“RI-PARAGUAY agar optimalkan kerjasama bilateral perdagangan dan pariwisata”

0
1433
Warga Paraguay menikmati liburan di Pantai San Jose, Encarnacion, ibukota negara itu. RI-Paraguay diharapkan optimalkan kerjasama bilateral di bidang perdagangan dan pariwisata. ( foto repro (Xinhua/Rene Gonzalez)

JAKARTA,BISNISWISATA.CO.ID: Pemerintah Paraguay dan Indonesia perlu meningkatkan hubungan ekonomi terutama dibidang perdagangan, pariwisata untuk mengoptimalkan hubungan bilateral yang telah terjalin selama 33 tahun,” ungkap Peter Tase, Jurnalis Amerika Serikat yang bermukim di Paraguay.

Melalui surat elektroniknya, Peter mengatakan pembentukan sister city bisa menjadi langkah awal dalam meningkatkan kunjungan wisatawan dari kedua negara disamping memanfaatkan hubungan dagang selama ini yang telah ada.

“Manfaatkan sumber-sumber antar kota yang memiliki karateristik  sama di Paraguay dan Indonesia. Pembentukan sister city merupakan langkah awal yang sangat baik bagi terciptanya hubungan yang manis antara kedua negara ini,” kata Peter Tase.

Dalam hal menunjang pariwisata Indonesia, Paraguay dapat memasok kebutuhan bahan baku wisata kuliner di Indonesia karena Paraguay adalah salah satu negara pemasok daging sapi yang sangat berkualitas di dunia,

Negara yang dijuluki “jantung”nya Amerika Selatan ini memiliki potensi besar untuk memasok kedelai, minyak kedelai dan gula organik ke Indonesia. Seperti diketahui tempe sebagai makanan tradisional khas Indonesia yang sangat disukai masyarakat diseluruh negri.

Indonesia membutuhkan pasokan kedelai dalam jumlah yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar setiap harinya. Apalagi tempe yang telah mendunia ini dapat diolah menjadi beragam menu masakan berstandar internasional pula sehingga dapat dinikmati wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Indonesia sebagai kuliner khas.

“Baru dari sisi perdagangan kedelai sebagai bahan baku tempe saja hubungan Paraguay dan Indonesia sudah bisa saling menguntungkan. Sayangnya kedua negara belum melihat potensi ini sehingga Indonesia tidak bisa mengimpor langsung kedelai Paraguay ke Indonesia. Padahal kalau ada kerjasama bilateral, RI bisa beli kedelai dengan harga yang sangat kompetitif, tanpa harus melalui perantara negara lain,” kata Peter Tase.

Jakarta, tambahnya,  merupakan satu dari lima belas kota terpenting dalam hubungan perdagangan dengan Paraguay. Indonesia telah mengimpor barang dari negara itu lebih dari US$ 19,5 juta pada tahun 2012, dan nilai impornya meningkat secara signifikan pada tahun 2013 hingga mencapai lebih dari US$ 121,8 juta yang tentunya memberikan keuntungan bagi Paraguay.

Meski luasnya hanya sepertiga luas Indonesia, Paraguay adalah produsen kedelai terbesar ke-4 di dunia. Paraguay telah menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dan muncul sebagai produsen daging sapi terbesar ketujuh di dunia saat ini dan berharap menjadi produsen terbesar kelima pada tahun 2018.

Pada tanggal 29 November 2014 lalu, Paraguay merayakan peringatan 33 tahun hubungan bilateral dengan Republik Indonesia, negara dengan populasi terbesar nomor empat di dunia dengan jumlah penduduk hampir 250 juta jiwa.

“Pemerintah Paraguay seharusnya mengoptimalkan peluang bisnis diantara kedua negara dalam kerangka perjanjian perdagangan bebas dengan Indonesia maupun dengan negara-negara ASEAN  karena saat ini ASEAN merupakan kelompok perdagangan terbesar di dunia bersama Jepang, China dan Rusia,” ungkapnya.

Menteri Perdagangan dan Industri Paraguay, Gustavo Leite serta jajarannya bersama Jaringan Investasi dan Ekspor Paraguay (REDIEX) diharapkan mampu mengoptimalkan besarnya peluang bisnis dari hubungan bilateral kedua negara.

Menurut Peter Tase, sebagai bagian dari negara-negara anggota G 11 yang fokus mengentaskan kemiskinan, Indonesia bersama Paraguay menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia pada tahun 1995. Oleh karena itu kesamaan visi dan misi untuk kesejahteraan masyarakat itu  harus segera ditingkatkan di bidang perdagangan, politik dan ekonomi.

Terjepit terjepit diantara Brasil dan Argentina dengan luas 406.750 km2, Paraguay yang merupakan penyedia gula organik terbesar ke Amerika Serikat pada tahun 2011 juga membutuhkan bantuan tekhnis dari Indonesia dalam hal perminyakan.

Indonesia yang sudah melangkah jauh di bidang minyak dan gas alam serta pariwisata dapat memberikan bantuan teknologi kepada Paraguay yang baru saja menemukan ladang minyak dan gas alam di wilayah Chaco.

Sebagai sektor yang strategis, penemuan ladang minyak dan gas alam ini membutuhkan bantuan agar Paraguay dapat memanfaatkan sumber minyak dan gas alam ini sesuai dengan prinsip-prinsip keberlangsungan serta ramah lingkungan di Indonesia.

Industri pengeboran minyak dan gas alam Indonesia memainkan peranan penting dalam ekomoni nasional dan dengan pengalaman yang kaya dalam bidang ini, akan menjadi asset besar bagi pemerintah Paraguay, yang pada tahap awal akan mengeksplorasi minyak dan gas alam.

“Di sisi lain, Paraguay sebagai negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di Amerika Selatan, dapat mengirimkan ratusan bahkan ribuan turis untuk melihat keindahan alam Indonesia. Generasi muda Paraguay bisa belajar berbagai seni dari keanekaragaman budaya di berbagai Universitas yang ada di Indonesia demikian pula sebaliknya. Kalau terlaksana bukankah ini kerjasama yang saling menguntungkan,” kata Peter Tase mengakhiri emailnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.