Belanja Tenun di Desa Sukarara (Bagian-1)

0
1585
Tiga wanita perajin tenun di Desa Sukarara tampak sedang menenun songket. (Foto. evi)

LOMBOK, Bisniswisata.co.id: Lombok, kota yang terkenal dengan Kota Seribu Masjid dengan pantai-pantainya yang mempesona, serta kerajinan tenun ikatnya menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan nusantara (Wisnus).

Sehari sebelum menyaksikan pemilihan Putri NTB 2015 pada September lalu Bisniswisata.co.id bersama Putri Pariwisata Indonesia 2014, Syarifah Fajri Maulidiyah atau biasa disapa Riri, menjelajahi Kota Lombok. Perjalanan pun dimulai dari mengunjungi Desa Sukarara, yang merupakan desa penghasil kerajinan tenun songket Lombok yang terkenal.

Lokasinya berada di luar jalur Jalan Negara, Kecamatan Jonggot, Lombok Tengah. Perjalanan menuju desa ini dapat ditempuh menggunakan angkutan umum dari Bertais ke Praya dan turun di Puyung. Kemudian dapat dilanjutkan dengan memakai jasa ojek menuju Sukarara.

Desa ini berjarak sekitar 25 km dari kota Mataram. Namun sebaiknya bila berkunjung ke desa ini menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, mengingat angkutan umum yang jarang untuk ditemui.

Desa Sukarara merupakan sentra penghasil songket terbesar di Lombok. Hal ini sudah menjadi bagian dari komoditi hingga merambah ke pasar luar negeri.

Tenun songket merupakan kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan dengan hiasan-hiasan dari benang sintetis berwarna emas, perak, dan warna lainnya. Hiasan itu disisipkan di antara benang lusi. Terkadang hiasan dapat berupa manik-manik, kerang, maupun uang logam.

Sebelum masuk untuk membeli tenun, pengunjung akan melihat pemandangan tiga perempuan berpakaian adat Sasak sedang mendemonstrasikan keterampilan mereka dalam menenun tenun songket.

Pengunjung dapat mencoba menenun dari perajin tersebut dan mengambil gambar saat menenun, mulai dari teknik mengolah benang (menggunakan pemberat yang diputar-putar dengan jari-jari tangan, pemberat tersebut berbentuk seperti gasing terbuat dari kayu), hingga menjadi selembar kain yang berwarna warni.

Display hasil kerajinan tenun tradisional di Desa Sukarara dengan variasi warna dan harga. (Foto. evi)
Display hasil kerajinan tenun tradisional di Desa Sukarara dengan variasi warna dan harga. (Foto. evi)

Selain tenun songket, Desa Sukarara juga memproduksi tenun ikat. Bahan tenun ikat sangat sederhana yakni terbuat dari bahan katun. Berbeda dengan tenun songket yang membutuhkan waktu lama hingga tiga bulan, perajin tenun ikat cukup satu hari atau seminggu dapat menyelesaikan tenun ikat sepanjang tiga meter.

Motif dari tenun ikat beragam, mulai dari motif ayam, motif kembang delapan, motif kembang empat, motif hewan tokek, dan lain sebagainya.

Harga tenun ikat yang ditawarkan bervariasi tergantung dari bahan pewarna kainnya, apabila terbuat dari pewarna kimia harganya Rp100.000-an, sedangkan kain yang terbuat dari pewarna alami agak sedikit mahal dikisaran Rp150.000-an.

Untuk harga tenun songketnya pun bervariasi sesuai dengan ukuran, tingkat kesulitan, dan bahan baku yang dipakai. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp50.000 hingga Rp3,5 juta-an.

ariri3
Tenun Ikat hasil kerajinan Desa Sukarara dengan warna dasar hijau menjadi pilihan Riri. (Foto.evi)

“Saya lebih suka pilih warna hitam, hijau, dan warna nut, meskipun pada dasarnya semua warna suka. Warna-warna tersebut lebih natural. Warna hitam lebih santai, simple, bisa dipadukan dengan jeans atau warna-warna lainnya, sedangkan warna hijau lebih warna alam dan memiliki karakter yang tenang,” ungkap Riri.

Selesai mengunjungi Desa Sukarara, Rumah Makan Lesehan Asri Lombok Tengah menjadi pilihan wisata kuliner. Jaraknya sekitar 10 menit dari Desa Sukarara.

Pilihan menu di rumah makan ini bervariasai mulai dari menu Nasi Campur 3A, Nasi Lalap Asri, Ayam Pelecing, Ayam Pelalah, dan lain sebagainya. (evi) Bersambung- Mengenal Suku Sasak dari Dekat (Bagian-2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.