Restoran Joglo Patheya Sajikan Menu Warisan Budaya Indonesia

0
1109

Jakarta, Bisniswisata.co.id: Indonesia memiliki tradisi kuliner daerah yang kaya ragam dan unik di dunia ini. Tradisi luhur tersebut tersebar di 34 provinsi di Indonesia dengan berbagai jenis makanan dan minuman.

Tidak ada negara lain di dunia yang mempunyai kekayaan kuliner seperti Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud hingga Pulau Rote, kuliner Indonesia tak terhitung jumlahnya.

Sebagai bentuk kontribusi dalam melestarikan warisan budaya Indonesia Restoran Patheya memperkenalkan konsep baru di bidang kuliner dengan meluncurkan Joglo Patheya-Legendary Javanese Cuisine (J-Path).

Pemukulan gong pada peluncuran Joglo Patheya -Legendary Javanese Cuisines di Jakarta, Rabu (8/4/15). Foto. evi
Pemukulan gong pada peluncuran Joglo Patheya -Legendary Javanese Cuisines di Jakarta, Rabu (8/4/15). Foto. evi

“Masakan Jawa, kini banyak diminati di restoran, bahkan dikemas dan disajikan ala rumahan. Untuk saat ini kenapa kita memilih masakan Nusantara dari Jawa? Karena sekarang ini kuliner lagi dekat dan dikenal dari Jawa Tengah,” ujar pemilik J-Path, Rahayu Ningsih pada peluncuran Ceremony of New Concept Joglo Patheya – Legendary Javanese Cuisines di Kemang Utara Raya No 22, Jakarta Selatan (Rabu 8/4/15).

Menurut perempuan yang biasa disapa Yayuk ini kedepannya tidak menutup kemungkinan selain menu Jawa, restorannya juga akan memperkenalkan menu Betawi, Maluku, dan lain sebagainya.

Yayuk yang juga ibu dari musisi Anto Hoed (suami dari pencipta lagu, Melly Goeslaw) ini mengatakan, “Dengan konsep baru restoran kami ini menjadi rumah budaya yang memadukan konsep budaya dan masakan Nusantara”.

Pada kesempatan yang sama Manager J-Path, Ary Laksono, menjelaskan, “Kami memiliki fasilitas Joglo yang melambangkan kemegahan adat rumah Jawa guna mendukung suasana makan para pelanggan dengan diiringi gending Jawa secara live”.

Selain musik tradisional, menurutnya J-Path juga menampilkan hiburan musik moderen untuk memenuhi pelanggan.

Fasilitas rumah Joglo, kolam renang, ruang karaoke, ruang seminar, ruang meeting dengan berbagai ukuran, bahkan kamar pengantin membuat J-Path sangat cocok untuk acara makan bersama keluarga, rapat, maupun acara pesta, baik pesta perkawinan, ulang tahun, barbeque party maupun private party lainnya.

Di sini juga disediakan ruang library yang bisa dijadikan alternatif bagi pelanggan untuk bersantai sambil membaca buku pengetahuan yang tersedia.

Namun yang menjadi salah satu keunikan J-Path, yakni menyajikan masakan yang disukai raja-raja Keraton Jawa dengan cita rasa tinggi

Masakan dikemas seperti aslinya dan disajikan sesuai dengan selera daerah asal, misalnya Bebek Suwar Suwir, Sego Gamblang, Sego Blawong, Sego Golong, Bistik Edan, Lombok Kethok, Garang Asem, Rondho Royal, Prawan Kenes, juga aneka kudapan ringan antara lain Lupis, Serabi, Cenil, Talam Pelangi, Manuk Nom, dan aneka Getuk.

Rahayu Ningsih saat menyajikan snack Tempe Medoan dan Lunpia Semarang. (Foto evi)
Rahayu Ningsih saat menyajikan snack Tempe Mendoan dan Lunpia Semarang. (Foto evi)

“Makanan yang disajikan ini mempunyai filosofi, seperti Bistik Edan merupakan salah satu makanan favorit Sultan Hamengku Buwono VIII. Disebut edan karena pada saat Sultan menyantapnya, rasa pedasnya yang begitu terasa,” ungkap Yayuk.

Karena itulah menurutnya Sultan berkata “edan pedasnya” sehingga terkenal dengan sebutan Bistik Edan. “Memang pada zaman dahulu, kualitas cabai berbeda dengan zaman sekarang,” ujarnya lebih lanjut.

Sedangkan menu Sego Golong, menurut Yayuk mempunyai filosofi pada masa KGPAA Mangkunegoro I (Pangeran Sabernyawa) dari Pura Mangkunegaraan.

“Menu ini menjadi menu favorit beliau. Sego Golong itu nasi yang dikepal dan dibulat-bulatkan. Disajikan di desa-desa di mana beliau singgah untuk memimpin perang gerilya, dengan makna agar rakyat selalu golong atau bersatu melawan penjajah,” tuturnya.

Tidak jauh dari menu masakan yang disajikan, menu kudapan Manuk Nom menjadi pilihan Bisniswisata.co.id. Kudapan ini terlihat unik, pasalnya kudapan sejenis puding yang terbuat dati tape ketan hijau dan telor ini diatasnya diberi emping.

Kudapan Manuk Nom (atas dan bawah). Foto. evi
Kudapan Manuk Nom (atas dan bawah). Foto. evi

“Manuk Nom dahulu disajikan sebagai makanan penutup pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Namun pada era Sri Sultan Hamengku VIII (1921-1939) kudapan ini disajikan sebagai hidangan pembuka,” jelas Yayuk.

Selain menyajikan aneka makanan, di sini pun tersedia minuman tradisional dengan bumbu rempah asli daerah. Minumannya antara lain Bir Jawa, Royal Secang, Angsle, Beras Kencur, Wedang Rondhe dan Es Puter dengan topping ketan hitam.

“Bir Jawa merupakan warisan kuliner khas Yogyakarta yang dikreasikan Sri Sultan HB VIII yang hampir hilang. Minuman ini dikenal karena selain menyehatkan juga menghangatkan badan, tidak memabukkan karena tidak mengandung alkohol,” tambah Yayuk. (evi)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.