Sapta Nirwandar: Irian Tertarik gelar Balap Sepeda

0
737
Sapta Nirwandar

BUKITTINGGI, test.test.bisniswisata.co.id: Tour de Singkarak, perhelatan akbar lomba balap sepeda internasional yang digelar di provinsi Sumatra Barat ternyata menjadi inspirasi provinsi lainnya untuk menggelar kegiatan sport tourism serupa. Dari 35 provinsi di Indonesia, hingga kini hanya Provinsi Papua yang berminat menggadakan balap sepeda.

“Sampai kini cuma Papua yang berminat. Memang ada daerah lain yang menggelar balap sepeda seperti Tour de Ijen di Banyuwangi, juga kabarnya Siak. Namun skalanya lokal karena tidak melibatkan daerah lain yang ada disekitarnya, atau belum ter-inteconnecting,” papar chairman Tour de Singkarak Sapta Nirwandar saat ditemui Bisniswisata.co.id usai strat etape VI Tour de Singkarak di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Kamis (08/10/2015).

Dijelaskan, suksesnya penyelanggaraan Tour de Singkarak karena didukung 18 kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Barat. Sehingga pelaksanaanya sangat ter-inteconecting. Dan kegiatan ini tidak terputus, ini yang menjadi daya tarik balap sepeda yang sudah diakui internasional, sehingga banyak pembalap asing berdatangan. Kini sudah 22 negara yang berlaga di Tour de Singkarak.

Selain itu, lanjut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di era Presiden SBY, event ini ternyata mampu memajukan pariwisata di daerah, yang selama ini kurang mendunia. Selain memajukan, Sport tourism ini juga menjadi daya tarik sehingga meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara.

“Dulu ada namanya Pesisir Selatan Sumatera Barat hanya dikunjungi segelintir wisatawan, namun sejak ada event Tour de Singkarak hasilnya sangat luar biasa karena dikunjungi 2 juta wisatawan lokal, nasional dan internasional, begitu juga daerah lainnya mengalami peningkatan kunjungan wisatawannya,” jelasnya serius.

Selain meningkatkan pariwisata, Tour de Singkarak juga mampu meningkatkan kebudayaan setempat. Para artis lokal atau penari-penari muda bisa tampil dalam sela-sela pelaksanaan Tour de Singkarak. “Nah ini dapat memotivasi generasi muda di bidang seni untuk menampilkan karyanya yang ditonton pembalap luar negeri juga wisatawan nusantara dan warga sekilar. Jadi timbul motivasi,” lontarnya.

Dan yang tak kalah pentingnya, keberadaan Tour de Singkarak menggugah perekonomian daerah. “Masyarakat memperoleh pendapatan dari menjual kuliner, souvenir dan lainnya,” tambah Sapta.

Dijelaskan, munculnya Tour de Singkarak berawal pasca gempa bumi, tsunami tahun 2009. Untuk memulihkan perekonomian daerah, menggugah masyarakat bangkit dari bencana sekaligus mendongkrak kunjungan wisatawan, dipikirkan event yang mampu mengatasi masalah itu.

“Jadi ada usul kegiatan bersepeda di kawasan Danau Singkarak. Setelah melakukan diskusi panjang, jika bersepeda santai atau sepeda gunung kurang menggereget. Akhirnya dipilih balap sepeda. Kalau balap mobil atau rally wisata kan sangat mahal, lomba kapal layar jelas nggak mungkin karena tidak punya laut. Dan dipilih balap sepeda, dan disepakati namanya Tour de Singkarak,” cerita Sapta.

Tour de Singkarak semula hanya diikuti 4 Kabupaten/kota lalu berkembang menjadi 10 kabupaten/kota dan kini sudah 18 kabupaten/kota di provinsi Sumatra Barat. Hanya 1 kabupeten yang tidak ikut yakni Mentawai. “Bukan lantaran mengabaikan Mentawai, tapi Karena menuju Mentawai menyeberang laut, dan butuh anggaran banyak termasuk akomodasi hotelnya. Namun kami masih terus menganalisa agar Mentawai juga dalam event Tour de Singkarak,” paparnya.

Selain balap sepeda, apa ada rencana menggelar sport tourism untuk memajukan pariwisata? “Kan sudah ada lomba balap layar, juga ada yang lain rally wisata tapi beayanya sangat mahal. Dan memang balap sepeda adalah tourism sport yang terinterconneting dengan daerah lainnya, selain itu balap sepeda sangat populer di masyarakat dan potensi untuk pengembangan pariwisata sangat bagus,” sambungnya. (endy poerwanto)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.