Siapkan Lima Bandara Antisipasi Dampak Gunung Agung

0
477
Jpeg

BALI, BisnisWisata.co.id,- MENTERI  Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah menyiapkan lima bandara untuk mengantisipasi jika aktivitas vulkanis gunung Agung gangguan operasional penerbangan di bandara internasional Ngurah Rai Bali.

Seperti diketahui sejak Jumat 23 September pukul 20.30 status gunung Agung ditetapkan menjadi status AWAS.  Penduduk di sejumlah kawasan rawan bencara (KRB) diungsikan di 126 titik pengungsian dan di sejumlah tempat pengungsian  di kabupaten tetangga Karang Asem. Pasalnya tidak sedikit masyarakat yang melakukan pengungsian mandiri, diluar posko- posko yang telah disiapkan pemerintah.

Meningkatnya aktivitas vulkanis gung Agung sampai saat ini belum mempengaruhi geliat aktivitas periwisata di Bali. Namun pemerintah telah menyiagakan lima bandara sekitar P Bali sebagai aksi antisipasi. Menhub mengatakan  bandara yang disiapkan adalah Lombok, Makasar, Banyuwangi, Surabaya dan Malang.  Sejauh ini ungkap  Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim, penerbangan masih normal.

Diakui Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, pariwisata merupakan industri yang rentan terhadap berbagai peristiwa bencana. Apalagi Bali adalah daerah tujuan wisata dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 4,92 juta orang selama tahun 2016. Jumlah tersebut meningkat 23,14 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 4,001 juta orang. Sementara pada tahun 2017 Bali menargetkan untuk mendatangkan 5,5 juta wisman.

Kehadiran wisatawan dan industri pariwisata memberikan kontribusi besar, seperti kesempatan lapangan kerja, pembiayaan infrastruktur, dan kampanye-advokasi. Bencana memiliki potensi untuk dampak jangka panjang dan mengancam kehidupan manusia serta bisnis, termasuk di dalamnya adalah infrastruktur, pelayanan, transportasi, akomodasi, dan elemen pariwisata lainnya.

“Manajemen risiko bencana perlu disiapkan dengan baik dalam pengembangan pariwisata. Banyak kasus membuktikan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat yang berada di suatu destinasi, berbanding positif dengan tingkat kesiapsiagaan. Dengan adanya upaya pembangunan manusia bersamaan dengan pengembangan infrastruktur mitigasi, maka dapat menguatkan daya adaptasi suatu destinasi,” jelasnya lebih lanjut.

Upaya menghadapi bencana tidak cukup dengan sekedar memberikan rambu-rambu atau papan informasi. Rencana dan sistem evakuasi bencana yang sudah dibuat perlu disosialisasikan dan dilatihkan terus menerus. Akan lebih baik lagi jika bisa melibatkan wisatawan dengan komunikasi yang baik agar mereka tidak terganggu dan malah merasa aman, sehingga ketika bencana terjadi, maka seluruh aksi akan terjadi dimana pengambilan keputusan dilakukan secara cepat dan tepat pada keadaan darurat, termasuk perihal komunikasi saat krisis, tegas Sutopo. *Dwi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.