Rupiah Melemah, Maskapai Tertekan

0
754

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Asosiasi penerbangan sipil nasional (INACA) mengaku kian tertekan, dengan kondisi penguatan nilai dolar AS yang tembus Rp 13.000 per dolar AS. Ini menyebabkan kenaikan biaya operasional maskapai mencapai 7 persen.

“Kondisi pelemahan rupiah sudah tembus Rp 13.200 per dolar AS. Kenaikan biaya operasional maskapai diperkirakan mencapai 7 persen. Pasalnya, takaran normal terkait biaya operasional operator penerbangan berada di sekitar Rp 12.000 per dolar AS,” kata Ketua Penerbangan Berjadwal INACA, Bayu Sutanto.

Ia memaparkan, menguatnya nilai dolar AS terhadap rupiah yang sudah mencapai sekitar Rp 13.200 per dolar AS, artinya ada depresiasi rupiah terhadap dolar AS sekitar 10 persen dari angka Rp 12.000 per dolar AS. Dengan kontribusi dolar AS sekitar 70 persen dalam keseluruhan biaya operasional maskapai, berarti operator penerbangan menanggung beban ongkos operasi lebih besar 7 persen dari biasanya.

Beban pengeluaran pelaku usaha penerbangan diketahui semakin besar. Ini karena sebagian besar pengeluaran berbentuk dolar AS, seperti biaya perawatan dan pembelian suku cadang, sedangkan sebagian besar pendapatan masih dalam bentuk rupiah?.

Ia menilai regulasi pemerintah terkait pembatasan tarif tiket pesawat yang dipagari batas atas dan bawah tidaklah komprehensif, walaupun sudah didasarkan pada hitungan US$ 1 sama dengan Rp 13.000. “Hitung-hitungannya kurang komprehensif dibanding biaya sebenarnya yang jadi beban maskapai,” ujar Bayu seperti dilansir laman Sinarharapan.co, Selasa (24/3/2015)

Ketua INACA, Arif Wibowo pun sejak lama agar mengharapkan pemerintah menghapus saja ketentuan tarif batas atas untuk tiket pesawat kelas ekonomi. Ia menilai, penetapan harga yang dikenakan kepada penumpang diserahkan saja kepada mekanisme pasar.

Kendati demikian, ia menyadari kebijakan penetapan tarif batas atas pesawat udara kelas ekonomi tidak mungkin serta-merta direvisi, lantaran sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1/2009 tentang Penerbangan. “Ya, intinya kami ikuti saja pemerintah. Tetapi, kalau memang Rp 13.000 terlampaui, harusnya kami mendapatkan hak untuk dinaikkan tarif batas atasnya,” tutur Arif.

INACA pun merespons positif tindakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk memantau pergerakan rupiah terhadap dolar AS. “Pantauan Kemenhub itu bagus untuk kami, karena batas atas itu menjadi satu regulasi, terutama terkait kondisi-kondisi eksternal, terutama adalah kurs. Jadi, dulu dari Rp 10.000 dikoreksi, Rp 13.000 dikoreksi. Kami pikir itu respons yang bagus dari pemerintah,” ujar Arif.

Ia mengatakan, selama belum ada kebijakan lebih lanjut dari regulator, maskapai pasti akan melakukan berbagai tindakan antisipatif guna meredam dampak negatif depresiasi rupiah. Garuda telah melakukan kebijakan antisipatif, seperti lindung nilai mata uang dan BBM senilai 25 persen.

“Yang penting, kami harus tahu persis menangani krisis. Kami ibarat pesawat terbang, ada turbulensi. Kami memiliki sejumlah indikator yang bisa dilakukan,” ucap Arif.

Belum Revisi

Kepala Bagian Hukum dan Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Hemi Pamuraharjo menyatakan, regulator penerbangan belum akan merevisi tarif batas atas pesawat udara kelas ekonomi saat ini, kecuali nilai tukar mata uang rupiah tetap bertahan di level Rp 13.000 per dolar AS, selama tiga bulan berturut-turut.

Dalam penentuan tarif sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memang diasumsikan Rp 12.000. Bila terjadi perubahan, ia menyatakan akan dilakukan revisi. “Tapi, kita tunggu saja dalam tiga bulan ini. Kalau stabil di kisaran saat ini,maka kami baru akan merevisi,” katanya.

Hemi mengatakan, saat ini maskapai juga masih menerapkan tarif di bawah batas atas. “Kenapa mereka tidak mengoreksi tarif yang ada, dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku, memaksimalkan batas atas misalnya,” ujar Hemi.

Ia berpandangan, pemerintah juga tidak ingin terburu-buru menaikkan tarif batas atas pesawat kelas ekonomi. Ini karena langkah tersebut justru dapat menurunkan daya beli masyarakat. “Atau kalau sudah dinaikkan ternyata nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Jadi, kami tunggu sampai tiga bulan ke depan saja,” tuturnya.

Kasubdit Bimbingan Usaha dan Pengembangan Badan Usaha Angkutan Udara (BUAU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Musdalifa Muslimin menyatakan, biaya operasional maskapai penerbangan nasional belum mengalami peningkatan signifikan.

Ini karena maskapai masih terbantu harga bahan bakar minyak (BBM), yakni avtur, berada di kisaran Rp 10.000 per liter. Dasar penetapan tarif atas tiket pesawat dibasiskan pada harga avtur Rp 12.000 per liter.

“Sekarang fuel sekitar Rp 9.000-10.000 per liter. Jadi, masih normal (biaya operasional-red) masih tinggi malah (selisihnya-red),” kata Musdalifa.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Muhammad Alwi sebelummnya menjelaskan, kajian mengenai hal tersebut dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemenhub. Beberapa hal yang dikaji tentunya menyangkut sejumlah komponen biaya yang menggunakan dolar AS, seperti pembelian avtur.

“Pemerintah menjaga serta membina kelanggengan tranportasi udara. Ini dilakukan melalui kajian yang mendalam antarmodanya,” ujarnya.****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here