Steril Malaria, Pulau Karimata & Maya Dibuka bagi Wisatawan

0
3352
Pulau Karimata Kalbar (foto: wartakayong.wordpress.com)

PONTIANAK, BISNISWISATA.CO.ID: Tudingan tak mengenakan pernah melanda Pulau Maya dan Pulau Karimata Kalimantan Barat (Kalbar). Tahun 2012, kedua pulau ini dituding sebagai pulau wisata yang menyebarkan penyakit malaria. Tahun 2015, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan kedua pulau ini bebas penularan nyamuk malaria.

Kedua wilayah yang berbatasan langsungan dengan Provinsi Kepulauan Riau, tepatnya Pulau Natuna itu akan terbuka bagi wisatawan. Kami tengah mempersiapkan kedua pulau ini, menjadi objek wisata bahari yang menakjubkan,” ungkap Bupati Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat, Hildi Hamid di Pontianak.

Hildi melanjutkan, perlu waktu 30 tahun untuk membebaskan Pulau Maya dan Pulau Karimata dari nyamuk malaria. Dengan bantuan internasional, Kementerian Kesehatan, dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, kedua pulau telah steril dari penularan malaria.
“Kami mengimbau silahkan para wisatawan nusantara maupun mancanegara agar berkunjung ke dua pulau itu kembali. Jadi dulu wisatawan yang kerap datang ke pulau ini, kini hendaknya kembali datang. Mengingat sudah bebas dari penyakit malaria,” lontar Bupati.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Andi Jap menambahkan ada empat jenis penyakit malaria yang disebabkan spesies parasit yang berbeda. Masing-masing jenis malaria memiliki gejala berupa meriang, panas dingin, menggigil, dan keringat dingin.

Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Jenis malaria paling ringan adalah malaria tertiana yang disebabkan Plasmodium vivax, dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).

Demam rimba (jungle fever), Andi menyatakan, adalah malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika yang disebabkan Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Ia melanjutkan, organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau, serta kematian.

Malaria kuartana yang disebabkan Plasmodium malariae memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertina atau tropika. Gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap tiga hari.

Malaria jenis keempat dan merupakan jenis malaria yang paling langka disebabkan Plasmodium ovale yang mirip malaria tertina. Menurut Andi, pada masa inkubasi malaria, plasmodium tumbuh di dalam sel hati. Beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah sejalan dengan perkembangan mereka sehingga menyebabkan demam.

“Dalam catatan, Kabupaten Kayong Utara pernah dinyatakan penularan malaria paling berbahaya di Kalimantan Barat, tapi ekarang sudah tidak ada lagi,” kata Andi seperti dilansir laman SHNews.co.id, Kamis (26/2/2015). ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.