Serunya wisata belanja memanfaatkan bus tingkat wisata Jakarta

0
2114
Bus Tingkat Wisata Jakarta beroperasi mulai jam 9.00 -19.00 WIB

pesona-indonesia_update-22novJAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Nana Lusi, pengemudi bus wisata tersenyum menyambut saat Jasman Ridho, Imas, Maria, Marman dan teman-temannya dari Pekanbaru masuk dalam bus wisata yang dikemudikannya tepat dibelakang kursinya dan duduk di barisan bangku pertama di sisi kirinya.

Wanita cantik berhijab yang sudah 10 tahun berprofesi sebagai supir busway itu mengemudi dengan santai. Hari Sabtu jalanan di jalan MH Thamrin sebagai jalur utama di ibukota memang tidak padat dengan kendaraan yang melintas pada hari kerja.

“Ikut saja dulu satu kali puteran baru putuskan mau singgah dimana dulu untuk berwisata sesuai jalur bus wisata ini,” katanya memberi saran karena rombongan Jasman yang berjumlah 7 orang terdiri dari lima wanita dan dua pria masih belum bisa menentukan obyek wisata mana yang akan disinggahinya.

Bus bertingkat yang dikemudikannya itu beroperasi sebagai bus wisata gratis bagi wisatawan dalam dan luar negri dan beroperasi sejak 24 Februari 2014 dengan rute melalui berbagai landmark kota Jakarta.

“Rute bus ini melewati jalan-jalan di koridor utama kota Jakarta yang banyak menjadi pusat aktifitas masyarakat seperti museum, hotel dan pusat perbelanjaan. Sayangnya wisatawan asing masih belum banyak yang paham bahwa bus wisata ini gratis dan bisa mengantar mereka ke obyek wisata seperti pusat perbelanjaan,”

Dari shelter Bundaran Hotel Indonesia, ujar Nana Lusi, mobil bergerak menyusuri Jalan MH Thamrin-Jalan Medan Merdeka Barat-Shleter Museum Nasional-Jalan Majapahit-Harmoni-Komplek Sekretariat Negara-Shelter ANZ Bank (Pecenongan)-Pasar Baru.

Melewati Gedung Kesenian Jakarta-Lapangan Banteng -Shelter Masjid Istiqlal-Jalan Juanda-Jalan Veteran II-Jalan Medan Merdeka Utara-Shelter Istana Negara (Medan Merdeka Barat)-Indosat-Jalan Medan Merdeka Selatan-Shelter Balaikota-Jalan MH Thamrin-Shelter Sarinah dan bus kembali ke Shleter Bundaran Hotel Indonesia.

“Bus tidak berhenti di sembarang tempat,” kata dia. Bus ini beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai 19.00 WIB. Bus Tingkat Wisata milik DKI Jakarta ternyata diminati oleh warga yang ingin menikmati berkeliling Ibu Kota dikala Libur Lebaran lalu. Anak-anak, kata Nana Lusi, langsung berebut naik ke atas karena ingin menikmati pemandangan.

Dari depan kemudinya, Nana mengaku dapat mengontrol kondisi lantai atas bus wisata itu melalui kamera dan layar TV kecil di hadapannya sehingga dia dapat mengawasi aktivitas penumpang. Maklum hanya setahun bus wisata ini memiliki pemandu wisata di dalam bus, setelah Gubernur Jokowi menjadi Presiden maka keberadaan pemandu di dalam bus dihilangkan oleh penggantinya.

Menurut Nana saat Lebaran hari pertama pada 17 Juli 2015 dioperasikan empat bus tingkat wisata City Tour Weichai dan satu bus tingkat wisata milik MAN atau sumbangan PT Coca Cola Indonesia. Penumpang ramai pada sore harinya mungkin setelah bersilaturahmi baru menyempatkan jalan-jalan, jelasnya.

Jasman Ridho yang tengah menjadi tuan rumah atas kedatangan rekan-rekannya dari Pekanbaru memutuskan singgah dulu di Museum Nasional yang disebut juga Museum Gajah. Meski sebagian besar juga belum pernah naik ke atas Monumen Nasional atau Monas, namun mereka cukup menikmati landmark kota Jakarta itu dari halaman museum saja karena letaknya berhadapan.

Antrian yang mengular untuk sampai ke puncak Monas di saat liburan sekolah sekaligus libur Lebaran kali ini membuat mereka mengurungkan niat untuk melihat keindahan hutan beton Jakarta dari atas ketinggian.

Museum Gajah

museum jakartaBegitu turun dari bus wisata, patung gajah di halaman depan langsung di tuju, apalagi kalau bukan untuk membuat foto bersama dan langsung mengunggahnya di media sosial. Puas berfoto, rombongan langsung menyebar dan komitmen kembali dalam waktu satu jam saja.

Eksistensi Museum Nasional diawali dengan berdirinya suatu himpunan yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ( BG) yang didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 24 April 1778. Ini merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penetitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah.

Setelah dua kali pindah, barulah BG menempati gedung sekarang dan memamerkan koleksi-koleksi yang dibuka untuk umum pada tahun 1868. Hingga kini Museum Gajah memiliki 140.000 benda terdiri dari tujuh jenis koleksi.

Bagi Maria yang pecinta perhiasan, maka langkah kakinya menuju ruangan berisi Koleksi Arkeologi. Soalnya selain menampilkan arca dewa-dewa Hindu, arca Buddha, arca perwujudan, arca binatang juga ditampilkan beragam seni perhiasan, peralatan upacara, bagian bangunan, mata uang, prasasti, dan lain-lain.

koleksi lainnya adalah jaman Prasejarah, kurun waktu pada saat manusia belum mengenal tulisan. Di Indonesia, masa Prasejarah dimulai sejak keberadaan manusia sekitar 1,5 juta tahun yang lalu hingga dikenalnya tradisi tulisan pada abad ke-5 Masehi, yaitu ketika ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur..

Koleksi Arkeologi di Museum Nasional meliputi benda-benda budaya hasil kegiatan manusia dari masa Hindu Buddha dan lebih dikenal dengan sebutan masa Klasik Indonesia. Masa ini berlangsung dari awal abad ke-5-15 Masehi, dimana berkembang kebudayaan lokal yang dipengaruhi oleh kebudayaan India.

Sementara Maria asyik mengamati desain perhiasan kuno, Imas memilih langsung ke ruang koleksi keramik yang berasal dari Cina karena sebagai pembina UMKM dia membutuhkan pengetahuan tentang desain keramik dari masa Dinasti Han (206 sM – 220 M) sampai dengan masa dinasti terakhir, Dinasti Qing (1644-1912). Lainnya berasal dari Vietnam (abad ke-14 – 16 M), Thailand (abad ke-14 – 16 M), Jepang (abad ke-17 – 19 M), Timur Tengah (abad ke-18 – 19 M), dan Eropa (abad ke-17 – 19 M).

Koleksi lainnya di Museum Gajah adalah Numistik dan Heraldik, terdiri dari benda-benda seperti koin, uang kertas dan token yang pernah beredar dan digunakan oleh masyarakat, di samping itu juga terdapat alat cetak uang.

Koleksi Sejarah berisi benda-benda peninggalan dari masa pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, antara abad ke-16 Masehi hingga abad ke-19 Masehi. Koleksi berupa perabot, meriam, gelas, keramik, lampu hias, gerabah, prasasti sebagian dibuat di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Jerman, Cina dan Jepang.

Produk ekonomi kreatif berabad-abad lalu itu memberikan inspirasi baru bagi Maria dan rombongan kecilnya untuk lebih meningkatkan desain-desain unik untuk usaha rumahannya. Satu jenis koleksi lainnya yang patut dilihat adalah Koleksi Geografi yang menampilkan fosil toxaster dan amonit yang berumur antara 75 – 135 juta tahun.

Ada juga koleksi batuan, berbagai jenis peta aneka budaya bangsa Indonesia, peta dunia pada sekitar abad ke-15 – 17 Masehi, peta Indonesia abad ke-16 Masehi, peta perkembangan kota Batavia abad ke-16 – 18 Masehi, dan lain-lain.

Wisata belanja

SONY DSC
Grand Indonesia di malam hari

Waktu terasa berjalan cepat, sambil menunggu bus wisata Nana kembali melintas  di depan museum, rombongan kecil Jasman Ridho duduk-duduk di bangku antik yang disediakan Pemprov DKI Jakarta di trotoar jalur utama ibukota. Kali ini keputusannya sudah bulat, makan siang dan wisata belanja di Grand Indonesia, salah satu mall modern.

Namun sebelumnya ada dua pusat perbelanjaan yang dilewati rute bus wisata yaitu Pusat perbelanjaan berarsitektur Eropa dan Cina ini dibangun pada tahun 1820 sebagai Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. Orang yang berbelanja di Passer Baroe yang sekarang disebut Pasar Baru adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang jalan Veteran).

Di antara toko-toko lama yang masih ada hingga kini adalah Apotek Kimia Farma, toko Lee Ie Seng, toko perabot rumah tangga Melati, toko jam Tjung-Tjung, dan toko kacamata Seis (Tjun Lie). Pengusaha ritel Matahari Putra Prima mendirikan bisnisnya di Pasar Baru pada tahun 1958 dan masih berjaya hingga sekarang.

Dulu jauh sebelum Jakarta dipadati dengan 173 mal, Sarinah adalah satu-satunya mall di Jakarta. Letaknya di JL Thamrin, Jakarta Pusat. Melintas di shelter Sarinah Departemen Store, Nana Lusi menawarkan rombongan untuk turun dulu. Namun perut yang sudah keroncongan membuat rombongan wisatawan nusantara itu cukup mendengarkan kisah Nana sambil menyetir.

“Sarinah adalah mall pertama di Jakarta yang diresmikan tahun 1966. Tentu saja dulu tidak disebut sebagai mall melainkan toko serba ada atau departement store. Lantai favorit bagi wisatawan mancanegara adalah yang menjual produk kerajinan khas dari seluruh Indonesia di lantai 5,” jelasnya.

Gedung Sarinah dibangun atas keinginan presiden pertama Indonesia, Soekarno dengan uang dari rampasan perang Jepang. Nama Sarinah diambil dari nama pengasuh Soekarno kecil, tambahnya. Jakarta sebagai ibukota negara memiliki beragam obyek wisata sehingga menemukan bangunan lama dan baru tidaklah sulit. laman resmi kementrian pariwisata : www. Indonesia. travel dapat memandu wisatawan dari dalam dan luar negri untuk mengunjungi berbagai fasilitas mulai dari transportasi, akomodasi, restoran, tempat hiburan, mall, obyek wisata sehingga fasilitas pertemuan.

Kembali ke shelter terakhir di Bundaran Hotel Indonesia, Jasman memimpin teman-temannya berjalan kaki ke Mall Grand Indonesia. Di depannya menghadap MH Thamrin juga berdiri Plaza Indonesia, pusat perbelanjaan lainnya yang saling berdekatan.

Pada tahun 2009 Hotel Indonesia selesai mengalami pemugaran dan namanya menjadi Hotel Indonesia – Kempinski. Areal sekeliling Hotel Indonesia juga dikembangkan menjadi kompleks multi-guna dengan nama Grand Indonesia Shopping Town yang terdiri gedung perkantoran, apartemen dan pusat perbelanjaan.

Grand Indonesia Shopping Town terdiri dari tiga bagian: East Mall, West Mall dan sebuah Skybridge menghubungkan kedua bagian tersebut. Skybridge tersedia di lantai 1, 2, 3, 3A, dan 5 dengan sebuah foodcourt berkonsep Food Louver yang berada di lantai 3. Di mall ini pengunjung juga bisa menikmati beragam hiburan seperti karaoke, bioskop Blitzmegaplex hingga aneka hiburan untuk anak-anak dalam satu atap.

Sesuai mottonya yaitu Crossroads The World (Persimpangan Dunia), maka dalam mall ini ada area area negeri negeri seberang, sepeti Negeri Belanda dengan kincir angin raksasanya, Negeri Cina dengan bambu dan lampionnya, negeri Arab dengan bangunan uniknya, termasuk area Melayu.

Sebenarnya Grand Indonesia terbagi 4 distrik yang disebut Market District, Fashion District, Garden District dan Entertainment District. Mall luas dan unik ini juga punya sebuah wahana baru Magic Fountain Show, tempat air mancur menari dan bernyanyi yang dipertunjukkan setiap satu jam sekali dengan pertunjukan, musik, gebyar warna warni lampu, dan tarian air mancur yang bagus.

Di West Mall lantai 8, ada Galeri Indonesia Kaya dilengkapi dengan auditorium berkapasitas 150 orang, lengkap dengan panggung sebesar 13x3m dengan tiga buah screen dilengkapi projector utama 10.000 lumens dan projector pendukung 7.000 lumens, sound system dengan audio power mencapai 5000watt, disertai dengan empat buah moving LED diatas panggung dan tata lampu LED berjumlah 36 buah yang menghasilkan efek dramatis.

Saat tidak ada pertunjukan yang berlangsung, pengunjung masih dapat menikmati menari tarian daerah dengan Fantasi Tari Indonesia. Beberapa tarian khas nusantara yang dikemas virtual membuat pengunjung dapat seakan-akan menari bersama dengan mereka. Tidak herankan kalau bisa menghabiskan waktu seharian berada di mall yang lengkap beragam fasilitas ini.

Tapi bagi rombongannya yang masih hobi belanja, Jasman Ridho masih punya opsi tempat belanja lainnya tinggal berjalan kaki dari Mall Grand Indonesia yaitu di Thamrin City atau Thamrin City Mall. Jarak mall ini dari pusat grosir Tanah Abang juga berkisar 300 meter saja dengan akses berbagai arah antara lain dari Jl. Thamrin, Jl. Teluk Betung, maupun dari Jl. KH. Mas Mansyur

thamcit jakarta Thamrin City merupakan super blok yang sudah dilengkapi dengan apartment, town house, hotel berbintang, gedung perkantoran, exhibition hall dan memiliki zona-zona seperti Celluler Zone, Stationary Zone, HandyCraft Center, Sport Center, Electronic Store, Food Center, Office Center.

Di depan Thamrin City tersedia bus wisata untuk ke Bandung maupun ke Bandara Soekarno Hatta karena sebagai pusat grosir seperti halnya Pasar Tanah Abang, Thamrin City banyak dikunjungi wisatawan mancanegara dari negri jiran seperti Singapura, Malaysia, Brunei bahkan hingga Australia dan Amerika Serikat karena keunggulan produk busana muslimnya.

Wisata belanja dan kuliner yang hanya dipusatkan di wilayah Jakarta Pusat saja ternyata membuat rombongan kecil Jasman Ridho baru menyelesaikan aktivitasnya pukul 21.00 WIB. Dalam perjalanan pulang, dia masih menggoda tamu-tamunya untuk mampir ke midnight sale di mall-mall lain yang pada waktu tertentu buka hingga larut malam.

“Nah sebelum tidur putuskan dulu, besok mau ke kawasan resort di Kepulauan Seribu atau ke Tanjung Lesung di Banten ? apa cukup ber wisata di kawasan Sentul dimana ada pasar terapung, jungleland, mall dan wisata alam lainnya hanya sekitar 40 km dari Jakarta ? tanya Jasman tanpa mendapat jawaban karena sebagian sudah pulas tertidur di mobil. ( [email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.