Siswa SMKN 1 Kudus Sajikan Kuliner Tradisional Indonesia di Jerman

0
972
Siswa SMKN 1 Kudus membuah kue lumpur.

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Tiga siswa jurusan tata boga SMK Negeri 1 Kudus, yakni Afifah Ramadhani, Billa Prilia Putri, dan Yoga Bayu Sadewa unjuk giti pada ajang Book Fair 2015 yang berlangsung pada 13-19 Oktober 2015.

Indonesia merupakan negara asia pertama yang berpartisipasi pada Food Explorer di Classroom of the Future Frankfurt Book Fair 2015. Dan menjadi negara pertama di dunia dalam sejarah Frankfurt Book Fair digelar yang benar-benar mempersiapkan kelas memasak dengan mengangkat kekayaan kuliner tradisionalnya.

Salah satu rangkaian yang diikuti para siswa SMK binaan Djarum Foundation, yakni Classroom of the Future (COF). Ada beberapa kelas di COF, antara lain maritim, jurnalistik, sound, kuliner, dan lainnya. Seperti yang sudah direncanakan dan seusai bidangnya, Afifah, Billa, dan Yoga mengikuti Food Explorer.

Pada Food Explorer “Classroom of the Future”, Kamis (15/10/2015) waktu Jerman, Afifah, Billa, dan Yoga mengikuti tiga sesi memasak untuk tiga gelombang yang berbeda. Hal pertama yang mereka lakukan adalah pengenalan rempah. Para siswa lainnya tampak begitu antusias dan sangat tertarik dengan apa yang dijelaskan tim Indonesia.

Di kelas perdana Food Explorer “Classroom of the Future” tim Indonesia mengajarkan pembuatan kue lumpur dan asinan Jakarta.

“Tidak hanya memperoleh penjelasan tetapi mereka juga mendapat spices experience. Mereka mencium dan bahkan mencicipi,” ujar Vivi Adeliana, Program Associate Djarum Foundation dalam siaran pers yang diterima bisniswisata.coid.

Para siswa tampak takjub dengan kekayaan rempah indonesia, dengan bentuk, warna, dan aromanya. Mereka mencium aroma serai, cengkeh, daun pandan, dan kemiri saat usai dibakar.

Satu persatu mereka juga mencoba merasakan lemon cui yang dikeringkan. Peserta sesi ini antara lain dari Sekolah Goethe Gymnasium, Bensheim, kota yang berada di Jerman bagian Barat.

Menurut Vanessa (12 tahun) salah satu pelajar peserta Food Explorer, dia akan terus teringat dengan lemon cui yang dirasakannya hari itu. “Selain karena aromanya, juga karena rasa asam yang sangat kuat,” ujar Vanessa.

Vanessa yang kini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, menyatakan bahwa dia pernah memasak beras dengan ibunya namun untuk dijadikan nasi. Ini pertama kalinya memasak bubur yang mereka lihat seperti risoto namun banyak sayur di dalamnya.

Sementara itu, Afifah, Billa, dan Yoga terlihat sangat menyatu dan tidak canggung. Mereka mengenalkan rempah, mengajarkan cara memotong bumbu dan sayur, membuat adonan kue lumpur hingga memasaknya.

Usai memasak, hidangan terebut disajikan dalam kelas besar dan tak hanya disantap oleh para peserta murid, namun rupanya aktivitas ini juga menarik banyak pengunjung lain.

Mereka turut menikmati bubur manado dan kue lumpur yang dibuat saat Food Explorer. Saat makanan dibagikan beberapa murid bahkan antre untuk menambah porsi makanan mereka.

Pada hari kedua Food Explorer, Jumat (16/10/2015) waktu Jerman, tim kuliner Indonesia menangani enam sesi. Menu Indonesia yang dimasak adalah kolak pisang dan pepes ikan dori.

Siswa yang ikut Food Explorer “Classroom of the Future” berasal dari sekolah Melibokusschule Zwingenberg.

Maxi, salah satu siswa peserta Food Explorer, mengatakan, “Ini adalah pengalaman yang super keren! It’s duper cool! And this is the 1st time I cook asian food (Ini keren banget! Dan ini adalah pertama kalinya saya memasak makanan Asia),” ujar Maxi.

Sementara Julia Selzer, seorang orangtua murid, menyatakan bahwa program Food Explorer sangat bagus untuk anak-anak. “This is good for the children, asian food and ingredient are completely new for them (Ini baik untuk anak-anak, makanan Asia dan bahan-benar baru bagi mereka),” kata Julia.

Hari ketiga Food Explorer, Sabtu (17/10/2015) waktu Jerman, 3 siswa SMK N 1 Kudus dan tim kuliner Indonesia memasak rendang dan membuat dawet ayu. Seperti pada hari pertama dan kedua, kelas ini juga langsung diserbu pengunjung.

“Anak-anak ini sangat awam tentang rasa di luar lingkungan mereka. Melalui kesempatan seperti ini, mereka akan memiliki pengalaman luar biasa tentang rasa, terlebih di usianya saat ini. Mereka memiliki memori yang baik, sehingga mereka akan terus teringat. Harapannya saat besar nanti, mereka masih terkenang dengan pengalaman kecilnya, yakni pernah memasak masakan Indonesia,” ungkap William Wongso.

Total peserta Classroom of the Future dari hari pertama sampai akhir menurut manajer programnya, Rolland Berger, ada 1.011 siswa. Khususnya Food Explorer, walaupun telah berakhir pengunjung terus berdatangan dan bertanya, bahkan beberapa di antara mereka meminta resep masakan-masakan Indonesia.

Afifah, Billa, dan Yoga adalah siswa jurusan tata boga SMKN 1 Kudus. Sekolah binaan Djarum Foundation ini memang berfokus pada kuliner tradisional Indonesia. Tak heran, mengenalkan kuliner Indonesia adalah keahlian mereka. (*/evi)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.