Sail Karimata 2016, 100 Kapal Pesiar Singapura Tergoda Ikut Meramaikan

0
845

TANJUNG PINANG, test.test.bisniswisata.co.id: Singapore Power Boat Association (SPBA) mulai mengintip event wisata bahari Sail Karimata 2016. Dipastikan bakal dihadiri 100 yachters asal Negeri Singa Putih. Kehadiran 100 yacht dari negara tetangga itu tak lepas dari peran Bandar Bentan Telani dan Nongsa Point Marina di Batam. Rajutan kerjasama dengan SPBA dijalin sejak Agustus 2016. Muaranya, menjadikan Kepri sebagai wilayah play ground eksotik untuk para yachters Singapura.

“Kami buka pintu lebar-lebar untuk mengintip kondisi entri point dan exit point yacht di Bandar Bentan Telani. Ternyata respons awalnya bagus. Minimal ada 40 yachter SPBA yang siap parkir BBT saat event berlangsung,” ungkap Abdul Wahab, Group General Manager (GGM) Bintan Resort Cakrawala.

Erhard M. Rueber, General Manager Nongsa Point Marina juga ikut buka suara. Menurutnya. Sudah ada komitmen dari SPBA untuk meramaikan event FBK dan Sail Karimata 2016. Khusus untuk NPM, bakal ada 60 yachts yang siap sandar di Batam saat even berlangsung.

Nongsa Point Marina & Resort memiliki 65 tempat berlabuh kelas dunia yang dirancang oleh Bellingham Marina. Setidaknya ada dua tempat berlabuh untuk yacht berukuran 130 kaki. Belum lagi puluhan fasilitas parkir berth untuk ukuran yachts yang lebih kebil. Setiap tempat parkir berth-nya dilengkapi dengan listrik dan air. Marina juga dilengkapi dengan saluran air limbah selular. Dermaganya juga dilengkapi bahan bakar sentral diesel dan bensin. “Fasilitas kami lumayan lengkap, bisa dipergunakan sepanjang tahun,” kata Rueber.

Negeri kecil yang luasnya kalah dengan Pulau Samosir di Sumatera Utara, Rueber punya jawabannya. Alasan pertama, letaknya tak jauh dari Kepri. Dengan kapal bertipe power boat yang terhubung dengan engine, dari Singapura ke Tanjungpinang hanya butuh sekitar satu setengah jam. Sedangkan kapal yachts jenis sailing boat, Singapura-Tanjungpinang bisa ditempuh sekitar delapan jam. “Tak perlu berhari-hari, tak perlu berbulan-bulan, dalam hitungan jam, sudah bisa sampai ke Kepri,” ungkap Rueber.

Kedua, Negeri Singa Putih adalah surganya yachter. Ada enam marina di bawah naungan SPBA yang siap menampung 4.000 yachts setiap harinya. Potensi income yang bisa diambil sangat besar. Dengan tariff rata-rata 1.500 SIN Dolar per hari, Singapura tetap penuh disesaki ribuan yachts dari berbagai penjuru dunia. “Itu baru tarif parkirnya. Belum termasuk biaya perawatan dan ongkos kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau dibelokkan ke Kepri kan bagus. Akan ada banyak lapangan kerja tercipta dari sini,” katanya.

Tentu, Kepri butuh ‘gula-gula’ untuk mengundang yachters Singapura. Selain entry dan exit point serta event berkelas, sajian alam yang mumpuni juga harus diperlihatkan. Kebetulan, Kepri sudah punya modal dasar yang sangat oke. Ada 2.408 pulau besar dan kecil yang bisa disinggahi yachters Singapura di Kepri. Belum lagi panorama alam bawah laut yang mempesona.

Dari mulai Anambas, Pulau Abang, Pulau Petong, Pulau Hantu hingga Pulau Labun, semuanya menyimpan keindahan bawah laut yang fantastis. Diving dan snorkeling? Jangan takut kehabisan. Spot divingnya banyak. Tempatnya luas. Di Kepri, yachters asal Singapura dijamin bisa bebas leluasa mengeksplorasi makhluk laut berwarna-warni dan terumbu karang langka. “Itu semua kami sampaikan kepada SPBA. Ternyata mereka tertarik,” kata dia seperti diunduh laman Republika.co.id, Kamis (06/10/2016).

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti mengaku senang dengan respons SPBA tadi. Dan untuk mendukung ini, Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Indonesia, menurutnya sudah melakukan promosikan terkait kemudahan aturan masuk kapal yacht asing ke perairan Indonesia. Urusan visa sekarang tak lagi ribet. Ada social culture visa yang bisa dipergunakan para yachter. Masa berlakunya 60 hari dan bisa diperpanjang 4 x 30 hari. Dengan begitu, para yachter bisa berpetualang selama enam bulan di Indonesia.

Izin masuk yacht kini tak lagi sulit. CAIT, untuk izin masuk yacht ke perairan Indonesia bisa diurus dalam 3 jam. Tinggal klik http://yachters-indonesia.id dan mengisi form yang tersedia, para yachter sudah bisa masuk ke Indonesia. Sekarang malah sudah ada Peraturan Presiden 105/2015 yang memayungi pengurusan dokumen CIQP (custom, immigration, quarantine, port) di 18 pelabuhan. Yacht dijamin bisa tetap stay di Indonesia selama tiga tahun.

Ke-18 pelabuhan yang dimaksud adalah Sabang (Aceh), Belawan (Medan), Teluk Bayur (Padang), Nongsa Point Marina (Batam), Banda Bintan Telani (Bintan), Tanjung Pandan (Belitung), Sunda Kelapa dan Ancol (Jakarta), Tanjung Beno (Bali), Tenau (Kupang), serta Kumai (Kotawaringin Barat). Selain itu, Tarakan, Nunukan (Bulungan), Bitung, Ambon, Saumlaki (Maluku Barat), Tual (Maluku Tenggara), Sorong, dan Biak.

“Dua dari 18 pintu keluar masuk kapal dan perahu pesiar itu, berada di Kepri yakni Batam dan Bintan. Kepri juga punya zero equtor di Lingga yang jadi incaran yachter serta playground yang eksotik di Natuna dan Anambas. Kalau di Australia para yachter dihantui ancaman badai dan arus laut yang kencang, Kepri punya ribuan pulau, terumbu karang dan hutan mangrove dan pulau-pulau kecil nan eksotis. Silahkan datang dan buktikan sendiri di Festival Bahari Kepri dan Sail Karimata 2016,” ungkap Guntur. (*/REO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.