Program Go Digital Kemenpar Segera Diadopsi UNWTO

0
451

Muh. Noer Sadono, Staf Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media tengah presentasi. ( Foto: Hilda Ansariah Sabri).

JOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Program Go Digital yang diluncurkan Kementrian Pariwisata untuk mencapai target kunjungan 20 juta wisman pada 2019 telah menjadi program percontohan bagi organisasi pariwisata dunia.

“United Nation World Tourism Organization ( UNWTO) yang menjadi PBB nya pariwisata dunia telah meminta Menteri Pariwisata Arief Yahya untuk mempresentasikan program Go Digital itu di markas besarnya dan akan diaplikasikan oleh negara-negara anggotanya,” kata Muh. Noer Sadono, Staf Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media, hari ini (⅘).

Berbicara pada Workshop Sosialisasi Kebijakan Kemenpar bagi Jurnalis Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang) serta dari Magelang di Hotel Sheraton Mustika, Jogjakarta, Sadono mengatakan program Kemenpar yang tengah di sosialisasikan ke media maupun ke level dunia ( UNWTO) temanya adalah Go Digital, Homestay, dan Aksesibilitas.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Biro Hukum dan Komunikasi Publik, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini dibuka oleh M. Iqbal Alamsyah, Kabiro Humas yang melibatkan sedikitnya 50 wartawan dari Joglosemar plus Magelang dan 4 wartawan dari Jakarta.

Tampil sebagai nara sumber lainnya adalah Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara, Bupati Sleman H.Sri Purnomo, Ketua bidang SDM ASITA Provinsi DIY Heri Rudiyanto dan Dirut Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (TWC) Edi Setijono.

Menurut Sadono, perhatian dunia pada kebijakan pengembangan pariwisata Indonesia karena terbukti peringkat di berbagai kompetisi dunia meningkat dan dicapai dengan konsep Pentahelix yang mengolaborasikan lima unsur yaitu Academician, Business, Community, Government & Media ( ABCGM).

Lewat program Pentahelix ini Menpar Arief Yahya, memfasilitasi semua industri pariwisata masuk ke satu marketplace digital bernama Indonesian Exchange ( ITX) tempat bertemu pelaku bisnis pariwisata dalam memasarkan produk secara online.

“ ITX inilah yang mendukung pelaku pariwisata Indonesia GO DIGITAL dengan meningkatkan customer experience secara comprehensive dan cost effective,” kata Sadono.

Ekosistem bisnis pariwisata

Dia menambahkan bahwa Menpar Arief Yahya juga menerapkan Paradox Marketing Concept yang fokus pada bisnis ekosistem pariwisata melalui media digital. Semua unsur diberdayakan sehingga jika menggelar eventpun harus tercipta ekosistem bisnis pariwisata.

“ Tahun-tahun sebelumnya Indonesia sudah menggelar Sail Sabang namun untuk tahun 2017 ini pak Arief Yahya minta harus tercipta bisnis dari event yang rutenya adalah dari Ragatta Phuket-Langkawi-Sabang. Jadi kalangan industri wisata diminta untuk membuat paket-paket wisata libatkan tiga negara” kata Sadono.

Dengan demikian di setiap destinasi harus tercipta ekosistem bisnis pariwisata sehingga bisa dipromosikan dengan baik dan wisatawan mancanegara ingin datang ke Indonesia. Setelah wisatawan itu datang dan membeli produk maka si wisman itupun menjadi double agent baik sebagai buyer maupun juga seller.

“ Turis datang kan dia membeli produk ( buyer) dan ketika berwisata di Indonesia dia menjadi seller ( penjual). Turis itu melalui akun-akun media sosial akan mengunggah  foto-foto dan informasi keindahan panorama Indonesia sehingga secara tidak langsung dia ‘menjual’ Indonesia ke pasar dunia,”

Setelah terbentuk ekosistem bisnis pariwisata maka peran Pentahelix terutama kalangan media agar dapat berkontribusi untuk mengolah berita-berita negatif menjadi berita positif agar ekosistem bisnis pariwisata terjaga kelangsungan hidupnya.

“Sebagai contoh ketika ada turis Singapura di gigit komodo maka pemberitaannya tetap sesuai fakta tapi yang ditonjolkan adalah turis itu memotret komodo di habitatnya tanpa sepengetahuan ranger,”

Jadi, ujarnya jika pers mampu mengungkapkan fakta sebab-akibat maka pemberitaannya tidak negatif karena pembaca akan menyadari kecerobohan yang bisa mencoreng pariwisata Indonesia, tambahnya.

Kegiatan workshop Pers Joglosemar ini antara lain sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan peran serta jurnalis dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat tentang kebijakan dan program pemerintah di bidang pariwisata dan mengolah berita dengan positif.

Sadono menjelaskan Top 3 Program Kemenpar 2017; digital tourism, homestay desa wisata, dan aksesibilitas udara yang diterapkan tahun ini tengah digenjot terutama untuk koneksi udara karena untuk mencapai target kunjungan 20 juta Wisman di 2019, kapasitas tempat duduk penerbangan masih kurang 4 juta dan tahun ini kekurangannya tinggal 2 juta seat ( kursi).

Untuk menenuhi kebutuhan akomodasi wisman di tahun 2019 itu solusinya adalah meningkatkan jumlah homestay terutama di 10 destinasi wisata unggulan karena untuk membangun hotel agar mampu menampung 20 juta wisman dalam tiga tahun ke depan tidak mudah.

Diakhir presentasinya, pria yang akrab dipanggil Don ini memberikan laporan The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum menyebutkan, pariwisata Indonesia kini berada di ranking 42 dunia atau naik 8 peringkat dari posisi tahun 2015 yang lalu di ranking 50 dunia.

“Sementara itu Malaysia turun 2 peringkat di posisi 26, Singapura juga turun 2 peringkat dan Thailand naik hanya 1 peringkat di ranking 34. Itulah sebabnya program Go Digital Indonesia kini menjadi incaran dunia untuk di duplikasi,” tandasnya. ( Hilda Ansariah Sabri)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here