Sekolah Aluna Terapkan Metode Inklusi Montessori

0
8171
Dewi Hughes (kiri) dan Rina Jayani pada acara seminar, di Jakarta, Sabtu (7/3/15). Foto. Gur

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Sebagai seorang ibu yang memiliki anak gangguan pendengaran, saya memahami bagaimana sulitnya orangtua dari anak dengan gangguan pendengaran mencari sekolah yang dapat membantu menstimulasi kemampuan berkomunikasi verbal buah hatinya. Demikian dikatakan pendiri dan Kepala Sekolah Yayasan Aluna Harapan Bangsa, Rina Jayani.

“Saya rasa, pendidikan inklusi yang dikelola dengan baik bisa menjadi pilihan. Salah satu manfaatnya adalah untuk mengasah empati dan kepedulian mereka,” ujar Rina pada acara Open House dan seminar “Kiat Jitu Menemukan Potensi Anak Sejak Dini” di Jalan Kebagusan Dalam No 34A, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/15).

Metode Inklusi, yaitu pola pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak tanpa kebutuhan khusus untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama.

Suasana seminar di Sekolah Yayasan Aluna. Foto. Gur
Suasana seminar di Sekolah Yayasan Aluna. Foto. Gur

Sekolah Aluna yang didirikan Rina merupakan sekolah yang diperuntukan bagi anak usia dini (1,5 – 7 tahun) yang mengutamakan pengembangan kemandirian, percaya diri, kreativitas, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, serta dapat berprestasi maksimal sesuai dengan minat dan bakat anak.

Sebagai sekolah inklusi, Sekolah Aluna menerima murid berkebutuhan khusus, dalam hal ini anak-anak dengan gangguan pendengaran.

Keunikan sekolah inklusi di bawah naungan Yayasan Aluna Harapan Bangsa yang memiliki Rumah Belajar Click dan penitipan anak Matahariku ini juga menerapkan metode pengajaran Montessori.

Metode ini telah digunakan di banyak negara termasuk Indonesia dan telah terbukti mampu meletakan fondasi-fondasi dasar bagi sang anak.

Ciri dari metode yang diciptakan Dr Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak, dan pengamatan klinis dari guru yang berfungsi sebagai fasilitator atau pendamping.

Namun demikian, kebanyakan institusi pendidikan yang menerapkan konsep Montessori di Tanah Air justru mempergunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Lain halnya dengan Sekolah Aluna yang menerapkannya dengan bahasa Indonesia. Dengan keyakinan bahwa bahasa ibu adalah bahasa terbaik dalam menanamkan sebuah konsep bagi anak balita.

Pada kesempatan yang sama Dewi Hughes, mengatakan, “Hal yang tidak kalah penting untuk dipahami adalah pentingnya deteksi dan intervensi dini bagi anak-anak gangguan yang memiliki pendengaran”.

Menurut Hughes, orangtua harus paham bahwa semakin dini gangguan pendengaran terdeteksi, semakin cepat pula intervensi dapat dilakukan. Kedua hal tersebut merupakan kunci utama keberhasilan anak gangguan pendengaran agar dapat berkomunikasi dua arah secara verbal.

Pada kegiatan tersebut selain disponsori oleh International Hearing Centre (IHC) yang berpartisipasi untuk memberikan edukasi, Osem Store juga memberi pelatihan membuat kain jumputan yang dirancang khusus untuk orangtua dan anak sebagai sarana untuk menjalin kebersamaan di akhir pekan. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.