Saatnya melakukan aktivitas MICE di desa –desa wisata tanah air

0
1225
Oneng Setya Harini, Direktur Pemberdayaan Kementrian Pariwisata

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Sudah saatnya pemerintah maupun berbagai organisasi di masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan Meeting, Incentive, Conference & Exhibition (MICE) di desa-desa yang sudah menjadi tujuan wisaa, kata Oneng Setya Harini, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata, hari ini.

“Desa-desa wisata di Yogyakarta dan Bali, misalnya. Sudah siap menjadi tuan rumah kegiatan konferensi, rapat-rapat kerja, pameran dan lainnya (MICE) sehingga kalangan pemerintah maupun perusahaan swasta jangan terpaku penyelenggaraannya pada hotel-hotel berbintang,” ujarnya.

Desa Pentingsari, Yogyakarta, misalnya, sekarang sudah ramai dikunjungi untuk kegiatan MICE, outbound anak sekolah maupun perusahaan dan kegiatan tour lainnya sehingga pihak pengelola, Doto Yogantoro yang juga Ketua Jaringan Desa Wisata Indonesia mengatakan pihaknya kini bahkan harus membuat reservasi karena meningkatnya jumlah pengguna jasa sehingga harus booking tempat dulu.

Skala kegiatan MICE di desa, kata Oneng, memang belum bisa menampung ratusan orang, tapi kegiatan insentif, tim building dan rapat-rapat kerja serta pameran UKM lainnya sudah bisa dilaksanakan di desa wisata dengan kapasitas 10-150 orang.

Memindahkan kegiatan di desa langsung menggerakkan perekonomian setempat karena masyarakat desa terbiasa untuk bergotong royong dan menjadi tuan rumah yang baik. “Desa-desa wisata di Yogyakarta seperti Desa Kalibiru, Desa Panglipuran, Desa Jasri di Bali dan banyak desa wisata lainnya seperti Dieng Kulon di Jawa Tengah, Gubuk Klakah di Jawa Timur hingga desa wisata di Toraja siap menerima tamu-tamu MICE,” ungkap Oneng.

Masyarakat melalui berbagai organisasi kini mudah mendapatkan informasi mengenai desa-desa wisata melalui internet, tinggal membuat perancanaan dan mewujudkan kegiatan MICE yang disesuaikan dengan alam pedesaan.
Setiap kegiatan yang dapat dilakukan dibalai desa dan akomodasinya menggunakan homestay (rumah penduduk) akan memberikan pengalaman menarik dan keterikatan batin yang kuat diantara para peserta maupun penduduk desa.

Sementara masyarakat desa tentunya akan mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan MICE yang membuat keluarga mereka hidup sejahtera dari jasa-jasa yang ditawarkan. Di Bali, misalnya, wisatawan asing yang memilih berwisata di di desa wisata Budakeling, Bali Utara, banyak membantu pembangunan desa terutama melalui pendidikan dengan menjadi orangtua asuh, maupun memberikan bantuan personal kepada homestay tempat mereka tinggal (live in) selama di desa.

“Seharusnya perusahaan-perusahaan yang memiliki kepedulian untuk membangun desa juga dapat menyalurkan dana kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menyumbang sprei, misalnya, bagi homestay sehingga wisatawan nyaman dengan fasilitas yang ada. Bisa juga ikut membangun fasilitas umum berkaitan dengan unsure keindahan dan kenyamanan,” ungkap Oneng Setya Harini.

Untuk itulah pihaknya terus mendorong perkembangan desa wisata dengan memberikan penyuluhan melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Dengan ini, diharapkan wisatawan, baik mancanegara maupun lokal, akan semakin betah dan makin banyak berkunjung ke desa-desa wisata terutama di destinasi-destinasi wisata di Tanah Air.

Oneng mengatakan konsep pengembangan desa wisata digerakkan oleh masyarakat lokal dan biasanya tidak disentuh oleh pemodal besar. Dengan begitu, perputaran uang yang terjadi di dalamnya bisa dinikmati langsung oleh masyarakat lokal.

Destinasi yang dikemas dalam desa wisata menjadi menarik lantaran berbagai faktor yang selama ini tidak didapatkan pada daya tarik wisata lain. Umumnya kearifan lokal dan budaya setempat menjadi daya tarik utama mengapa wisatawan tertarik mengunjungi desa wisata.

Saat ini pihaknya serius mengembangkan 561 desa wisata yang tersebar di 19 provinsi di Indonesia selama 2014 ini. Desa-desa itu pada kabinet pemerintahan yang lalu didanai melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata dengan rata-rata satu desa wisata mendapatkan bantuan Rp 75 juta rupiah hingga Rp 100 juta rupiah.

Pihaknya akan terus melakukan peningkatan kapasitas pariwisata masyarakat dan pelatihan-pelatihan pendukung meskipun program PNPM Mandiri Pariwisata belum mendapatkan kepastian kelanjutannya di program Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Dia  mencontohkan, pelatihan yang digelar bagi masyarakat di wilayah desa wisata di antaranya pelatihan bahasa asing, kesenian, kuliner, dan pendalaman seni dan budaya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.