Ritual Bakar Tongkang Kurang Berkumandang

0
753
atraksi wisata Bakar Tongkang (Foto: antara)

BAGANSIAPIAPI, test.test.bisniswisata.co.id: Ritual bakar tongkang di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, sekitar 7 jam perjalanan darat dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau, kembali digelar. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, ritual bakar tongkang tahun 2015 ini kurang berkumandang. Artinya, tidak semeriah tahun-tahun lalu.

Salah satu penyebabnya adalah pelaksanaan ritual yang telah menjadi kalender pariwisata Riau ini bertepatan dengan bulan puasa. Suasana kurang semarak itu terlihat pascapembakaran tongkang pada Rabu (1/7) malam.

Pentas hiburan terlihat sepi penonton. Dahulu, di samping warga Riau etnis Tionghoa, etnis lain juga larut dalam pentas hiburan yang dihadiri artis Malaysia dan Taiwan itu. Pada perayaan tahun-tahun sebelumnya pembukaan ritual bakar tongkang dihadiri gubernur Riau, para pejabat unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan bahkan menteri pariwisata serta menteri kelautan dan perikanan.

Pada pentas seni di depan Kelenteng Ing Hok Ing, Bagansiapiapi, Rabu malam itu, hanya dibuka Bupati Rokan Hilir (Rohil) Suyatno. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman berhalangan hadir.

Di jajaran unsur Forkopimda Riau hanya terlihat Komandan Resor Militer (Danrem) 031/Wirabima Brigjen TNI Nurendi, anggota DPRD Riau Siswaja Muljadi, dan para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir.

“Pemkab Rokan Hilir sudah mengundang Plt Gubernur, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, serta Menteri Pariwisata Arief Yahya pada event ritual bakar tongkang di Kota Bagansiapiapi ini. Namun, karena ada tugas penting, mereka berhalangan hadir. Salah satunya diutus Deputi Kementerian Kelautan dan Perikanan,” kata Bupati Rokan Hilir, Suyatno, seperti dikutip laman Sinarharapan.co, Sabtu (04/07/2015).

Ritual bakar tongkang merupakan tradisi etnis Tionghoa berupa persembahan untuk Dewa Ki Ong Ya (Dewa Laut). Dalam kepercayaan leluhur suku Tionghoa, Dewa Laut merantau dan sampai ke Kota Bagansiapiapi menggunakan perahu atau kapal kayu yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan “tongkang”. Untuk menghormati Dewa Laut yang oleh suku Tionghoa dipercaya membawa rezeki, digelarlah “Sembahyang Tongkang”.

Biasanya tongkang tersebut terbuat dari bahan baku kertas, bambu, serta papan broti berukuran panjang 8,5 meter dan lebar 1,7 meter. Untuk membuat tongkang yang akan dibakar pada prosesi nantinya, diundanglah 130 peserta utusan atau perwakilan kelenteng dari Jakarta, Surabaya, Pekalongan, dan Bali.

Setelah jadi, tongkang dibentuk menyerupai kapal besar sebagai simbol untuk persembahan warga Tionghoa di Bagansiapiapi kepada Dewa Laut. Setelah tongkang disembahyangkan di Kelenteng Ing Hok King, miniatur-miniatur perahu Dewa Laut itu lalu diarak beramai-ramai ke Jalan Perdagangan, Kota Bagansiapiapi.

Di sebuah tanah kosong di Jalan Perdagangan Kota Bagansiapiapi, prosesi ritual bakar tongkang kembali dilanjutkkan. Puluhan ribu warga etnis Tionghoa dari beberapa provinsi di Indonesia, bahkan dari Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Tiongkok terlihat khusyuk berdoa untuk Dewa Laut, Ki Ong Ya. Tongkang yang diarak itu tadi lalu dibakar dengan menggunakan kertas sembahyang atau dikenal dalam bahasa Hokkian dengan sebuatan “kim cua”.

“Kepercayaan suku Tionghoa, jika tiang tongkangnya nanti condong ke arah darat, berarti rezeki atau peruntungan lebih banyak di darat. Sebaliknya, jika tiang tongkangnya condong ke laut, rezeki lebih banyak di laut,’’ kata Ket Tjing, Wakil Ketua Bidang Media Persaudaraan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Riau kepada SH.

Ket Tjing menambahkan, pada ritual Rabu lalu, ternyata satu tiang tongkang mengarah ke darat dan satunya lagi mengarah ke laut. “Ini artinya, rezeki itu ada di laut dan darat. Namun, ini semua tentu dapat diraih dengan bekerja keras,’’ tuturnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.