Swasta Pimpin Kampanye ViWI 2018 Yang Menjadi Tahun Berkunjung Ke Indonesia  

0
265

Eka Moncare ( kedua dari kiri) dari VITO Perancis promosikan Danau Toba pada travel agent Perancis beberapa waktu lalu. Danau Toba jadi salah satu paket destinasi yang dijual selama ViWI 2018.  

JAKARTA, bisniswisata.co.id : Keberhasilan Visit Wonderful Indonesia ( ViWI) 2018 sepenuhnya tergantung komitmen swasta. Pemerintah akan dukung dengan promosi agresif, kata Prof Dr I Gde Pitana MSi,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata Indonesia, hari ini.

Prof Dr I Gde Pitana MSi,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata.

Let Industry lead and government support. Tahun 2018 sudah disepakati sebagai Visit Wonderful Indonesia jadi inilah momentum penting untuk mengintegrasikan seluruh kekuatan bangsa agar  pariwisata bisa jadi devisa utama,  sumber ekonomi negara dan saatnya wujudkan Indonesia Incorporated,” ujarnya.

Apa yang diungkapkan Pitane memang menjadi butir-butir kesepakatan kalangan industri pariwisata/ BUMN  dari hasil Rakornas Kemenpar yang berlangsung 12-13 Desember 2017 yang baru lalu di hall Kota Kasablanka, Jakarta.

Saat Tahun Berkunjung ke Indonesia sudah diluncurkan maka kalangan industri pariwisata sebagai pemegang kendali telah menyiapkan 208 produk wisata dari 18 destinasi wisata yang siap dipasarkan ke 8 pasar utama wisman ke Indonesia.

“ Untuk menjadikan pariwisata core economy tidak ada jalan lain kecuali berkomitmen dan bersatu seperti lirik lagu kebangsaan kita Indonesia Raya,  Marilah kita berseru Indonesia bersatu,” tambahnya. 

Menurut I Gde Pitane, waktu pemerintah menyelenggarakan Visit Indonesia Year  pada tahun 1991 dan Visit Indonsia Year 2008 yang sekaligus menandai 100 tahun Kebangkitan Nasional,  pemerintah yang memimpin dan melaksanakan program itu.

“ Namun kali ini ViWI 2018 justru swastalah yang berperan untuk mencapai target  jumlah 17 juta wisatawan mancanegara ( wisman)  tahun depan dan 19 juta di tahun 2019. Ketua ViWI dipercayakan pada Haryadi Sukamdani, ketua Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua  VIWI 2018,” kata I Gde Pitane.

Guna mencapai target itu disepakatilah untuk menerapkan strategi marketing dengan slogan More for Less atau You Get More, You Pay Less dengan memanfaatkan kapasitas idle di sektor transportasi, akomodasi dan lainnya.

Kapasitas idle atau menganggur bisa terjadi pada saat hari kerja. Sebaliknya pada week-end disaat permintaan naik maka load factor penerbangan, tingkat hunian hotel dan jasa pariwisata lainnya akan naik.

Itulah sebabnya, kata Pitane, dari hasil rumusan Rakornas di butir ke dua, disepakati ada 3 jenis paket yang ditawarkan pada 8 pasar utama wisman yang ke Indonesia yaitu paket Hotdeal, paket Color of Indonesia alias paket regular terkait dengan penjualan 100 event yang diselenggarakan berbagai daerah serta terakhir paket Digital Destination.

“Intinya paket ditawarkan pada masa low season seperti bulan Januari hingga April dan bulan September – November yang dibundling seperti yang telah kami lakukan ketika meningkatkan wisman dari perbatasan untuk meningkatkan kunjungan wisman dari Malaysia dan Singapura,” ungkapnya.

Program itu  memanfaatkan idle capacity dari jumlah kursi kapal feri yang berangkat dari tiga titik, yaitu Tanah Merah, Johor, dan Harbor Front menuju Batam-Bintan. Setiap hari ada sekitar 22.800 kursi feri yang masuk ke Batam-Bintan.

“Pada saat akhir pekan, okupansinya mencapai 90% sedangkan ketika tengah pekan bisa di bawah 20 persen. Oleh karena itulah ditawarkan paket bundling
dengan hotel, spa, golf, dan shopping sehingga harganya jadi lebih murah,”

Melalui program bundling dan subsidi tersebut, harga feri dari Tanah Merah ke Batam yang awalnya Sing$48 menjadi hanya Sing$20. “Syaratnya adalah para wisatawan itu tidak boleh hanya naik feri, tapi juga harus menginap di hotel yang harganya juga hemat dari  Sing$100 turun menjadi hanya Sing$60.

Dukungan stakeholder

                Wisatawan Perancis mengagumi ulos Batak

Nah untuk mengisi ViWI ini Haryadi Sukamdani mengatakan kalangan swasta menawarkan paket wisata ke 18 destinasi di Tanah Air antara lain tersebar di Sumatera (Medan/Danau Toba, Batam, Belitung, Padang, dan Palembang).

Destinasi  Pulau Jawa (Jakarta, Bandung, Borobudur/Yogyakarta, Solo, Surabaya-Bromo-Tengger, dan Banyuwangi), Kalimantan (Balikpapan), Bali, Nusa Tenggara Barat (Lombok), Sulawesi (Makassar/Wakatobi dan Manado) serta destinasi Papua Barat  yaitu Raja Ampat.

Paket ViWI 2018 melibatkan dukungan semua stakehoder pariwisata dalam semangat Indonesia Incorporated.Tujuan dipilih berdasarkan kesiapan akses, atraksi, fasilitas dan kelebihan kapasitas.

“Selama ini, pelaku usaha dan pemerintah seakan-akan jalan sendiri. Dengan adanya ViWI 2018, kami berharap upaya yang terkoordinasi ini bisa menciptakan hasil yang optimal.” kata Hariyadi Sukamdani, Ketua ViWI 2018

Haryadi menambahkan, program tersebut sejalan dengan rencana pemasaran Kementerian Pariwisata dimana Visit Indonesia Tourism Office ( VITO)  di luar negeri akan membantu mendorong kampanye tersebut.

Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) selain mengemas paket-paket tersebut juga memasarkan ke 7000 anggotanya untuk ikut menjual melalui AsitaGo. Asnawi Bahar, Ketum Asita mengatakan pihaknya juga sudah bekerjasama dengan asosiasi perjalanan di pasar utama itu untuk mendukung Tahun Berkunjung ke Indonesia.

Sebanyak 208 Paket yang sudah Asita kemas bersama PHRI yaitu pasar Asean, China, Jepang, Korea Selatan, Eropa, Australia, Timur Tengah  Arab Saudi, dan Australia.Pemerintah telah menghabiskan lebih dari Rp 3 triliun untuk pemasaran branding dan pemasaran sejak 2014.

“Sekarang  waktunya bagi sektor swasta untuk memimpin dan  mengubahnya menjadi penjualan. Kalau dulu pemerintah yang punya program dan minta swasta yang dukung sekarang swasta yang punya program dan pemerintah yang dukung,” ungkap Asnawi Bahar.

Dia menjelaskan bahwa paket dibuat untuk menargetkan pasar yang berbeda di delapan negara dan wilayah. Ada 62 paket untuk Eropa, 13 Timur Tengah, 31 Asia Selatan, 18 China, 21 Jepang dan Korea Selatan, 53 Asia Tenggara dan 10 Australia. “Selain dari 208 produk tersebut, 63 perusahaan – di antaranya adalah toko souvenir, pemasok makanan dan minuman, produsen transportasi darat dan kerajinan tangan  juga menandatangani co-event branding MoU dengan Kementerian Pariwisata untuk mendukung ViWI 2018.

Paket  yang sudah dikemas akan di upload secara bertahap dan dapat diakses melalui www.indonesia.travel milik Kementerian Pariwisata dan untuk penawaran hotel melalui bookingina.com, situs pemesanan hotel yang digagas PHRI dan AsitaGo dengan platform digital dari Asita.

Prof Dr I Gde Pitana MSi mengungkapkan untuk strategi pemasaran menggunakan pendekatan DOT (Destination, Original, dan Time) , promotion strategy dengan BAS (Branding, Advertising, dan Selling), media strategy dengan pendekatan POSE yang selama ini sudah diterapkan.

“ Produk 18 destinasi bukan harga mati, kalau ada komitmen daerah lainnya untuk menjaring wisman yang memenuhi 3 A maka panitia ViWI akan siap menampung jadi tahun depan bisa lebih dari 208 paket yang dipasarkan,”

Hal itu dimungkinkan karena Kementrian Perhubungan mendukung ViWI dengan percepatan konektivitas dan infrastruktur plus rencana airline untuk penambahan rute penerbangan, promosikan destinasi melalui media airline masing-masing hingga komitmen harga spesial di saat low season.

“Jadi kalau ada daerah yang memenuhi 3 A dan punya komitmen kuat untuk menerima kunjungan wisman bisa kita tambah paketnya,”

Pitane optimistis konsep industry lead, governement support dapat berjalan lancar. Apalagi selama Rakornas perbankan berkomitmen memberikan dukungan berupa payment solution sehingga wisman yang berwisata ke pelosok tidak menghadapi masalah pembayaran.

“ Wisman sekarang banyak dari kalangan milenial yang merencanakan perjalanannya dengan look, book dan pay jadi mari kita dukung ViWI 2018 dengan destinasi digital yang instagramable,” ujar I Gde Pitane bersemangat.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.