Restoran Salero Minang Den Haag Pertahankan Otentisitas Masakan Dan Kelezatan Menu Halal

0
1553

Wisatawan Indonesia usai menikmati hidangan Salero Minang gemar berfoto di depan restoran ( foto : Erita Lubeek)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Tulisan ungkapan rasa syukur di akun Facebook Uni Erita, nama pemilik restoran Salero Minang di Den Haag mengingatkan kebersamaan saya dengan wanita cantik ini di dapur KBRI di Rabat, Maroko.

“Bapak, Ibu, kakanda, adinda dan teman- teman semua terima kasih banyak ya untuk ucapan selamat ulang tahunnya kemarin.Semoga menjadi umur yang berkah. Pada 1 September 2011 berdirinya Salero minang sebagai rumah Makan Padang di Den Haag. Jadi sekarang sudah berusia 5 tahun restorannya,” tulis Erita.

Rupanya yang berusia lima tahun adalah restoran Salero Minang, restoran yang menyajikan rasa otentik masakan Padang, Sumatra Barat yang menjadi satu-satunya restoran Padang di Den Haag. Tepatnya di Prins Hendrikstraat, jalan dimana sang Salero Minang berlokasi.

Kenangan yang saya sebut diatas ketika kami sedang menjadi relawan untuk pelatihan ESQ 165 di Kedubes RI di Rabat, bulan April 2015 lalu. Erita yang hobi memasak sudah berada di dapur usai shalat subuh. Pandangan matanya menyapu ruangan dan langsung membuka kulkas tempat rombongan kami menyimpan stok makanan.

Dalam sekejab Erita sudah menyelesaikan menu sarapan pagi bagi kami semua. Ibu satu anak bernama Ridho Lubeek ini tak pernah melepaskan senyum manis dari wajahnya. Melihat ringannya langkah dia ke dapur dan cekatannya membuat sarapan dengan singkat itulah yang membuat saya takjub. Pantas makanannya enak karena dibuat dengan senyum dan kecintaannya pada masakan Indonesia.

Tak heran jika restoran Padang Salero Minang yang dimilikinya ini tergolong laris manis dan sudah di kenal masyarakat luas baik warga Indonesia di kawasan Benelux (Belanda, Belgia, dan Luksemburg) maupun warga asing dari negara-negara di kawasan Eropa Barat itu.

“Saya harus unggul mempertahankan khas masakan Padang otentik termasuk harus halal dan toyibban, walaupun hadir di negara dan lingkungan yang sebagai besar pelanggannya adalah non Muslim,” ungkap Erita, hari ini melalui telpon.

Meski hari masih subuh waktu Den Haag, wanita cantik yang selalu mengenakan baju Muslim dan hijabnya di negara minoritas Islam ini tetap melayani telpon dengan semangat dan menambahkan bahwa motivasinya membuka restoran Padang di Belanda selain sebagai wujud kebanggaan dan rasa cinta leluhur juga menjadi syiar untuk mengakomodasi kebutuhan masakan halal.

Bersuamikan Marko Lubeek yang mendukung penuh usahanya ini. Selama lima tahun eksistensinya, terbukti Salero Minang kini bahkan menjadi pilihan berbagai rombongan tour dari Indonesia, Malaysia dan negara lainnya yang membutuhkan masakan halal.

Dia mampu bersaing dengan restoran Indonesia yang berada di negri kincir air ini. Dalam direktori yang disusun KBRI di Den Haag, di seluruh Belanda terdapat sekitar 2.000 tempat makan Indonesia, mulai dari restoran mewah, hingga warung sederhana.

Berkapasitas 35 orang di bagian dalam dan sisanya di luar ruangan, restoran ini bisa menampung 100 orang sekaligus di tengah udara yang cerah. Erita mengatakan cukup banyak komunitas Indonesia di Negeri Belanda dan negara-negara jiran di sekitarnya yang datang. Begitu pula warga/keluarga Belanda dan warga non muslim, yang merindukan kuliner Indonesia.

Erita Lubeek, pemilik Restoran Salero Minang, Den Haag
Erita Lubeek, pemilik Restoran Salero Minang, Den Haag

Sebagai ‘nyomya rumah’ yang baik Erita yang akrab disapa Uni Rita ini memang menciptakan pelayanan dan suasana yang membuat pelanggan bukan hanya merindukan hidangannya. Bukan datang hanya untuk makan/minum, melainkan juga menjadikan restorannya tempat bersilaturahmi.

Hasilnya resto ini juga sudah menjadi semacam tempat ngumpul bagi mereka yang membutuhkan tali persaudaraan dan pertemanan yang erat juga masakan yang halalan dan toyibban tentunya. Sebagai seorang muslimah dia percaya Allah sudah mengatur rejekinya sehingga mendorong umat untuk bersilaturahim menjadi motivasinya yang kuat.

Alumni pelatihan spiritual ESQ 165 pimpinan Ary Ginanjar Agustian yang aktif di Forum Komunikasi Alumni ( FKA) ESQ korwil Eropa ini mengatakan bahwa menyediakan masakan Padang dengan racikan bumbu asli Padang adalah keharusan.

“Sebagai orang Minang, saya berusaha mempertahankan keaslian bumbu dan cita rasa masakan Padang. Sehingga, setiap orang Indonesia yang berkunjung ke Belanda dan menikmati masakan di restoran kami, dapat merasakan cita rasa yang sesuai harapan atau ekspektasi mereka,” ungkap Erita yang bersuamikan seorang Muslim Belanda

Menurut Erita, meski jauh di negri orang namun pasokan bahan baku mulai dari sayuran segar hingga bumbu-bumbu mudah di dapat karena banyak suplier dari Indonesia, Thailand maupun dari Belanda sendiri yang memasok kebutuhan restorannya.

“Saya punya suplier warga keturunan Cina dari Surabaya yang bisa memasok kebutuhan kami sehingga rasa otentik bisa dipertahankan. Namun selama buka usaha resto ini saya takjub dengan pemerintah Thailand yang mampu mengeskpor hasil buminya ke mancanegara tanpa aturan jelimet dan harga tetap terjangkau,” jelasnya.

Aneka hidangan di Salero Minang ( foto: Erita)
Aneka hidangan di Salero Minang ( foto: Erita)

Dia memilih dengan teliti mulai dari bahan mentah, rempah yang diolah, sampai memilih daging dan sayur. Tak heran berbagai masakan tersaji seperti gulai tunjang (kikil), gulai otak, rendang, dendeng balado, ayam pop, gulai kepala ikan, udang balado petai, telur balado, gulai daun singkong, jengkol balado cabai hijau, ayam singgang bakar, dan sambal lado hijau rawit yang sangat pedas.

Dia juga menyediakan masakan nusantara lainnya seperti tumis tempe, mie goreng, tumis sayuran ala-ala warteg, bistik dagimg bahkan bakso yang banyak digemari masyarakat Indonesia.

Keunggulan lain yang dilakukannya adalah mempertahankan makanan yang sehat dan minuman yang bisa mengatasi berbagai penyakit pula sehingga tamu bisa bersantap dengan rasa aman dan nyaman serta mendapatkan masakan olahan baru.

Erita menegaskan semua masakannya anti bahan penyedap seperti vetsin karena leluhur mengajarkan masakan sehat dan menyedapkan juga dari rempah asli Indonesia dan sesuai ajaran agama. “ Kita harus terus mempertahankan ajaran Islam dalam bisnis makanan/minuman ini dengan masakan halal dan sehat walau mayoritas pelanggan adalah non muslim,” tegasnya.

Restoran ini dibuka enam hari dalam seminggu sedangkan Senin tutup sesuai ketentuan yang berlaku di daerah itu. Erita juga aktif mempromosikan menu di media sosial seperti Facebook, WhatsApp, instagram dengan harga terjangkau sesuai dengan tingkat kehidupan di negri Belanda.

Nah rindu masakan Padang ? Bergegaslah karena Erita selalu setia melayani langsung pelanggannya. (Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.