Rizal Ramli: Batalkan Pembelian Pesawat Garuda

0
726
Menteri Koordinator Bidang Maritim Rizal Ramli (foto: Okezone.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Koordinator Bidang Maritim Rizal Ramli mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar mencegah rencana maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk membeli pesawat baru, Airbus tipe 350 sebanyak 30 pesawat. Pasalnya, Garuda harus meminjam sebesar USD44,5 miliar dari China Aviation Bank, demi merealisasikan hal tersebut.

“Minggu lalu saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, mas saya minta tolong layanan tolong diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi. Karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat airbus A350, sebanyak 30 unit. Itu hanya cocok Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa,” ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (13/8/2015).

Menurut mantan Menteri Perekonomian Era Presiden Gus Dur, selama ini rute internasional yang diterbangi Garuda Indonesia tidak pernah menguntungkan. Pasalnya saat ini, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa yaitu Singapore Airlines kinerja keuangannya kurang baik.

Pengalaman Garuda selama ini untuk rute Jakarta-Amsterdam serta Jakarta-London hanya mencapai 30 persen. Kondisi itulah yang membuat Maskapai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu merugi terus-menerus. “Saya katakan kepada Presiden, dulu jagonya airline adalah Singapore Airline. Saat ini mereka babak-belur oleh Emirates dan Etihad, karena kantongnya tebal. Yang satu satu kantong untuk subsidi avtur, kedua untuk banting harga,” jelas dia.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Rizal Ramli meminta kepada Presiden untuk melakukan pembatalan terhadap rencana pembelian pesawat tersebut. Menurutnya, pembelian pesawat tersebut dapat diganti dengan pesawat yang lebih rendah kelasnya sejenis A320.

“Kita kuasai, dulu pasar domestik dan Asia kita kuasasi dulu pasar regional lima sampai tujuh tahun. Kalau sudah kuat baru kita hantam, Presiden setuju dan kita akan panggil direksi dan batalkan supaya ganti rencana,” tandasnya.

Rizal mengaku memiliki hubungan emosional dengan Garuda Indoneisa. Pasalnya, saat dia menjabat sebagai Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid, Garuda saat itu tak mampu membayar utang kepada konsorsium bank Eropa sebesar 1,8 miliar dollar AS. “Saat itu, pihak Eropa mengancam menyita semua pesawat Garuda. Akhirnya saya mengirim surat grasi ke Frankfurt Jerman untuk balik menuntut konsorsium bank Eropa itu karena menerima bunga dari kredit dengan ekstra 50 persen,” paparnya.

Setelah dituntut balik, akhirnya para bankir meminta damai dan sepakat merestrukturisasi utang Garuda. Karena pengalaman itulah maka Rizal tak mau Garuda membeli perawat Airbus 350 untuk penebangan ke Amerika dan Eropa. Apalagi, kata dia, dana pembelian itu juga meminjam dari China Aviation Bank.

Pelaksana Tugas Vice President Coorporate Communication Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan Garuda sebenarnya belum memutuskan akan membeli Airbus 350 atau tidak. Saat ini Garuda masih pikir-pikir apakah akan memakai Airbus 350 atau Boeing 787. Meski begitu, perusahaan sebenarnya masih pada tahap penjajakan. “Memang kemarin di Paris ada tanda tangan tapi namanya masih letter of intention,” sambungnya.

PT Garuda Indonesia Tbk memesan pesawat untuk memperkuat armadanya. Tidak tanggung-tanggung, maskapai pelat merah ini total memesan 90 pesawat. Adapun nilai pesanannya mencapai 20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 266 triliun (kurs Rp 13.300 per dollar AS). Angka ini merupakan rekor pembelian pesawat terbesar oleh Garuda. Rinciannya, 60 unit pesawat baru dari Boeing senilai 10,9 miliar dollar AS terdiri 30 unit B787-900 Dreamliners (7,7 miliar dollar AS) dan B373 MAX 8 (3,2 miliar dollar AS). Kemudian 30 unit pesawat baru A350 XWB dari Airbus senilai 9 miliar dollar AS.

Direktur PT Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, pembelian pesawat dengan transaksi jumbo ini untuk mengganti pesawat lama. “Ini merupakan bagian dari program revitalisasi Garuda Indonesia untuk mendukung rencana masa depan perusahaan penerbangan untuk memperluas jaringan global,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/6/2015)

Di sisi lain, pesawat baru diharapkan bisa menghemat bahan bakar, sekaligus mengangkut banyak penumpang, serta bisa menekan ongkos perawatan. Dalam kalkulasi Garuda pesawat baru Boeing bisa menghemat 20 persen biaya operasional, sedang Airbus 25 persen.

Menurut Ariif, pengembangan ini merupakan bagian dari revitalisasi dan pengembangan armada yang dilakukan perseroan untuk meningkatkan kapasitas pada rute-rute jarak menengah dan jarak jauh. Kata Arif, pihaknya selalu berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan dengan mengoperasikan pesawat berusia rata-rata 5 tahun.

Pesawat B787-900 Dreamliners sendiri diklaim sebagai pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit dalam proses konstruksinya. Alhasil dengan itu, badan pesawat menjadi lebih ringan dan dapat menghemat 20 persen penggunaan bahan bakar karena 20 persen emisinya lebih rendah.

Pesawat B737 MAX 8 adalah pengembangan dari B737-800NG menggabungkan teknologi mesin CFM International LEAP-1B terbaru, sayap Advanced Technology. Pesawat tersebut juga memiliki keunggulan teknologi terbaru yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan biaya operasional.

Garuda Indonesia juga kembali memastikan pemesanan 50 pesawat berbadan sedang jenis serupa yang dilakukan pada Oktober 2014. Kata Arif, pemesanan tersebut akan digunakan untuk mengganti pesawat B737-800NG yang sudah berakhir masa sewanya. Rencananya pesawat pengganti itu akan tiba secara bertahap mulai 2017 hingga 2023 ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.