Selamatkan Warisan Budaya, Pengusaha Dorong Sarung Didaftarkan ke UNESCO

0
1241
Sarung Fashion kini jadi trend baru dunia mode

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Dorongan agar sarung didaftarkan ke United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya, terus mengalir. Pengusaha sarung, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Direktur Indonesia Fashion Week juga PT Trans Retail Indonesia (Transmart Carrefour) mengharapkan pemerintah untuk mendaftarkan sarung ke UNESCO.

Mengingat, sarung adalah sudah melekat di hati rakyat Indonesia. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam. Percampuran budaya sepanjang pesisir Indonesia membuat corak sarung lebih bervariasi. Desain Islam, Jawa, China dan Indo-Eropa melebur. Sehingga, sarung pesisir mempunyai warna, motif, dan pola yang lebih bebas.

Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Kemudian, sarung menjadi satu di antara simbol dan nilai-nilai budaya Indonesia.

Sarung biasanya dipakai untuk acara keagamaan, adat, pernikahan juga aktifitas santai. Dalam acara ini, baik pria dan wanita biasa memakai busana tradisional terbaik dengan sarung yang penuh warna dan kemegahan. Dan kini muncul local movement – sebuah gerakan lokal untuk meningkatkan rasa kebanggaan akan kekayaan lokal Indonesia.

“Kami sudah mengusulkan ke pemerintah agar sarung didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Karena khawatir negara lain di Asia Tenggara lebih dulu mendaftarkan ke UNESCO, dan kita sebagai produsen terbesar merasa rugi besar dan tak ada kebanggan, jika negara lain menyerobot lebih dulu,” papar Marketing Director PT Panggung Jaya Indah Textile Industri (Pajitex) Fachruddin Basalamah saat ditemui saat pengumuman pemenang Sarung Vaganza 2015, di Transmart Carrefour Cempaka Putih, Jakarta, Minggu kemarin.

Dijelaskan, hampir 28 provinsi di Indonesia mempunyai dan memproduksi sarung dengan berbagai motif, jenis dan disain. Karena itu, Indonesia harus bangga atas apa yang ada di Indonesia atas sarung. “Batik sudah masuk dan diakui Unesco, kita juga berharap Sarung bisa juga didaftarkan dan diakui Unesco agar tidak lagi diakui oleh bangsa lain seperti yang sudah-sudah,” lontarnya.

Di Indonesia, sambung dia, sarung dapat diproduksi baik oleh pengrajin besar, pengrajin kecil, maupun pengrajin menengah bahkan ibu-ibu rumah tangga pun dapat memproduksi sarung di rumah dengan alat bantu tradisional. “Inilah kekuatan sarung Indonesia, yang seharusnya mendapat pengakuan dari dunia internasional, karena sarung buatan Indonesia diakui di negara Timur Tengah, Asian bahkan Afrika. Kita harus bangga dan kita perlu gerakan dengan berbagai event seperti ini,” tambahnya.

Satria Hamid, Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia menambahkan pengajuan pendaftaran sarung ke UNESCO merupakan salah satu bentuk penyelamatan warisan budaya Indonesia. Semua pihak harus mendukung gerakan ini, sekaligus mendorong pemerintah untuk segera mendaftarkannya.

Diakuinya sarung tak hanya digunakan dalam upacara dan busana adat, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan fashion dan interior. Hanya saja pengaplikasian, pengolahan, serta pengolahannya memiliki perbedaan namun tetap unik dan menarik jika sarung dimodifikasi dari berbagai karya.

“Saat final lomba selfie kreasi sarung dengan tema Sarung is My New Denim, semua peserta menampilkan karya yang unik dan menarik dari bahan sarung. Nah ini menunjukkan sarung menjadi fashion baru untuk dikembangkan yang lebih bagus dan menarik lagi, lebih ngetrend lagi,” tambah Satria.

Ketua Bidang UKM/IKM Apindo Nina Tursinah menyambut baik rencana pendaftaran sarung ke UNESCO. “Ini merupakan awal yang baik dan perlu ditindaklanjuti untuk memulai dan meningkatkan sarung buatan Indonesia bisa mendunia, jika sudah diakui UNESCO. Kami sangat mendukung sekali rencana itu, dan kami juga membantu langkah-langkah selanjutnya, jika dibutuhkan agar Sarung bisa diterima UNESCO,” tambahnya.

Penjurian untuk kedua kompetisi akan dilangsungkan pada tanggal 13-15 November 2015 di Transmart Carrefour Cempaka Putih oleh dewan juri yang terdiri dari Dina Midiani (Direktur Indonesia Fashion Week), Lenny Agustin (Fashion Designer), dan Nina Tursinah Dewan Pimpinan Nasional Apindo.

Banyaknya motif dan jenis dari sarung maka kita akan mencoba untuk mengajukan agar sarung dapat diakui oleh Indonesia ke United Nations Education Social and Cultural Organization (Unesco), sebagai salah satu warisan budaya Indonesia,” kata Fachruddin Basalamah, Marketing Director PT Panggung Jaya Indah Textile Industri (Pajitex)

Dina Midiana, Direktur Indonesia Fashion Week (IFW) menyambut baik ide sarung didaftarkan ke UNESCO. Juga bangga denganTransMart Carefour yang menggelar Sarung Vaganza. Langkah ini sudah dilakukan dalam perhelatan besar Indonesia Fashion Week (IFW) 2015 ,yang terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai produk lokal. Dan memasuki tahun keempat, IFW memiliki program Local Movement diantaranya Sarong is The New Denim. Hal ini dimaksudkan agar pakaian tradisional sarung menjadi bagian dari gaya hidup.

“Kita ingin sarung menjadi bagian dari gaya hidup, seperti celana jeans atau denim. Juga ada peluncuran buku tentang sarung. Bahkan beberapa desainer menampilkan gaya kontemporer dengan sarung. Juga termasuk baju-baju yang dijual juga akan menampilkan sarung. Ini menunjukkan sarung sebagai bagian dari kain Indonesia harus diangkat ke dunia,” paparnya.

Sehingga melalui program Sarung Vaganza, kata dia, masyarakat lebih mencintai produk lokal dan bangga mengenakan pakaian tradisional dalam kehidupan sehari-hari. “Gaya pemakaian sarung bisa menggunakan semua kain tradisional dengan cara dililit dan diikat. Kita akan mengajak masyarakat memadupadankan dengan lebih moderen dan nyaman,” katanya.

Sarung tidak hanya terbatas di motif kotak-kotak seperti yang lazim digunakan untuk beribadah para pria. “Apa aja yang bisa diikat di pinggang itu sarung. Sarung nggak terbatas dengan sarung kotak. Kultur kita tuh kain, semua jenis kain adalah sarung. Kami harapkan produk lokal semakin berkembang dan siap untuk bersaing dengan produk-produk mancanegara,” sambungnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.