Jaring Turis Perancis, TA Harapkan RI Fokus Produk Destinasi Unggulan

0
569

Atraksi budaya di Istana Paguruyung, Batu Sangkar, Sumatra Barat. ( foto: Hilda Ansariah Sabri).

PADANG, Sumbar, bisniswisata.co.id: Travel Agent (TA)  Perancis peserta Famtrip 2017 sarankan agar Kementrian Pariwisata fokus pada satu daya tarik utama yang diminati turis Perancis pada setiap destinasi unggulan yang tengah di promosikan.

Seperti diketahui Kementrian Pariwisata tengah mempromosikan destinasi unggulan di luar Bali di badan bus OPENTOUR yang berkeliling kota Paris dari 11 April-9 Mei 2017. Bus wisata itu beroperasi mulai jam 9.00 – 19.00 untuk meningkatkan kesadaran penduduk Paris maupun wisman yang datang keibukota Perancis itu tentang destinasi wisata di Indonesia.

“Rombongan sudah mengunjungi dua destinasi unggulan di Sumatra Utara dan Sumatra Barat tapi kami belum menemukan obyek spesifik yang diminati wisatawan Perancis karena itu ke depan agar rute kunjungan Famtrip disesuaikan dengan karakteristik atau profil dari wisatawan Perancis yang suka dengan keunikan dan otentik,” kata Tom Colmaire, travel agent Maco Vasco, Paris, hari ini.

Marco Vrasco, ujarnya, tidak menjual produk masal tapi lebih berfungsi sebagai travel agent yang membuatkan perjalanan sesuai dengan keinginan konsumennya ( tailor made). Oleh karena itu untuk kunjungan ke Pulau Samosir, Danau Toba maka jenis akomodasi yang dibutuhkan adalah butik hotel yang unik dan kental dengan budaya Batak.

“Turis Perancis memang suka eksplorasi keindahan alam, seni dan budaya, suka berinteraksi dengan penduduk lokal tapi tidak suka diburu-buru untuk belanja suvenir. Jadi dalam membuatkan program ke Pulau Samosir harus fokus dan selektif memilih akomodasi yang sesuai dengan keinginan kliennya,” tambah Tom Colmaire.

Akomodasi, ujarnya, tidak harus hotel bintang lima plus. Hotel butik yang unik dan tenang juga bisa jadi pilihan. Sayangnya Tom pada hari pertama kunjungannya di Sumut mendapat akomodasi di satu teluk di Danau Toba tapi tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan kecuali menikmati panorama.

Perusahaannya, Marco Vrasco sudah 10 tahun terakhir mengirim wisatawan ke Indonesia. Di awal tahun beroperasi masih ada klien yang mau berwisata ke Sumatra dan Sulawesi seperti Toraja, namun kemudian kunjungan di dominasi ke Bali dan Lombok.

“ Hal itu dipengaruhi liputan media yang hanya fokus pada Bali. Kalau mau meningkatkan kunjungan turis Perancis ke destinasi di luar Bali harus perbanyak Famtrip Pers ke destinasi di luar Bali,” ungkapnya.

Dristy, Yannick dan Tom di Bandara international Minangkabau. ( foto-foto: Hilda Ansariah Sabri)

Dristy Winta Septiani dari CFA travel Paris mengatakan promosi pariwisata Indonesia di Perancis jangan konsentrasi pada strategi komunikasi dan pemasarannya saja tapi justru kesiapan menawarkan produk unggulan.

“Kita harus belajar dari Thailand dan Myanmar mengapa lebih banyak wisatawan Perancis yang kesana daripada ke Indonesia padahal keindahan alam, seni dan budaya Indonesia lebih unggul dan beragam,” kata Dristy, wanita Indonesia yang mengambil S2 di kota mode itu dan kini meneruskan dengan pengalaman bekerja di sebuah travel agent di Paris.

Menurut Dristy, dari sisi harga paket tour dan waktu tempuh, Thailand sudah unggul dengan penerbangan langsung Paris-Bangkok selama 10 jam dan paket wisata seharga 1500 an euro. Sementara ke Indonesia harus ditempuh rata-rata 21 jam karena tidak ada penerbangan langsung dan harga paket untuk 2 minggu berkisar 2650 euro per orang.

“Thailand misalnya ke travel agent di Perancis sebenarnya hanya fokus jual satu paket yaitu Golden Triangle di Chiang Rai, Thailand Utara. Dari atas puncak bukit kita bisa lihat tiga negara yaitu Myanmar, Laos dan bagian utara Thailand,” kata Dristy.

Meski fokus utama Golden Triangle itu namun paket turunannya banyak karena kantor perwakilan Tourism Authority of Thailand ( TAT) di Paris membanjiri travel agent dengan informasi cetak dan audio yang beragam bahkan peta di tiap kota di Thailand dengan beragam informasi fasilitas yang ada di kota itu juga sudah ada.

“Bayangkan bagaimana detilnya sebuah peta yang dikeluarkan sehingga dari Golden Triangle saja kemanapun turis Perancis mau pergi sendiri di Thailand dia aman karena nyasarpun nomor telpon penting sudah tertera di peta Thailand,”

Obyek wisata Panatapan Huta Ginjang , Sumut untuk menyaksikan panorama indah Danau Toba dari atas ketinggian yang dikunjungi atau obyek wisata di kawasan Bukit Tinggi dengan pasar tradisional, Ngarai Sihanok dan kulinernya berpeluang untuk dikemas bagi turis Perancis tapi kuncinya ya harus fokus dan eksplor tuntas,” tambah Dristy.

Di Golden Triangle Chiang Rai, Thailand, turis Perancis diajak melalui desa wisata sebelum sampai ke puncak, berinteraksi dengan masyarakat lokal dimana leher kaum wanitanya memakai gelang bersusun tinggi yang unik. Lalu ada kegiatan menyusuri sungai Mekong yang bersejarah.

“Nah di Bukit Tinggi untuk turis Perancis harus ada kegiatan trekking lewatin sawah, berinteraksi dengan petani atau masyarakat lokal, melihat cara hidup mereka langsung sampai akhirnya tiba di lokasi obyek  Ngarai Sihanok, menjelajah goa-goa Jepang dan melihat monyet ekor panjang yang ada,” sarannya.

Turis Perancis bukan tipe wisatawan yang turun dari mobil di obyek wisata lalu sibuk foto selfie dan belanja. Mereka mengutamakan kualitas perjalanan, pengalaman dan ilmu yang di dapat setelah itu barulah mereka istirahat menikmati fasilitas hotel dan kebugaran tubuh beberapa hari sebelum pulang ke tanah airnya.

Saran yang sama dikemukakan Yannick Chapuis dari travel Le Maison du Voyage, Paris yang mengharapkan industri pariwisata Indonesia di destinasi unggulan lainnya menyediakan hotel butik yang otentik dengan nuansa budaya lokal.

Butik hotel yang dikelola pengusaha lokal dengan jumlah kamar terbatas justru lebih menarik ketimbang hotel-hotel besar dari jaringan internasional. Butik hotel berstandar internasional yang kuat dengan budaya lokal lebih menarik kunjungan turis Perancis.

“Oktober nanti saya akan melewatkan liburan musim panas di Bali, Lombok dan Flores bersama istri. Boleh dibilang ini second honeymoon karena kami belum dikarunia anak setelah satu setengah tahun menikah. Untuk akomodasi di Flores, NTT kami lebih suka cari butik hotel,” kata Yannick.

Oktober 2017 nanti merupakan kunjungan ke tiga kalinya ke Indonesia dan sebagai travel designer Yannick sudah menyusuri obyek wisata di Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan yang akan datang mengeksplor kawasan Nusa Tenggara Barat untuk melihat komodo, Labuan Bajo dan lainnya.

Untuk berlibur ke Indonesia selama dua minggu biaya yang dikeluarkan minimal 7000 euro atau sekitar Rp 98 juta belum termasuk pengeluaran lainnya. Selama ini turis Perancis ke Sumatra rutenya Medan, Bukit Lawang lihat orang utan bukan ke Danau Toba dengan Pulau Samosirnya. Kalau ke pulau Jawa kunjungannya ke Gunung Bromo, Kawah Ijen dan obyek populer lainnya.

Hasil kunjungan Famtrip yang diikutinya dengan rute Danau Toba, Bukit Tinggi dan Tanjung Kelayang Selama seminggu dari 10-17 april 2017 tetap berpeluang untuk mengemas paket wisata guna mendatangkan turis Perancis ke destinasi itu.

“ Namun kunjungan ke Sumbar seharusnya langsung saja ke Mentawai yang jelas-jelas di sukai turis Perancis. Jadi produknya fokus ke Mentawai dan produk ikutan lainnya baru Bukit Tinggi dan sekitarnya,” tambah Yannick Chapuis .

Dia menambahkan semoga pandangan para travel agent ini dapat menjadi masukan bagi Kementrian Pariwisata. “ Fokus memahami karakteristik wisatawan Perancis dan petakan daerah unggulan yang cocok dengan pasar ini.

“Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, jangan lupa di Perancis kini banyak penganut Muslim. Bukan hanya di kawasan Perancis Selatan tapi juga di daerah lainnya dengan jumlah 6 juta orang yang dapat di jaring berwisata halal ke berbagai daerah di Indonesia,” kata Yannick Chapuis mengakhiri obrolannya. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.