Sylvia Djardjis Husman, Bangun Hotel Rensa Dengan Jiwa Kekeluargaan

0
1049

               Sylvia Djardjis Husman , pengusaha hotel dan social entrepreneur.

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Serasa berada di rumah ( homey) itulah kesan yang timbul selama menunggu pemilik Hotel Rensa, Sylvia Djardjis Husman datang. Sapaan ramah, pelukan hangat langsung membuat pertemuan kami menjadi semarak dengan senyum dan tawanya yang renyah. Apalagi sebagai kawan lama kami jarang berjumpa kecuali lewat Whatsapp group di smartphone.

Berkunjung ke Hotel Rensa di Jalan Duren Sawit Raya no: 108 Klender, Jakarta Timur bagi sebagian tamunya seperti pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas dengan padat di ibukota Jakarta. Buat mereka yang suka traveling baik untuk berlibur maupun karena urusan bisnis, hotel ini memang memanjakan tamu-tamunya dengan pelayanan yang homey bahkan menyediakan makanan a la rumahan pula.

Maklum, tamu-tamu umumnya memang datang dari berbagai daerah di Indonesia atau bahkan berbagai daerah di Jakarta. “Hotel ini berdiri tahun 1985 untuk memenuhi kebutuhan akomodasi dari tamu-tamu yang datang terutama dari kawasan industri pertama di Indonesia di Pulo Gadung, Jakarta Timur,” ujar Sylvia yang usianya menjelang 70 tahun dan ibu tiga anak yang hobi senam dan menari ini.

Lokasi yang dekat dengan kawasan industri itu, membuat perusahaan yang berkantor di sana kerap menyelenggarakan training di Rensa sekaligus memberikan akomodasi untuk para pegawainya di hotel.

Adakalanya training karyawan berlangsung di kantor, sementara karyawan yang menjadi peserta dari daerah menginap di Hotel Rensa. Untuk itu, Sylvia tak segan-segan memberikan pelayanan antar jemput dari hotel ke kawasan industri Pulo Gadung.

“Bagi kami pelayanan dan kenyamanan itu penting jadi tidak masalah mengantar peserta training ke kantornya pada pagi hari seperti mengantar anak-anak sendiri pergi sekolah. Nanti kalau training sudah selesai mereka telpon minta dijemput lagi kembali ke hotel,” ujarnya menjelaskan hubungan kekeluargaan yang terjalin antara karyawan Hotel Rensa dan tamu-tamunya.

Hotel Rensa, Duren Sawit, Jakarta Timur

Tak heran bukan hanya dengan para tamu rasa kekeluargaan itu kental tapi juga antara Sylvia dan para pegawai hotelnya sendiri layaknya hubungan antara orangtua dan anak-anaknya sehingga hanya sekitar 4 orang yang masa kerjanya baru 8-9 tahun, sisanya sudah bekerja 25 tahunan dari usia hotel yang menginjak 32 tahun.

“Dari 17 karyawan yang ada sekitar 40% adalah pegawai yang dari awal berdirinya Hotel Rensa. Sisanya yang sudah keluar selain pindah kerja juga karena saya dorong untuk kuliah, mengejar pendidikan strata satu, D3,D1 sehingga ‘anak-anak’ bunda yang dulunya bekerja di sini sudah ada yang buka restoran, jadi manager di Batam dan profesi lainnya,” tambahnya.

Menjadi hotel heritage tak terlalu mengganggu pikirannya, munculnya apartement dan hotel-hotel mewah di kawasan Pulo Gadung, Klender dan sekitarnya juga tidak membuat Sylvia gentar untuk mengelola hotel yang dibangun suaminya,  Husman Muhamad, salah satu kerabat pendiri Sofyan Hotel. Melayani dengan baik dan ikhlas menjadi kunci kebahagiannya mengelola hotel di usia senja dengan tingkat hunian di atas 70%.

“Anak-anak bunda sendiri tiga orang usianya sudah 40 tahunan sebagai profesional serta sukses di karirnya masing-masing. Dari tiga anak itu, dua perempuan berkarir di Jakarta sedangkan satu laki-laki yang bekerja sebagai konsultan dan tinggal di Melbourne, Australia sudah membangun sebuah mesjid bersama komunitas muslimnya di sana,” ungkapnya bangga.

Memiliki anak-anak yang cerdas dan beriman menjadi harapan sarjana kedokteran yang belum sempat melanjutkan pendidikan dan berpraktek sebagai dokter ini. Sylvia mengaku untuk menjaga keimanan, perilaku dan keyakinan anak-anak biologis maupun anak-anaknya di hotel atau para karyawannya itu, dia rajin memotivasi, menyelenggarakan pengajian rutin di hotel serta menempelkan kata-kata bijak di sudut-sudut hotel.

“Motivasi yang saya berikan a.l adalah agama bukanlah ritual, tetapi taqwa, memahami isi Al Quran dan hadist serta harus memiliki keyakinan sebagai muslim bahwa apapun masalah yang kita hadapi, janji Allah pasti benar. Artinya, selalu ada solusi atau jalan keluar. Karena itu jangan bersedih, jangan kecewa, apalagi menunjukkan wajah kesal atau murung. Sebab di dunia industri perhotelan wajah yang ramah adalah sebuah keharusan,”

Saat mendirikan hotel Rensa, jelasnya, memang target pemasarannya adalah segmen kegiatan meeting, incetives, conference dan exhibition ( MICE). Namun sesuai dengan klasifikasi hotelnya sebagai bintang satu , maka Rensa hanya membidik pertemuan-pertemuan kecil 10-50 orang saja. Lokasinya yang berada di tepi jalan raya ini memang strategis, dekat pula dengan stasiun kereta api Klender, memiliki 23 kamar serta ruang-ruang pertemuan dan restoran.

Sylvia mengaku menghadapi sumber daya manusia ( SDM) yang ada juga kerap membuatnya jengkel karena tidak mampu melayani tamu dengan baik. Namun dia selalu sabar dan ikhlas mendidik mereka sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama meski kerap ulah mereka membuat Sylvia sampai berurai airmata. Saat-saat demikian dia memohon petunjuk Allah dalam sujud panjangnya.

Sabar dan ikhlas

Melewati masa kecil di Sumatra Barat tertutama di Bukit Tinggi, Sawah Lunto dan Padang, Sylvia kecil ketika usia 4 tahun terkena virus penyakit difteri dari sekolah yang mengakibatkan tiga teman TK juga langsung sakit bahkan meninggal dunia.

Nyawa anak tertua dari lima bersaudara ini benar-benar diujung tanduk hingga akhirnya sang ayah yang pernah menjadi Kepala Keuangan Sumatra Tengah, sebagai Resident dan akhirnya pensiun sebagai Penasehat Gubernur Sumatra Barat memberikan perhatian ekstra pada putri sulungnya ini.

“Saat peluang hidup hanya 25% hingga lolos dari maut saat usia 4 tahun itu membuat kondisi kesehatan saya sangat rentan penyakit. Ayah sering mengajak jalan kaki usai sholat subuh dari rumah ke Taman Ngarai Sihanok, Bukit Tinggi agar saya mampu mengatur nafas dengan baik dan tambah bugar,”

Tak ingin anaknya minder karena dianggap penyakitan, ayahnya justru mendorong Sylvia untuk banyak tampil menemani sang ayah di acara-acara resmi dan menari di berbagai acara serta menyambut tamu-tamu VIP. Sejak usia dini Sylvia aktif menari dan giat berlatih senam.

Saat kelas 5 SD terjadi pembrontakan PPRI /Permesta akibat hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan dia harus berpisah dengan ayah yang dicintainya. “Selama 3,5 tahun ayah di culik dan kami akhirnya pulang kampung ke Sawahlunto, sekitar 95 KM dari kota Padang sebagai ibukota Provinsi Sumatra Barat,” jelasnya.

Sabar dan ikhlas harus dijalani untuk menghibur ibundanya yang murni ibu rumahtangga lalu tiba-tiba harus menjadi kepala keluarga menggantikan peran sang ayah yang berada dalam penguasaan PPRI. Meski hidup dalam keluarga yang berkecukupan, ibu harus merelakan sejumlah aset untuk di jual dan seorang adiknya meninggal tanpa sang ayah bisa dibebaskan.

Melewati masa SMA di Sawah Lunto dan telah berkumpul kembali dengan sang Ayah merupakan masa-masa yang manis untuk dikenang sampai akhirnya dia harus pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan meskipun sudah diterima di Fakultas Kedokteran Andalas.

Orangtuanya menunjang dia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sementara nenek menyuruhnya menikah. Maklum Sylvia adalah cucu pertama dalam keluarga besar dan nenek ingin melihat cucunya menikah selagi dia masih hidup.

“Saya lalu tinggal di rumah adik ayah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat lalu sibuk cari universitas. Sayang pendaftaran di Universitas Indonesia (UI) sudah tutup dan peluang ada di Yarsi, Cempaka Putih ambil jurusan kedokteran. Ketika peresmian kampus oleh Ibu Negara, Tien Soeharto saya yang mendampingi beliau untuk pengguntingan pita,” ujar wanita cantik ini mengenang.

Di kampus, Sylvia aktif beragam kegiatan kemahasiswaan dan kerap berpartisipasi pada Pekan Olahraga Mahasiswa ( POM) dengan mengikuti cabang atletik/dasa lomba. Semasa kuliah Sylvia aktif mengikuti cabang olahraga Volley, basket dan atletik. Namun bakat seninya juga terasah sehingga dia sering tampil di acara kampus mulai dari fashion, menari, baca puisi dan olahraga senam.

“Rupanya kesabaran dan keikhlasan sejak kecil masih terus diuji hingga memasuki perkawinan. Baru menyelesaikan sarjana kedokteran anak-anak kemudian lahir satu persatu sehingga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan agar bisa berpraktek sebagai dokter akhirnya kandas dan tak mendapat dukungan dari kondisi dan lingkungan terutama suami,”

Kelahiran ketiga buah hati dan mendampingi pendidikan anak-anak menjadi prioritas utamanya. Apalagi prinsipnya adalah anak-anak seharusnya punya prestasi melebihi orangtuanya sehingga dia fokus untuk memberikan aktivitas yang berimbang bagi anak-anaknya baik dari sisi spiritual, intelektual maupun hobi.

“Hotel Rensa ini dulunya rumah tinggal kami dimana ada sanggar tari Bali, balet, senam, Sekolah Taman Kanak-Kanak sehingga saya bisa menyalurkan bakat dan berbisnis tanpa harus meninggalkan rumah. Anak-anak juga bisa menyalurkan hobinya dan kebetulan anak perempuan juga suka tampil di dunia fashion dan kerap ikut lomba-lomba sebagai model dan putri berprestasi.

Suaminya akhirnya memutuskan menyulap rumah tinggal mereka menjadi Hotel Rensa dan mereka pindah tak jauh dari hotel. Semula Sylvia ingin bisnis klinik saja tapi karena masalah izin harus menunggu lama akhirnya keputusan suami di dukungnya.

Sisa hidup yang bermanfaat dan setiap hari berbuat kebaikan menjadi aktivitasnya sehari-hari.

Berkah dari kepekaan

Sifatnya yang halus dan peka pada berbagai keadaan di sekelilingnya membawa Sylvia banyak aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi relawan super dari Aksi Cepat Tanggap ( ACT), organisasi nirlaba profesional yang memfokuskan kerja kemanusiaan pada penanggulangan bencana mulai dari fase darurat hingga pemulihan paska bencana.

Pengamatan dan kepekaannya pada masyarakat yang sudah lanjut usia mendorongnya mendirikan Komunitas Lansia Indonesia Bahagia, Sehat dan Aktif atau disingkat KLIBSA. Tujuannya bukan hanya melayani dan melindungi warga usia lanjut atau warga emas Indonesia, tapi juga mengembangkan aging industry di Indonesia.

“Cita-citanya sih KLIBSA dapat memenuhi hak dasar warga emas mulai dari sandang, pangan, tempat berteduh yang layak, keamanan lingkungan, fasilitas kesehatan dan transportasi yang memadai,” jelasnya.

Mengamati tingkat perceraian yang tinggi dan banyak ibu berkarir yang mengabaikan pendidikan anaknya terutama dalam hal agama, Sylvia dan dua orang temannya membuat yayasan bernama Muslimah Beauty Foundation pada 2011 dan pemenangnya dapat hadiah umroh dan bisa mengikuti Muslim Fashion di Paris .

“Harapannya kami dapat mencetak wanita-wanita soleha, smart dan stylist dengan membuat pemilihan wanita muslimah di Hotel Sahid Jaya pada tahun yang sama. Syaratnya harus berprestasi, berkelakuan baik, berjilbab, bisa baca Al-Quran, cerdas dan cantik tentunya,”

Dia mengaku bahagia karena dari seluruh Indonesia ada 400 pelamar dan 10 peserta lolos Grand Final Muslimah Beauty ke Jakarta yang persyaratannya bisa membaca Alquran dan dibuktikan di atas panggung. Jerih payahnya terbayar karena penonton puas dengan hasil karyanya mulai dari konsep panggung, acara hiburan hingga jalannya pemilihan.

“Sebenarnya di sisa hidup ingin di Indonesia ada Muslimah University bukan lagi pondok pesantren wanita. Tetapi benar-benar pendidikan tinggi yang menghasilkan sarjana wanita yang cerdas, tahu takarannya dalam berkarir, bisa mengimplementasikan ajaran Al-Quran dalam rumah tangganya kelak,” kata Sylvia.

Untuk itu atas permintaan beberapa finalis Muslimah Beauty, Sylvia kini membina sejumlah alumni kompetisi itu yang ingin bergabung. Awalnya untuk pengajian dan diskusi akhirnya sepakat membentuk Muslimah Kaffah yang banyak bergerak dikegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Banyak event yang kami lakukan di bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam lainnya dengan pimpinan teamnya Lia Firdausi Runner Up Muslimah Beauty ( MB) 2011.

Buah dari kepekaan dan kepeduliannya terus menghasilkan ide-ide cemerlang untuk kemaslahatan umat. Sylvia yang punya motto berbuat kebaikan setiap hari ini mengatakan prinsip hidupnya ini bukan hanya berdampak positif pada diri sendiri tetapi juga pada kesuksesan anak cucu meraih prestasi.

“Jangan pernah menyakiti hati orang lain karena kita sendiri tidak ingin disakiti. Setiap kali timbul pikiran dan ingin berbuat jahat, kembalikan pada diri kita sendiri sehingga akhirnya hidup dengan penuh syukur pada sang khalik atas kesempatan hidup yang masih kita miliki,” katanya mengakhiri obrolan sejak dari tengah hari hingga menjelang sore. ( Hilda Ansariah Sabri

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.