Sambut HUT Jakarta, Restoran Joglo Patheya Hadirkan Menu Betawi

0
1061
Laksa dan minuman khas Betawi, bir pletok. (Foto. evi)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Setelah sebelumnya pada April 2015 lalu Restoran Joglo Patheya (J-Path) yang terletak di Kemang Utara Raya No 22, Jakarta Selatan menghadirkan menu masakan Jawa. Untuk menyambut HUT DKI Jakarta ke-488 restoran yang memiliki konsep ala rumahan ini menghadirkan masakan Betawi.

Makanan khas Betawi seperti gabus pucung, pecak gurame, laksa, kerak telor, asinan, kue cubit, kembang goyang, serta minuman khas Betawi, yakni bir pletok mengisi santap siang di restoran ini.

“Anak-anak sekarang lebih suka pesan pizza dan nugget. Mereka tak tertarik pada kuliner tradisional. Anak saya pun dahulu tak suka makan gudeg,” ujar pemilik J-Path, Rahayu Ningsih kepada Bisniswisata.co.id selesai acara Bincang-bincang bersama Sejarawan JJ rizal bertema “Budaya Kuliner dan Adat Betawi” di Restoran J-Path, Jakarta, Jumat (12/6/15).

Perempuan yang lebih akrab dipanggil Yayuk ini mengatakan, “Berbeda dengan orang dewasa bahkan berumur, yang kini lebih tertarik pada kuliner tradisional karena semakin sulit dicari. Namun sebenarnya itu bisa diakali dengan lebih mengenalkan anak muda pada budaya. Jangan terus dipapar asing”.

Mengajak menikmati kuliner tradisional atau budaya daerah menurut ibu dari musisi Anto Hoed (suami dari pencipta lagu Melly Goeslaw) jadi salah satu contohnya.

“Ketika ke Yogya misalnya ajak anak-anak makan gudeg. Sekarang kalau ke Yogya, anak saya bisa tiga hari makan gudeg terus,” ungkap istri dari Prof Dr Benny H Hoed.

Karena itulah Yayuk memilih memfokuskan restorannya pada kuliner lokal, meski masih ada menu seperti pizza, spaghetti, dan burger.

Pada kesempatan yang sama, JJ Rizal mengatakan, “Tak bisa dipungkiri, budaya Betawi semakin terpinggirkan. Seniman lenong, penjual kerak telur, gabus pecak, dan ondel-ondel makin jarang ditemui. Yang ada di Pekan Raya Jakarta hanya gegap gempitanya saja”.

Menurut Rizal yang didampingi Dr Iin Respatini dan Prof Benny H Hoed, kesalahan tersebut terdapat di muatan lokal. Muatan yang ada di sekolah-sekolah tentang Betawi sekarang, menurutnya, tak ubahnya seperti sinetron.

“Misalnya, ada Kang Maman dari Kali Pasir. Itu sama sekali tidak Betawi,” ia mencontohkan. Cerita itu menurutnya justru rasialisme, antigender, dan menyiratkan kekerasan. Padahal, orang Betawi tidak selalu keras. Hanya kalangan yang kini dikenal dengan nama Betawi Ora yang budayanya keras dan sangat cablak. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.