelama, Krot (Scianidae), ikan Barakuda, Alu-alu, Tancak (Sphyraenidae), dan ikan-ikan dari familia Exocietidae serta Carangidae.

Usai mengobrol sejenak dengan Murni Harahap, kami menyusuri hampir separuh wilayah TWA Angke Kapuk. Di Dermaga tersedia perahu boat dengan kapasitas 6-8 orang, kano dan perahu dayung. Menyusuri hutan bakau itu selama 15 menit, menerobos jalur diantara akar-akar pohon kita bisa melihat biawak, burung bangau berkaki panjang, burung pecuk berwarna hitam berbaris di tiang listrik.

Seolah sudah akrab dengan pengunjung, sejumlah burung-burung berkaki panjang tidak terusik dengan sorotan kamera yang ingin memotret. Burung itu berdiri di atas tonggak-tonggak kayu yang muncul di tengah rawa. Di beberapa sudut yang berbatasan dengan mangrove di tepi jalan Tol Sedyatmo menuju bandara Soekarno-Hatta, ada sejumlah pos jaga untuk menjaga ekosistem mangrove yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti kepiting dan udang dari para pembalak liar yang membuat pos tandingan di luar pagar TWA Angke Kapuk.

 

Berinteraksi dari dekat dengan penghuni hutan mangrove seperti burung, biawak bahkan monyet.
Berinteraksi dari dekat dengan penghuni hutan mangrove seperti burung, biawak bahkan monyet.

Dari awal mengelola hutan bakau, Murni mengatakan pihaknya harus menghadapi agresifnya para pembalak liar di sekitar hutan bakau sehingga harus membuat sejumlah pos penjagaan yang dijaga terutama pada malam hari sehingga akhirnya 40% kawasan bisa ditanami kembali dengan mangrove.

Berada diantara pohon bakau yang dikepung jalan tol dan gedung-gedung tinggi di kawasan PIK membuat saya merasakan sensasi alam  yang luar biasa. Di kepung hutan beton ternyata masih tersisa suatu tempat yang begitu tenang bahkan untuk bermeditasi dan mendekatkan diri pada sang Khalik.

Cara mencapai lokasi yang mudah juga memungkinkan warga Jakarta menghirup udara yang bersih dan peluang untuk berkumpul dengan keluarga tanpa harus memakan waktu berjam-jam untuk mencapainya.

Dari arah tol Bandara Soekarno-Hatta, keluarnya tol arah Kapuk Muara, PIK arah Waterboom, Golf dan Garden House. Kalau dari Tol JORR Lingkar Barat keluar PIK belok kiri lewat Garden House-TWA. Dari Pluit keluar Muara Karang dan kalau naik Busway arah Pluit turun di halte Penjaringan, transit ke PIK dan naik biskota terintegrasi Busway. Mudah kan ? tunggu apalagi ? ([email protected])

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.