Sate Madura Kian Mendunia

0
1788
Sate Madura (Foto: Maksindo)

SUMENEP, bisniswisata.co.id: Di antara beragam jenis sate, Sate Madura termasuk yang terpopuler. Padahal, kuliner khas Indonesia itu sejatinya berasal dari Pulau Jawa, yang dibawa masuk ke Pulau Madura melalui pedagang jalanan.

Budayawan Sumenep Ibnu Hajar menuturkan, sate pertama kali masuk ke Madura pada awal abad 19. Semula, sate yang dibawa hanya berbumbu kecap dan irisan bawang merah saja.

Dalam perkembangannya, warga Madura kemudian menambahkan tumbukan kacang goreng, irisan bawang putih goreng dan jeruk nipis untuk menambah nikmat rasa.

“Sate ini di Madura awalnya tidak dikenal pada waktu dibawa ke sini. Namun, sate yang betul-betul berkembang dan ditangkap oleh masyarakat Madura yaitu sate ayam. Itu pertama,” kata Ibnu seperti dilansir laman Liputan6.com, Ahad (26/02/2017).

Setelah sate ayam diterima lidah warga, improvisasi resep sate semakin berkembang dengan kedatangan orang-orang Arab ke Pulau Madura. Merekalah yang memperkenalkan jika sate tidak hanya bisa berbahan dasar ayam, tetapi juga daging kambing. “Bahkan seiring perkembangan itu, daging sapi juga disate,” kata dia.

Menurut dia, lidah orang Madura mengubah pelafalan kata satai menjadi sate. Kata satai sendiri berarti potongan daging diiris kemudian ditusuk dengan bambu dan dibakar menggunakan arang.

Ada lagi yang berbeda dalam pemasakan sate sebelum masuk dan setelah masuk Pulau Madura. Proses pembakaran sate awalnya menggunakan arang kayu. Namun, warga Madura beralih menggunakan arang batok kelapa yang beraroma khas karena sumber bahan arang cukup mudah ditemukan di Pulau Garam itu.

“Apalagi, daerah yang dikenal dengan Pulau Garam ini notabene masyarakatnya membudidaya tanaman kelapa, sehingga batok yang bijinya telah diambil untuk dijadikan kopra, kemudian dimanfaatkan menjadi arang sebagai bahan membakar sate,” kata Ibnu.

Oleh para pelaut dan penjajah Belanda, Sate Madura dibawa berkeliling dunia. Kini, sate sudah banyak diterima di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

“Pelaut kita itu suka bebakaran, seperti ikan bakar. Namun ketika mereka rindu masakan daerah asal dan semacamnya, mereka mencoba memasak sate,” kata Ibnu. (*/LEO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.