Serunya Mengikuti Komunitas Ring Satu Berwisata Ke Jogyakarta

0
569

JOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Tulisan Sugeng Rawuh, Welcome to Jogja di pintu kedatangan Bandara Adi Sucipto, Jogyakarta menjadi background rombongan komunitas Ring Satu untuk foto bersama begitu mendarat di kota gudeg ini.

Maklum di Bandara Soetta, Jakarta, kami tak sempat membuat foto bersama karena masing-masing peserta rombongan datang silih berganti hingga jelang keberangkatan di terminal I A.

Pak Tatang Junaidi langsung menjemput begitu keluar dari ruang kedatangan dan kami  menuju bis di area parkir. Beres urusan bagasi dan duduk manis, Nuchasin langsung di daulat untuk menyanyikan lagu D’Lloyd berjudul Mengapa Harus Bertemu.

Emron Pangkapi ( kiri), ketua rombongan berkaraoke dalam bis

Mendengarkan lagu-lagu yang familiar ditelinga sesuai umur disambung dengan ustad Salmona dan  Rachmad Saleh bernyanyi diiringi anggota rombongan lainnya secara berjamaah membuat suasana makin heboh.

Rombongan wisata selama empat hari tiga malam ini diikuti anggota  komunitas Ring Satu, yaitu  para  journalist senior angkatan pertama Harian Bisnis Indonesia sehingga romantisme masa perjuangan awal membuat koran ekonomi di negri ini menjadi obrolan menyegarkan. Ingatan juga kembali pada suasana kantor di Jl Kramat V, Jakarta Pusat 32 tahun yang silam.

Alhamdulilah upaya merajut persaudaraan puluhan tahun membuat kami menjadi begitu kompak  setiap kali memutuskan untuk berwisata bersama. Kali ini kemana saja rute yang akan dikunjungi harus direvisi karena hujan mengguyur kota Jogya sejak kami datang pagi ini. 

Dari bandara tujuan pertama adalah wisata kuliner tentunya. Maklum pesawat yang lepas landas usai sholat subuh membuat perut terasa lapar. Bis menuju Warung Soto Pak Saleh di daerah Tegalrejo, Jogyakarta.

Warung soto pak Sholeh

Warung Soto Pak Sholeh Al-Barokah bisa dibilang kuliner soto yang konon masuk top 10 wajib dikunjungi wisatawan yang datang ke Jogyakarta. Hujan rintik mengiringi saat kami turun dari bis tepat di samping warung dengan area parkir yang luas.

Sejumlah mobil plat merah dan mobil pribadi sudah memenuhi area parkir depan warung. Benar saja warung berkapasitas sekitar 75 kursi sudah penuh. Untung tersisa dua deret meja panjang sehingga anggota rombongan bisa bersantap dan berkumpul bersama.

Bau kuah soto dari dandang besar dan susunan mangkok soto di samping meja kasir langsung menarik perhatian saya. Soto daging dengan aroma yang menggugah selera itu menurut karyawan yang ada bisa terjual per hari rata-rata 800 mangkok.

Dimeja tersedia kerupuk, telor asin dan gorengan usus serta kue-kue untuk camilan saat menunggu pesanan datang. Banyaknya pengunjung yang datang masih saja membuat staf warung soto ini tidak mampu melayani dengan sigap.

Tamu harus bersabar untuk mendapat pelayanan tanda bahwa Dinas Pariwisata dan industri pariwisata setempat harus segera meningkatkan kapasitas sumber daya manusia akan pentingnya hospitality di destinasi wisata populer ini.

Blusukan ke dapur kita bisa melihat proses memasak yang tidak memakai gas melainkan arang membuat rasa soto ini semakin spesial. Soto yang pada tahun 1952 hanyalah soto pikul yang dijajakan keliling kampung oleh pak Saleh kini menjelma menjadi warung soto istimewa yang kondang di Kota Jogya. Di dinding tertulis bahwa pengelola tidak membuka cabang dimanapun.

Saya mencicipi kuah sotonya terlebih dahulu. Rasanya gurih dan menyegarkan karena ada potongan jeruk nipis dan potongan daging yang empuk dan cukup banyak. Tak heran banyak yang tambah dan bisa menghabiskan dua mangkok sekaligus.

Kembali ke bis, acara karaoke  berlanjut. Kali ini bis melewati jalan pedesaan di kawasan Prambanan karena kami menuju Tebing Breksi, tempat wisata yang Instagramable dan hits apalagi menjadi salah satu nominasi obyek wisata yang sempat akan dikunjungi mantan Presiden AS, Barack Obama saat berlibur bersama keluarganya Juni 2017 lalu meskipun akhirnya mereka batal ke sana.

Breksi memang obyek wisata baru yang unik, karena mengedepankan tebing sebagai obyeknya. Apa yang menarik dari tempat yang disebut-sebut sebagai Garuda Wisnu Kencana-nya Jogja ini?

Tebing Breksi merupakan area bekas pertambangan batu kapur yang kini berubah fungsi menjadi obyek wisata yang dikembangkan oleh penduduk lokal. Batu kapur yang ada di tebing ini sendiri berasal dari adanya endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran ribuan tahun lalu.

                    Tebing Breksi yang mempesona

Tebing yang  terlihat sebagai maha karya seni raksasa ini diresmikan oleh Gubernur D.I Yogyakarta pada 30 Mei 2015. Batuan-batuan raksasa dipahat menjadi berbagai bentuk oleh para seniman lokal termasuk adanya amphitheatre berbentuk lingkaran dengan bangku dari batu.

Keberadaan tempat yang disebut Tlatar Seneng ini sepintas mengingatkan akan megahnya arena pertarungan Romawi kuno. Pada waktu-waktu tertentu, Tebing Breksi tidak hanya menawarkan diri sebagai lokasi wisata geologi saja melainkan juga sebagai venue dari eventevent seperti pertunjukan seni atau event film.

Letaknya  di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Kawasan itu juga berdekatan dengan obyek wisata Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, Candi Kalasan, Candi Ijo, Candi Banyunibo dan Candi Barong.

Saat tiba di area parkir sudah ada sejumlah mobil pribadi dan enam bis besar  membawa karyawan sebuah perusahaan asuransi yang akan mengadakan family gathering merayakan ulang tahun ke 26.

Ada dua buah jeep dan sejumlah motor trail yang bisa membawa pengunjung ke atas. Medannya cocok bagi penggila suasana outdoor  seperti motor-cross, mountain bike-downhiller atau bahkan para penggemar olahraga ekstrem off-roader. Jeep terbuka seperti di kawasan Merapi dan Bromo  serta motor trail bisa disewa pengunjung.

        Nur Hidayat pose depan Mesjid Ghede Kauman

Kembali ke tengah kota, Masjid Gedhe Kauman yang berarsitektur Jawa kuno menjadi pilihan peserta untuk melaksanakan ibadah sholat Jumat. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya.

Bis parkir di area Taman Pintar di Jl Senopati dan begitu turun diberondong tawaran naik becak bertarif Rp 5000. Tertarik mengikuti tawaran para tukang becak, rombongan wanita memilih untuk belanja memanfaatkan waktu sambil menunggu teman lainnya beribadah.

Setelah berada di atas becak ternyata tukang becak sudah punya rute sendiri untuk membawa kami ke outlet batik dan bakpia. Mereka tidak mau mengantar ke Pasar Beringharjo dengan dalih jauh, harus muter dan biaya naik jadi Rp 20.000 per becak. Permintaannya kami penuhi tapi ternyata Pasar Beringharjo hanya berjarak sekitar 200 meter saja dari area parkir.

Rasanya jengkel sekali dengan gaya tipu-tipu berjamaah dari para tukang becak di Taman Pintar ini. Antara ongkos dan jarak yang harus ditempuh tidak seimbang karena ternyata sangat dekat bahkan cukup ditempuh jalan kaki.

Lagi-lagi destinasi wisata unggulan bernama Jogyakarta ini dinodai oleh pelayanan buruk dari para tukang becak penunjang industri wisatanya sendiri. Kalau hal ini dibiarkan dan semua pihak terkait tutup mata maka senjata makan tuan, turispun akan hengkang dan pilih destinasi wisata lainnya.

Di Pasar Beringharjo, aksi borong batikpun saya lakukan bersama Retno Indarti, Yuli, Rosyani dan Anna di kawal oleh Turman Panggabean yang menjadi time keeper sekaligus bodyguard geng cewek-cewek berbelanja terutama baju dan daster.

Tas-tas kerajinan di bagian belakang pasar juga segera berpindah masuk dalam kantong belanjaan kami. Pasar tradisional  tertua yang setiap harinya dikunjungi wisatawan nusantara ini punya nilai historis dan filosofis yang tidak dapat dipisahkan dengan Kraton Yogyakarta.

Turman Pangabean ( kanan) santap siang bersama rombongan di resto Ndoro Ayoe

Beringharjo memiliki makna harafiah hutan pohon beringin yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi warga Yogyakarta. Pasar yang terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 16, Jogyakarta ini menawarkan banyak jenis barang yang dapat dibeli mulai dari batik, jajanan pasar, uang kuno, pakaian anak dan dewasa, makanan cepat saji, bahan dasar jamu tradisional, sembako hingga barang antik.

Usai berbelanja dan kembali ke bis, acara dilanjutkan dengan makan siang di Restoran Ndoro Ayoe di daerah Seturan. Kali ini pilihannya adalah seafood, ada  soup tom yam kung, ikan crispy dan beragam menu lainnya.

Hampir seluruh anggota rombongan fokus menikmati hidangan yang tersedia. Selain pelayanannya cepat, rasanyapun tidak mengecewakan sehingga ketika meninggalkan restoran itu menuju hotel Aryuka di Ring Road Utara, Sleman sebagian besar tertidur kekenyangan.

Suara Firdaus Badri membangunkan saya dari tidur di bis ketika kami tiba di hotel. Pembagian kamar berjalan lancar dan masih sempat beristirahat dan sholat Ashar. Usai magrib kami masih melanjutkan perjalanan bertandang  ke rumah Anna di  Wonokromo dan makan malam di Resto sate klatak pak Pong yang populer di kawasan itu.

                                Sate klatak Pak Pong

Lokasi tepatnya di Jalan Imogiri Timur Km. 10, Wonokromo, Pleret, Wonokromo, Pleret, Bantul.
Berbeda dengan sate kambing pada umumnya. Sate klatak tidak menggunakan tusuk dari batang bambu melainkan jeruji besi sepeda.

Bukan tanpa alasan, jeruji besi berfungsi sebagai penghantar panas yang baik membuat daging matang hingga ke bagian dalam. Keunikan lainnya terletak pada bumbunya. Kalau biasanya sate kambing berbumbu kecap atau sambal kacang, sate klatak disajikan dengan kuah gulai dan disantap dengan nasi putih.  

Ramainya pengunjung lagi-lagi membuat pelayanan berjalan lamban. Alhasil banyak waktu tersita hanya untuk menunggu hidangan tersedia. Meski akhirnya semua pesanan datang, agaknya rombongan kami sudah tidak dapat menikmati bagaimana kelezatannya.

Menjelang jam 23.00 tour hari ini baru berakhir. Hari ke dua di Jogya akan kami lewati di kawasan Gunung Kidul mekihat hutan pinus, melongok Goa Pindul dan Sungai Oya dan pantai-pantai yang jadi destinasi baru. Ayo semangat dan berdoa Jogya tidak diguyur hujan.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.