Seribu Satu Malam, The Professor Band Menggugah Anak Muda

0
853

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Musik Hip Hop, R&B, K-Pop kini menyerbu Indonesia. Generasi muda pun menggandrungi beragam aliran musik dari penjuru dunia. Inilah yang menjadi keprihatinan, kesediaan, kenestapaan yang mendalam dari generasi tua. Lebih memprihatinkan lagi, generasi muda mengabaikan lagu-lagu, musik, musisi masa lampau yang pernah berjaya di masanya.

Melihat kondisi itu, The Professor Band tergugah membangkitkan kembali, mendaur ulang lagu-lagu lama ciptaan Ismail Marzuki. Group band yang didominasi para profesor dari berbagai disiplin ilmu di Universitas Indonesia (UI) merilis album kedua bertajuk “Seribu Satu Malam”.

Album yang berisi 11 lagu ciptaan Marzuki Ismail antara lain Aryati, Sepasang Mata Bola, Juwita Malam, Indonesia Pusaka, Rindu Lukisan, Bunga Anggrek, Melati di Tapal Batas, Sabda Alam, Wanita, dan Payung Fantasi dengan balutan irama jazz.

“Kami sepakat memainkan, merekam lagu-lagu lama yang tetap fenomenal di Indonesia. Sekaligus ingin mengenang Ismail Marzuki, dia komposer hebat. Dan banyak generasi muda yang tidak mengenal namanya, apalagi lagu-lagunya,” papar Paulus Wirutomo, pemain drum dalam grup The Professor Band saat peluncuran album kedua di Jakarta, Jumat.

Selain itu, sambung Paulus, ingin lebih memperkenalkan kembali karya-karya Ismail Marzuki khususnya kepada anak-anak muda. “Ke depannya akan kami kenalkan lagu-lagu daerah se nusantara agar generasi muda kita tahu bahwa setiap daerah memiliki lagu-lagu yang menarik,” tambah Guru Besar Sosiologi UI.

Dipilihnya musik Jazz, menurut dosen Ilmu Politik Fadjari Iriani Sophiaan, satu-satunya anggota yang tidak bergelar profesor, lebih pas untuk membawakan karya Ismail Marzuki sekaligus dapat menjangkau anak muda.

Tahun 2007, The Professor Band pernah membuat kepingan cakram, namun rekaman yang tidak diberi judul dan tidak diedarkan secara komersial, hanya diedarkan di lingkungan pertemanan. “Kini kami mengedarkan secara komersial, karena ada sponsor dan industri rekaman yang peduli dengan band ini,” papar Catharina Paulus Wirotomo, yang memainkan saksofon sekaligus merangkap manajer.

Dijelaskan, The Professor Band awalnya terbentuk untuk menjembatani mahasiswa dengan para profesor dalam suatu acara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada 2002 silam. “Profesor itu rasanya ada di menara gading buat para mahasiswa,” kata Iriani.

Saat itu anggotanya terdiri dari Iriani, Paulus, Martani dan Raldi Kustur. Pada acara itu, para dosen bermain musik dan para mahasiswa boleh menyanyi dan berdansa. Tahun berikutnya, The Profesor Band diminta bermain dalam acara Badan Eksekutif Mahasiswa. Setelah itu para anggotanya sepakat melanjutkan hobi bermusik mereka.

Anggota mereka silih berganti. Kini The Professor Band adalah Njaju Jenny Malik Tomi Hardjatno (vokal), Iriani (vokal), Paulus (drum), Benny Hoedoro Hoed (harmonika), Ronny Nitibaskara (mandolin), Ichramsjah A. Rachman (vokal), Agus Sardjono (gitaris), Sarlito Wirawan (saksofon), Budi Susilo Soepandji (flute), dan Triatno Judohardjoko (gitar) dibantu beberapa pemusik tambahan.

Ternyata nama The Professor Band sudah melegenda, bahkan namanya mendunia karena belum ada professor di dunia yang terjun di dunia musik. Awalnya, hanya manggung saat wisuda mahasiswa. Ternyata, undangan manggung makin deras. Mulai acara seminar, talk show, sampai launching buku. “Undangan itu membuat kami lebih sering latihan,” papar Chaterina.

Latihan tersebut akhirnya menjadi “pekerjaan” sampingan mereka. Karena personelnya sudah mahir memainkan alat musik,
mereka tak memulai dari nol. “Kami tinggal mengasah, basic-nya kan sudah ada,” katanya sambil menambahkan cuma sangat sulit mengumpulkan seluruh personel untuk latihan bersama. “Pasti ada saja yang absen. Kalau tidak alasan mengajar, ya operasi,” lanjutnya.

Karena itu, ditetapkan jadwal latihan tiap Minggu malam. “Meski begitu, masih banyak saja yang terlambat atau buru-buru pamit karena kepentingan profesi,” sambungnya. (endy)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.