Rumah Adat Kaki Seribu Dikembangkan Jadi Destinasi Desa Wisata

0
1630
Rumah adat kaki seribu jadi destinasi desa wisata

PAPAU BARAT, test.test.bisniswisata.co.id: RUMAH adat khas suku Arfak, Papua Barat bernama Mod Aki Aksa atau Igkojei yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Kaki Seribu, kini dikembangkan menjadi destinasi desa wisata untuk rumah singgah bagi wisatawan yang berwisata di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.

“Rumah adat masyarakat Suku Arfak ini memiliki nilai budaya tinggi. Untuk itu, agar keberadaan rumah adat ini tidak punah, rumah kaki seribu harus dikembangkan dalam konsep penginapan di wilayah itu. Kami tidak ingin rumah adat ini hanya dikembangkan dalam bentuk miniatur atau souvenir,” jelas Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Papua Barat, Hermus Indou di Manokwari, Kamis kemarin.

Selain didorong sebagai rumah adat warisan dunia, ia juga dapat dikembangkan dalam bentuk rumah-rumah penginapan dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pemilik sekaligus pengelola penginapan tersebut. “Alangkah mempesonanya jika ini diwujudkan. Jadi saat ini naik ke sana, kita bisa melihat rumah adat berjejer rapi dan dikelola oleh masyarakat lokal,” ucapnya.

Menyusul upaya pemerintah yang akan mengembangkan potensi pariwisata di daerah itu, menurut Hermus, program pembangunan di wilayah itu dilakukan dengan konsep ramah lingkungan. “70 hingga 80 persen wilayah ini merupakan kawasan cagar alam, dan rumah adat ini sudah terbukti tahan gempa. Saya rasa, sangat cocok,” ujarnya lagi.

Selain untuk mendukung pengembangan pariwisata, hal ini dilakukan untuk mempertahankan keberadaan rumah adat Suku Arfak, serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Bahkan, pemberdayaan harus mulai dilakukan bagi masyarakat lokal di wilayah itu. “Sebagian besar masyarakat Pegaf berprofesi sebagai petani, lahan di atas pun sangat subur, sehingga cocok untuk pengembangan agrowisata,” katanya.

Hermus berharap, pemerintah menyiapkan pemandu wisata profesional dari kalangan anak-anak Pegunungan Arfak, sebab saat ini jumlah pemandu wisata yang menguasai bahasa inggris baru sedikit.

Kebaradaan Rumah Seribu Kaki ini memang sangat unik dan menarik. Biasanya, rumah panggung mempunyai tiang pondasi yang hanya terdapat di bagian sisi pinggir rumah. Namun, berbeda dengan jenis rumah panggung lainnya, rumah ini memiliki tiang pondasi rumah yang tersebar di seluruh bagian bawah rumah dan menjadi tumpuan utama bangunan. Karena keunikannya inilah, maka rumah adat ini mendapat sebutan Rumah Kaki Seribu.

Rumah Kaki Seribu mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan rumah panggung pada umumnya. Atap rumah ini terbuat dari rumput ilalang dan lantainya dari anyaman rotan. Dindingnya cukup kuat karena terbuat dari kayu yang disusun horizontal-vertikal dan saling mengikat. Dengan tinggi rata-rata sekitar 4-5 meter dan luas kurang lebih 8×6 meter, rumah ini cukup besar dan nyaman untuk menjadi tempat tinggal.

Tiang-tiang yang sangat banyak itu, mempunyai diameter 10 centimenter per tiangnya dan disusun dengan jarak kurang lebih 30 centimeter antar tiang. Kerapatan inilah yang menjadikan rumah ini unik dan terlihat berkaki banyak.

Keunikan yang tidak kalah menariknya adalah, desain rumah yang hanya mempunyai 2 pintu tanpa ada pintu lain, bahkan jendela pun tidak ada. Seperti halnya desain tiang penyangga rumah yang banyak, keunikan ini pun dibuat bukannya tanpa maksud. Tingginya rumah, banyaknya tiang pondasi, dan desain yang relatif tertutup ternyata dimaksudkan untuk menghindarkan keluarga yang tinggal dari hewan buas dan udara dingin serta bencana alam seperti badai.

Terlebih dari itu, kondisi masyarakat yang sering bertikai pun menjadi alasan bentuk Rumah Kaki Seribu yang tampak tidak lazim ini. Maksudnya adalah agar mereka yang tinggal di rumah ini tetap aman dari ancaman musuh dengan pengawasan yang mudah karena rumah berada di tempat tinggi dan hanya memiliki 2 pintu sebagai akses masuk dan keluar.

Seiring berkembangnya modernisasi dan para transmigran dari propinsi lain yang banyak berdatangan ke Papua Barat, Rumah Kaki Seribu sudah sangat jarang ditemui di kota besar. Masyarakat yang masih menggunakan rumah unik ini adalah penduduk asli Arfak dan biasanya berada jauh di pedalaman, terutama di bagian tengah sekitar Pegunungan Arfak. Memang sulit menghindar dari modernisasi, namun tradisi Rumah Kaki Seribu layak dan harus dilestarikan. Hal ini penting karena tardisi ini memiliki nilai-nilai positif kehidupan yang baik untuk dipelajari oleh generasi masa depan kelak. (*/ndy)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.