Ribuan Ogoh-ogoh Semarakan Pengerupukan Nyepi Tahun Saka 1938

0
3373

DENPASAR, test.test.bisniswisata.co.id,- TERCATAT 4.947 buah ogoh- ogoh semarakkan pengerupukan di Bali. Polda Bali mencatat jumlah ogoh-ogoh yang  diikutkan dalam pengerupukan di wilayah 8 kabupaten dan 1 kota dengan rinciannya, Denpasar 838 buah, Badung 617 buah, Tabanan 773 buah, Karangasem 383 buah, Gianyar 620 buah, Buleleng 699 buah, Klungkung 376 buah, dan Jembrana 406 buah. Meski sempat mengeluarkan larangan beberapa ogoh- ogoh untuk ikut pawai, ternyata larangan tersebut tidak mendapat perhatian serius kalangan masyarakat Bali.

Maraknya lomba ogoh-ogoh dengan tema spesifik (kisah pewayangan) tidak banyak mendapat perhatian publik khususnya generasi muda. Tema-tema lomba itu terlalu sempit, membatasi serta mendisiplinkan imajinasi. Imajinasi melawan tak bisa ‘’dikrangkeng’’ dibungkam atau pun dibatasi dengan surat peringatan, karena bagi rakyat yang gerah perlawanan harus dikumandangan di mana pun dalam setiap kesempatan apa pun.
Menurut sejumlah krama adat di Bali, juga ditegaskan Gde Putra dalam laman medsosnya, bahwa munculnya ogoh-ogoh bertemakan tolak reklamasi di beberapa tempat mencerminkan rakyat begitu gerah terhadap sikap ‘’ngotot para rakus’’, reklamator lautan di Teluk Benoa. Mereka memanfaatkan berbagai momen yang mengundang perhatian publik sebagai medan untuk menyuarakan sikap mereka.
Oleh sebab suara perlawanan di jalanan begitu menakutkan para ‘’rakus’’, mereka menciptakan kisah bahwa suara perlawanan di jalanan akan selalu beringas, atau tak sesuai dengan karakter manusia Bali yang santun. Kalau terjadi protes di jalanan, maka itu ulah provokator bukan manusia Bali karena manusia Bali itu polos titik (alias manut dan tunduk), tegas Gde Putra.
Rakyat Bali kali ini cerdik menyiasatinya. Suara perlawanan di jalanan mereka tampilkan dengan simbol-simbol, semacam baliho, layang-layang dan sekarang ogoh-ogoh. Rakyat Bali yang cerdik ini menghancurkan definisi protes jalanan produk para rakus. Mereka menampilkan perlawanan yang tak beringas justru “santun” yaitu lewat seni atau simbol. Tak ada “provokator”” sebab dalam simbol-simbol itu nampak wujud serta identitas si pembuat simbol dengan gambling, lanjutnya.
Perlawanan-perlawanan nan santun ini semakin menjamur dan menyebar. Meski santun, jangan sekali-sekali diremehkan. Energinya begitu dahsyat. Jika proyek itu akhirnya dipaksa berdiri maka bisa jadi energi maha dahsyat ini akan meledak.
“Ibaratnya orang kerauhan (kesurupan), awalnya tenang, kemudian tangannya dan kakinya gemetar setelah itu boom! Para patih bangkit mengamuk, menunjukan kekuatannya, senjata apa pun tak bisa menembus tubuhnya. Mereka begitu kuat karena loyal kepada sesuhunannya yaitu Ibu Pertiwi, ‘’ ujarnya. (dwi, bisniswisata.co@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.