Potensi Wisata Daerah Tertinggal Tak Ingin Tertinggal Daerah Lain

0
1401
Raja Ampat Papua yang mendunia

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Kementrian Desa, PDT dan Transmigrasi terus mendorong potensi wisata di daerah tertinggal agar tidak tertinggal dengan daerah lain. Pemerintah juga berupaya mendorong kemajuan pariwisata daerah tertinggal untuk meningkatkan penerimaan devisa negara.

“Kita harapkan melalui pengembangan pariwisata, mampu mengatasi masalah-masalah mendasar pembangunan daerah dari penerimaan devisa atau pendapatan daerahnya,” kata Direktur Pengembangan Sumber Daya Dan Lingkungan Hidup, Kemendesa, PDT dan Transmigrasi, Faizul Ishom di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Diakuinya, pariwisata menjadi salah satu primadona bagi negara-negara untuk meningkatkan sumber pendapatannya diluar dari migas dan pajak. “Tak terkecuali bagi Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan potensi pariwisata daerahnya yang besar hingga ke daerah-daerah yang masih tertinggal,” ujarnya.

Karena itu, sambung dia, daerah tertinggal cukup potensial untuk menarik minat wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia. Pemerintah melalui Badan Promosi Pariwisata Indonesia memiliki program guna meningkatkan potensi pariwisata di daerah tertinggal, yaitu green tourism, creative tourism, dan low season tourism.

“Kita akan menarik kunjungan wisatawan mancanegara ke daerah tertinggal. Destinasi pariwisata yang banyak dipilih adalah laut. Nah, kami melihat, di Indonesia Timur sangat berpotensi karena ada banyak destinasi wisata bahari yang dapat ditawarkan, bahkan bisa menjadi ikon wisata nasional,” kata Faizul.

Dia menyebutkan, destinasi pariwisata seperti Raja Ampat, Pulau Alor, dan Pulau Ora di Maluku Tengah bisa dijadikan ikon wisata. Selain itu, kawasan Indonesia timur NTB, NTT serta Maluku Utara sebagian besar masih masuk kategori daerah tertinggal. Padahal, kata dia, kawasan tersebut memiliki potensi pariwisata luar biasa yang dapat dikembangkan untuk mendongkrak perekonomian setempat

Asosiasi Pelaku Pariwisata Asep Anjasmara menambahkan pengembangan pariwisata di daerah terbentur permasalahan infrastruktur yang belum memadai. Juga lemahnnya daerah untuk melakukan promosi, publikasi agar menjadi daya tarik wisatawan agar datang.

“Seharusnya pemerintah daerah dapat memanfaatkan agen travel, asosiasi terkait, pemandu wisata freelance, terutama memberdayakan masyarakat lokal untuk pengembangan pariwisatanya. Nah ini yang belum dilakukan, memang terkesan daerah ingin jalan sendiri melakukan promosi. Ternyata hasil yang dilakukan tidak tepat sasaran,” paparnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang semester I jumlah wisatawan atau turis asing yang berkunjung ke Indonesia mencapai 4,65 juta orang atau naik 2,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 4,55 juta orang. Dengan demikian, capaian tersebut baru memenuhi 44,7 persen target jumlah kunjungan turis asing yang ditetapkan pemerintah tahun ini sebanyak 10,5 juta orang. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here