Stratton, Pelindung Saat London Terancam Serangan Teroris

0
461

JAKARTA, bisniswisata.co.id; London merupakan salah satu kota yang maju di Eropa dan memiliki daya pikat luar biasa. Kotanya tertata dengan baik dan banyak bangunan bersejarah yang terawat hingga kini sehingga banyak di kunjungi wisatawan maupun sineas Film.

Mengambil lokasi kota London, sebuah film action saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 Indonesia yaitu Stratton atau berjudul lain Stratton first into action.

Di Indonesia tayang sejak 23 Mei 2017 lalu dan baru akan tayang di Inggris pada 28 Juli 2017 nanti meski lokasi syuting dan pemeran utamanya, Dominic Cooper juga berasal dari Inggris.

Film ini diproduksi oleh Rumah Produksi Film GFM films, Atomic Arts, SquareOne Entertainment. Dan didistribusikan oleh GEM Entertainment, GFM films, Marco Polo Production. Film ini telah dirilis pada tanggal 1 April 2017 (France), dengan panjang durasi kurang lebih sekitar 1 jam 35 menit.

Film ini diadaptasi berdasarkan Novel, karya Duncan Falconer, dan diproduseri oleh Guy Collins, Matthew Jenkins. Nama Duncan Falconer mungkin belum setenar almarhum Ian Fleming, yang sukses menelurkan serial novel James Bond.

Namun track record Falconer yang mantan anggota Special Boat Service (SBS) Inggris ini dalam dunia tulis-menulis memang tidak bisa diremehkan. Dia juga mampu menghasilkan serial novel hingga delapan seri dan Stratton berkisah tentang anggota pasukan elite Inggris, SBS, yang bernama John Stratton.

Sang penulis Duncan Falconer pernah bekerja untuk Detasemen Intelijen di Irlandia Utara dan menjalankan misi berbahaya dan mempertaruhkan nyawa sudah menjadi makanan sehari-sehari. Tak heran film yang diadaptasi dari novelnya ini dari awal hingga akhir menampilkan sebuah misi yang rumit dan penuh resiko.

Film arahan sutradara film Simon West merupakan film action yang bercerita tentang usaha sebuah komando khusus melacak sel teroris internasional. Stratton, seorang agen Special Boat Service( SBS) untuk MI6, serta rekannya yang berasal dari Amerika, Marty, menyelidiki sebuah kompleks laboratorium di Iran untuk mencuri senjata biokimiawi berbahaya.

Misi yang rumit ini sayangnya berakhir kacau dan Marty pun terluka parah. Stratton menyadari bahwa sahabat yang dipercayainya ini tidak akan selamat. Saat kembali ke markas, Stratton pun dipanggil oleh pimpinan MI6. Ia menerima laporan intelijen bahwa mantan agen Soviet, Barovski telah membelot.

Agen yang disangka sudah meninggal selama 20 tahun terakhir itu ternyata masih hidup dan Barovski merencanakan untuk menggunakan senjata kimia berbahaya yang dicurinya dari mantan atasannya di Iran itu untuk membalas dendam.

Untuk mengejar Barovski, Stratton dan timnya dikirim ke Roma, termasuk Hank, seorang anggota AL Amerika Serikat dan bekas murid Marty yang setia. Dipenuhi kebencian pada orang yang telah membunuh temannya, Hank lepas kendali hingga penyamaran mereka terungkap dan membuat Barovski mendapat kesempatan untuk lolos.

Sekembalinya di London, Stratton dan Hank melacak orang yang membuat senjata biologis tersebut dan memaksanya untuk mengungkapkan segalanya yang ia tahu. Sekali lagi, mereka menemukan bahwa misi mereka kembali dibuyarkan, dan semakin jauh dari kesempatan untuk menangkap Barovski.

Tim SBS memburu Barovski, pembelot yang mengancam kota London dengan senjata kimia berbahaya.

Stratton dan tim yang harus menghadapi ancaman teroris yang menyerang Kota London dengan senjata biologis memang tipe orang yang pantang menyerah. Dari sosok pribadi yang diperankannya itu setidaknya ada pesan yang ingin disampaikan pada penonton.

Intinya keterbatasan tidak membuatnya menyerah dalam kondisi apapun. Anak yatim yang tegar dan berhasil menjadi agen spesial SBS ini menunjukkan kemampuannya yang tinggi mengatasi berbagai masalah.

Meski pemilihan Dominic Cooper sebagai tokoh utama kurang cocok namun aktingnya juga tidak terlalu menge-cewakan. Maklum sepak terjangnya di Hollywood tak perlu diragukan.

Cooper yang berusia 39 tahun itu sudah pernah terlibat di Captain America: The First Avenger (2011), Need for Speed (2014), Dracula Untold (2014), Warcraft (2016).

Di kursi sutradara, Simon West, sudah berpengalaman menghasilkan berbagai macam film action. Film yang disutradarainya a.l Con Air (1997), The Mechanic (2011), Tomb Raider (2001), Stolen (2012), The Expendables 2 (2012) dan Wild Card (2015). ( */Abhi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.