Puluhan Surfer Menari di Atas Ombak Pulau Merah

0
1229

BANYUWANGI, test.test.bisniswisata.co.id,- PULUHAN surfer dari 20 negara sejak Jumat (25/9) siang riang menari di atas alun gelombang Pulau Merah, Kec. Pesangaran, Banyuwangi serangkaian Red Island Banyuwangi International Surfing Competation. Event yang sedianya dihadiri Menpora RI, berlangsung sampai Minggu 27 September.
Event tahun ke empat ini diikuti puluhan surfer asing dari 20 negara, antara lain berasal dari Austria, Venezuela, Swiss, Jerman, Amerika Serikat, Korea, Hungaria, Prancis, Thailand dan Indonesia. Mereka adu piawai dalam kategori open (intermediate) international, national, expat (fun surf), long board, paddle race dan grommet (kecebong) di bawah 10 tahun.
Pulau Merah, yang terletak di Kecamatan Pesanggaran, dikenali sebagai destinasi pariwisata pantai khususnya olahraga selancar dengan panjang bibir pantai mencapai 400 meter. Kawasan yang muasalnya desa nelayan pasca tsunami 1994 beralih menjadi destinasi surfing melalui kehadiran pesurfer.Point surfing Red Island ini telah ditemukan kalangan pesurfer tahun 1970 an, namun dijadikan destinasi ‘’tersembunyi’’ bagi masyarakat umum.
‘’Mulai menggeliat tahun 2008, dengan makin meningkatkannya intensitas kehadiran surfer, grup kecil sampai penyelenggaraan event. Kami pun mulai mengembangkan usaha dari asongan minuman dan makanan ringan, jasa membakar ikan. Serius ditata mulai tahun 2010, ‘’ ungkap Henang Setyo pengelola Café Ndeso, Pulau Merah.
Pantai Pulau Merah salah satu bentang pantai di wilayah Banyuwangi yang berdekatan dengan destinasi surfing G- Land, menurut Michael Purtscher memiliki karakter tersendiri, tidak bisa dibandingkan dengan destinasi surfing lainnya di Indonesia. Setiap point saling melengkapi dan mengayakan dunia surfing.

Bukan Menang dan Kalah
Surfing menurut pegiat surfing Pipink yang juga pemilik media Magic Wave, dapat dijadikan alat membentukan karakter dan bagi surfer, surfing mampu memberikan ketenangan, kenyamanan, kebersamaan bukan sekadar urusan menang dan kalah. ‘’Surfing dapat mengajarkan kita menikmati kekalahan itu sendri, ‘’ jelasnya.

Jpeg
Jpeg

Gaya mengelola kekalahan itu pula yang digunakannya untuk mengelola pelaksanaan event Red Island Banyuwangi Surfing Competation. Penyelenggaraan tahun 2015 ini merupakan event ketiga yang dikelola. Menurut Pipink, event pertama diselenggarakan kolega surfer Banyuwangi Roby Hendra. Memasuki masa surfing tahun 2013, Agus Lee meminta pihak manajemen Magic Wave melanjutkan perjuangan Roby Hendra menyelenggarakan kompetisi tersebut.
Bekerjasama dengan Pemkab Banyuwangi, Magic Wave menyelenggarakan Red Island Banyuwangi Surfing Competation, tahun 2013 berhadiah total Rp 50 juta. Event ke dua – ketiga bagi Pemkab Banyuwangi—tahun 2014 memperebutkan total hadiah Rp 70 juta. ‘’Tahun ke tiga ini total hadiah Rp 100 juta,’’ jelas Pipink.
Selaku pegiat surfing, Pipink berharap event ini tidak hanya bermanfaat bagi pelaku olahraga. Tetapi ikut mengembangkan industri terkait olah raga surfing, jasa pendukung seperti surf guide, photography, sekolah surfing.
‘’Ini adalah bagian dari kekayaan Nusantara kita bersama, butuh dukungan anak pantai se nusantara, membangun fenomena menjadi tuan rumah di negeri maritime Indonesia,’’ ungkap Pinpink yang sedang merancang seri festival surfing se Nusantara dari Aceh sampai Papua. (dwi: [email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.